Nikmatnya Kopi Jahe, Pengusir Dingin Asli Betawi yang Sudah Ada Sejak Abad ke-18
Kopi Jahe Betawi ternyata memiliki perjalanan yang panjang sebelum menjadi sajian khas di rumah untuk menemani waktu bersantai. Dulunya, minuman ini dekat dengan warga di jalur rempah kawasan Kali Angke hingga Sungai Cisadane abad ke-18.
Kopi jahe merupakan minuman tradisional khas masyarakat Betawi di sekitar Kota Jakarta. Minuman ini sangat nikmat disajikan, terutama saat malam hari untuk mengusir hawa dingin. Cita rasa manis, segar dan hangat begitu menyatu di lidah. Belum lagi saat bercampur dengan kuatnya unsur kopi, membuat siapapun yang menikmatinya akan ketagihan.
Berdasarkan sejarahnya, Kopi Jahe Betawi ternyata memiliki perjalanan yang panjang sebelum menjadi sajian khas di rumah untuk menemani waktu bersantai. Dulunya, minuman ini dekat dengan warga di jalur rempah kawasan Kali Angke hingga Sungai Cisadane abad ke-18.
Karena perputaran hasil bumi cukup tinggi, masyarakat setempat sempat menjadikan minuman tersebut sebagai pelengkap acara hajatan khususnya peringatan hari keagamaan.
Berawal dari Percampuran Budaya Barat dan Timur
©2022 Pixabay/Merdeka.com
Karena kuatnya percampuran budaya Betawi dengan bangsa Barat (penjajah) dan Timur Tengah (pedagang), ketika itu, melahirkan sejumlah tradisi di jalur rempah salah satunya meminum kopi.
Kopi yang saat itu sudah melekat di bangsa Portugis serta Arab, diadaptasi dan disertakan di setiap kegiatan sehari-hari warga Betawi seperti Maulidan, Mikrajan, Khatam Alquran, Khitanan hingga Pernikahan.
Menariknya, masyarakat Betawi mencoba mengubah kultur tradisi meminum kopi dengan menambahkan cita rasa rempah lokal yang kuat, salah satunya jahe agar tidak terasa pahit.
“Status Kopi Jahe pada waktu itu tergolong istimewa karena hanya disajikan pada acara-acara tertentu,” kata penulis Jurnal Hospitaliti & Pariwisata berjudul ‘Identifikasi Potensi Kopi Jahe Sebagai Oleh-Oleh Khas Betawi’ Heni Pridia Rukmini Sari, mengutip laman Kemdikbud, Minggu (14/8).
Biasa Disajikan Pada Malam Hari
Dalam tradisi sehari-hari, warga Betawi biasa menyebut Kopi Jahe sebagai minuman Zanzabil, sedangkan kata ”kopi” disebut dengan nama Gahwa. Penyebutan itu konon terkait dengan percampuran budaya meminum kopi antara Barat dan Timur yang sempat melekat.
Untuk kalangan Betawi keturunan Arab Pekojan, kopi jahe biasa menjadi teman bersantap nasi kebuli. Selain itu, masyarakat di sana juga menyajikannya saat berlangsung kegiatan pada malam hari. Ini dimaksudkan untuk mengusir hawa dingin, melalui kandungan rempah seperti jahe merah, cengkih, kapulaga, kayumanis, dan daun pandan.
Sementara itu, dalam satu cangkir hangat kopi jahe turut dimaknai secara mendalam oleh masyarakat Betawi. Menurut tokoh kebudayaan Betawi, Cucu Sulaicha dalam tulisan berjudul ‘Kopi Jahe, Minuman Khas Betawi’ tersirat makna kebersamaan dan keterbukaan dari para warga yang berkumpul dalam acara-acara hajat yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Dalam proses pembuatannya, kopi akan dicampurkan dengan jahe serta rempah yang digeprek yang kemudian bisa ditambahkan gula maupun susu kental manis agar semakin nikmat.
“Dalam proses penyajian, kopi jahe akan dicampur dengan susu kental manis dan gula pasir (opsional). Waktu penyajian kopi jahe yang paling tepat adalah sore dan malam hari,” katanya.