Mengintip Pabrik 'Lamborghini'nya Indonesia, Dijual Hanya 300 Jutaan
Inilah wujud “Lamborghini” buatan anak bangsa. Mirip dengan aslinya, harganya juga murah daripada mobil aslinya dari Italia. Tak hanya Lamborghini, deretan replika supercar lain dapat dibuat. Mulai dari Ferrari, Lamborghini Aventador, Concept, Gallardo, Porsche 911, Enzo, hingga Bugatti.
Supercar gagah ini sedang difinishing oleh para mekanik bengkel di sudut kota Bandung. Meski belum selesai menyeluruh, namun wujud aslinya sudah mulai terlihat. Mirip sekali dengan mobil keluaran pabrik Lamborghini Aventador asal Italia. Jika Lamborghini Aventador dijual dengan harga Rp 6 milyar, mobiil 'Lamborghini' asal Jalan Sipatahunan, Baleendah, Kabupaten Bandung ini dijual dengan harga hanya Rp 300 jutaan saja.
Meski fiturnya tak sebanding dengan aslinya, replika Lamborghini asal Bandung ini terlihat benar-benar sama. Mulai dari lekuk body, kaca, roda, hingga kacanya yang membuka ke atas. Replika Lamborghini ini dibuat dari mobil tua butut. Mesinnya dimanfaatkan kembali untuk membangun “Lamborghini” asal Indonesia ini.
©2021 Merdeka.com/Reival Akbar
Pemiliknya ialah Ronny Nopirman, seorang warga asli Baleendah. Pria lulusan SMK ini sangat tergila-gila dengan Supercar. Kecintaannya membawanya ke ladang perbengkelan. Tak sembarang bengkel biasa, ia membuat miniatur Supercar yang amat sangat mirip dengan aslinya.
Tak hanya replika Lamborghini, Ronny dan karyawannya mampu membuat replika Ferrari, Lamborghini Aventador, Concept, Gallardo, Porsche 911, Enzo, hingga Bugatti. Deretan nama mobil super mahal ini mampu dibuat replikanya oleh bengkel Extreme Modifikasi. Bahkan Ronny kedapatan pernah menerima pesanan speedboat dan body helikopter. Beberapa kolektor juga memesan replika kendaraan taktis Maung Pindad buatan industri pertanahan Nasional.
©2021 Merdeka.com/Reival Akbar
Replika Supercarnya kini telah menjadi bisnis yang semula sekedar hobi. Ia memulai seluk-beluk modifikasi mobil pada tahun 2001. Sempat berhenti, ia memulai kembali memodifikasi mobil pada tahun 2009. Kali ini ia menjadikannya sebuah bisnis dengan menggaet belasan warga sekitar untuk berkreasi di bengkelnya.
Bak seorang sulap, ia mampu mengubah mobil Honda bertipe Accord tahun 1982 menjadi replika Ferrari Spider. Gagah perkasa bak mobil orang kaya. Kesan replika seketika hilang saat mobil turun ke jalanan.
©2021 Merdeka.com/Reival Akbar
Proses produksi miniatur Lamborghini buatan Ronny memang tak memerlukan biaya banyak. Pasalnya, dalam merancang ia menggunakan bahan baku yang terbuat dari material bekas. Seperti mesin dan kaki-kaki mobil. Lain halnya dengan eksterior seperti tubuh mobil, lampu, kaca, hingga kelistrikan yang harus disesuaikan nampak seperti aslinya.
Konsep replika memang benar-benar dipegang oleh Ronny dan karyawannya. Ia kedapatan mengubah posisi mesin mobil yang aslinya di depan menjadi ke belakang. Hanya demi meniru mobil asli dari Ferrari Spider.
Untuk membuat replika supercar, rata-rata ia menghabiskan Rp 35 juta untuk kebutuhan bahan baku dan produksi. Namun eksperimen, teknis pembuatan, hingga finishing yang membuat harganya melambung. Meskipun masih terpaut jauh dari harga asli dari mobil yang ditiru.
©2021 Merdeka.com/Reival Akbar
Berbagai tahapan mulai dari membentuk rangka, memasang body, hingga memasang mesin, yang paling lama ialah proses finishing. Finishing menjadi proses krusial dengan berbagai tekanan. Dibutuhkan ketekunan dan ketilitian yang tinggi untuk menirunya seperti supercar asli.
Tak heran, untuk membuat satu unik miniature supercar, diperlukan waktu hingga 5 bulan. Namun jika pesanan membludak, prosesnya dapat mencapai 8 bulan hingga 1 tahun lamanya. Selain itu, kendala SDM yang terbatas juga menjadi tantangannya untuk selalu belajar. Yang kemudian diajarkan kepada karyawannya sebagai langkah memberdayakarn masyarakat
(mdk/Ibr)