LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JABAR

Menilik Uniknya Ngadulag, Tradisi Bedug Sunda yang Hanya Ada saat Ramadan & Syawalan

Tradisi ngadulag sendiri biasanya dilakukan dengan memukul bedug di masjid-masjid, termasuk mengarak bedug berkeliling kampung saat malam bulan suci dan malam takbiran.

2021-05-12 07:07:00
Jabar
Advertisement

Momen datangnya bulan suci Ramadan hingga hari raya Idulfitri selalu dinanti oleh segenap masyarakat muslim Indonesia, termasuk di Jawa Barat.

Beragam tradisi lokal pun kerap dilakukan, salah satunya ngadulag. Tradisi tersebut populer di beberapa wilayah Jabar seperti Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sukabumi, hingga sebagian wilayah Banten.

Tradisi ngadulag sendiri biasanya dilakukan dengan memukul bedug di masjid-masjid, termasuk mengarak bedug berkeliling kampung saat malam bulan suci dan malam takbiran.

Advertisement

Menariknya, para penabuh yang rata-rata pemuda itu akan membunyikan dulag dengan pola tertentu yang sarat akan pesan kebaikan.

Seperti apa keunikannya? Berikut informasinya yang merdeka kutip dari berbagai sumber.

Advertisement

Menjadi Seni Khas Masing-Masing Desa

©2020 Liputan6.com/Herman Zakharia

Seperti dikutip dari odesa.id, ngadulag berasal dari tradisi akar rumput masyarakat desa di wilayah Jawa Barat untuk memeriahkan malam-malam bulan Ramadan.

Lambat laun, tradisi tersebut terus berkembang untuk memeriahkan malam takbiran dengan diiringi dentuman meriam karbit dari bambu yang dibunyikan oleh remaja setempat.

Suara dulag serta kohkol (kentongan bambu) selalu meramaikan suasana kampung, diiringi dentuman meriam karbit yang saling bersahut-sahutan hingga malam takbiran.

Memiliki Pesan Khusus

Tradisi ngadulag juga memiliki arti tertentu dari setiap ketukannya. R.A. Danadibrata (2006:177) dan Rachmatullah Ading Affandie atau RAF (1984:50) menyebutkan beberapa jenis penanda dalam tradisi tersebut.

Pertama, terdapat dulag kuramas, yakni pola menabuh bedug untuk memberikan tanda berkeramas. Biasanya pola tersebut akan dibunyikan pada satu hari jelang Ramadan, untuk mengajak warga setempat mensucikan diri dengan berkeramas sebelum melakukan puasa di esok hari.

Kemudian ada juga dulag jaman, di mana tanda tersebut akan dibunyikan saat masuknya waktu sahur. Biasanya sang penabuh di masjid setempat akan menabuhnya pada pukul 02.00 selama sekitar sepuluh menit.

Selama waktu itu, dulag dipukul secara perlahan-lahan, berhenti beberapa menit, kemudian dibunyikan lagi secara perlahan, kemudian berhenti lagi sampai pukul 03.00 WIB.

Dulag Taraweh, Tadarus, dan Fitri

Selanjutnya, terdapat juga dulag taraweh dan dulag tadarus, yang menandai masuknya waktu salat tarawih dan tadarus Al Quran. Terakhir adalah dulag fitrah atau dulag lilikuran, yang menandakan masuknya malem lilikuran atau hari ke 21 Ramadan hingga 1 Syawal.

Dulag ini biasanya dilakukan untuk memberikan aba-aba dimulainya masa pembayaran zakat fitrah. Danadibrata dan Rachmatullah menuliskan bahwa pola ketukan dari masing-masing ngadulag memiliki pola yang berbeda, sehingga akan menjadi ciri khas di masing-masing waktu tersebut. 

Sayangnya saat ini tradisi tersebut perlahan mulai luntur, seiring kemajuan zaman dan hadirnya pengeras suara modern. Namun di beberapa wilayah Jawa Barat, tradisi ngadulag masih tetap dilakukan dengan pola dan pesan yang sama.

(mdk/nrd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.