LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JABAR

Punya Dialek Khas, Ini Alasan Cirebon Tak Memakai Bahasa Sunda

Sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat, daerah Cirebon memiliki bahasa yang unik dan berbeda dari kebanyakan kota yang berbahasa Sunda di sana. Hal ini membuat masyarakat cenderung mengidentifikasi kota udang tersebut sebagai kawasan dengan corak komunikasi yang mirip dengan bahasa Jawa.

2021-08-31 10:00:00
Jabar
Advertisement

Sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat, daerah Cirebon memiliki bahasa yang unik dan berbeda dari kebanyakan kota yang bertutur Sunda di sana. Sehingga masyarakat cenderung mengidentifikasi kota udang tersebut sebagai kawasan dengan corak komunikasi yang mirip dengan bahasa Jawa.

Hal ini tidaklah salah, mengingat di wilayah pesisir Jawa Barat hingga kawasan Indramayu perbatasan Kabupaten Subang kebanyakan masyarakatnya menggunakan penyebutan yang tak jauh berbeda (sebagian besar menyebut Jawa Cirebon), kendati berada di Provinsi Jawa Barat.

Dari sini kemudian bahasa Cirebon bisa diartikan sebagai penggunaan bahasa yang tidak memakai kosakata serta dialek bahasa ibu di sana yakni Sunda.

Advertisement

"Secara historis perkembangan bahasa daerah di Cirebon dan Indramayu berada di persimpangan, yakni kehidupan bahasa Sunda dan kehidupan bahasa Jawa. Dalam pertumbuhannya terjadi saling memengaruhi di antara keduanya, lahirlah bahasa di daerah Cirebon dan Indramayu," tulis Yayat Sudaryat dalam Buku Bahasa Daerah di Wilayah Cirebon (2009), melansir jurnal UPI (30/8).

Perdagangan dan Pengaruh Mataram Islam

Advertisement

Foto Kota Cirebon dari ketinggian

Cirebonkota.go.id ©2020 Merdeka.com

Jika dilihat dari penggunaan sehari-harinya, bahasa Jawa dan bahasa Cirebon sebenarnya memiliki kekerabatan yang cukup dekat. Hal ini terlihat dari banyaknya kosakata acuan yang sama.

Dalam sebuah artikel di itbu.ac.id, disebutkan jika bahasa Cirebon memiliki sejumlah bentuk bahasa Jawa Lawas. Hal itu terlihat dari beberapa kalimat yang familiar disebut oleh masyarakat di wilayah Pantura Jawa Barat tersebut misalnya ingsun (saya) dan sira (kamu) yang sudah tak dipergunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.

Hal tersebut turut ditegaskan oleh Profesor Rasto yang merupakan warga asli Indramayu, Jawa Barat dalam uraiannya di acara Diskusi Sejarah Historia dengan topik “Indramayu: Ikut Jawa atau Sunda?”, melansir dari laman Klikanggaran.

Di sana ia menyebutkan, berdasarkan pendekatan Sosiologi dan Antropologi jika masyarakat Indramayu (dan Cirebon) menggunakan bahasa sehari-hari Jawa Indramayu yang berbeda dari Sunda. Hal ini berkaitan dengan irisan dua budaya dengan Mataram Islam. 

"Budaya Sunda itu irisannya sangat kecil, sedangkan irisan besarnya terletak di budaya Jawa. Pendek kata budaya Jawa lebih kental digunakan dalam kehidupan sehari-hari daripada budaya Sunda lewat benang merah hubungan Indramayu dengan Mataram Islam di Jawa," kata Rasto.

Selain itu, posisi Pantura Jawa Barat (Cirebon) yang pernah menjadi pusat perdagangan di masa lalu turut memperkukuh adanya percampuran bahasa Jawa dalam komunikasi kalangan masyarakat di sana. Hal ini merujuk banyaknya kerja sama perdagangan dengan orang Jawa.

Penyelamat Warga di Zaman Perang

Melansir dari Liputan6.com, Budayawan Cirebon Nurdin M Noer Almarhum pernah menjelaskan jika bahasa Cirebon sempat digunakan di masa pemberontakan DI TII di Jawa Barat tahun 1962 hingga 1970.

Nurdin mengatakan bahwa saat itu terdapat anggota DI TII yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Anggota DI TII tersebut menggunakan dialek Cirebon sehari-hari untuk membedakan antara Anggota DI TII dengan masyarakat Cirebon yang tidak terlibat pemberontakan.

Dari situ menginspirasi salah seorang tokoh Cirebon untuk membuat inisiatif mengembangkan bahasa Cirebon menjadi bahasa Bebasan yang mirip dengan bahasa Jawa dan disebarluaskan kepada masyarakat Cirebon agar tidak ada salah paham.

Diadopsi dari Bahasa Sansekerta

Di kesempatan itu, tokoh yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon tersebut mengatakan jika sekitar 80 persen bahasa Cirebon merupakan serapan bahasa Sanskerta. Para ahli bahasa menyebutkan bahasa Cirebon sebagai sanskerta kontemporer.

"Contoh ingsun, sira, cemera, kirik yang bahasa Jawa-nya asu (anjing) dan kini menjadi bahasa sehari-hari orang Cirebon. Kemudian kita yang merujuk ke arti saya kalau dalam Indonesia kata kita itu merujuk ke lebih dari satu orang," jelas Nurdin.

Ia menambahkan, sebelumnya, bahasa Cirebon tidak dipengaruhi oleh bahasa Jawa pada masa Amangkurat ke-2 (cenderung ke bahasa Sunda sesuai adat di Keraton). Namun seiring waktu keadan tersebut berubah, hingga bahasa Sanskerta menjadi dialek yang digunakan untuk percakapan sehari-hari masyarakat Cirebon.

"Setelah ditelusuri ternyata bibitnya bahasa Cirebon memang dari sanskerta. Dulu waktu saya masih Sekolah Rakyat sampai kelas 3, bahasa pengantarnya Jawa Cirebon. Bahkan, dulu di Cirebon sempat ada sekolah Jawa dan Sunda namanya," ungkap Nurdin.

(mdk/nrd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.