Mengenal Ngarot, Tradisi 'Cari Jodoh' Lewat Pertanian ala Remaja Indramayu
Mengenal tradisi unik Ngarot yang berasal dari Desa Lelea di Kabupaten Indramayu. Tradisi tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dalam memasuki masa tanam dan juga ajang pencarian jodoh secara tradisional oleh pemuda dan pemudi warga desa setempat.
Beragamnya tradisi Indonesia banyak tergambarkan dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Tradisi yang diwariskan secara turun temurun merupakan tradisi simbolis yang harus terus dijalankan demi menghormati keberadaan nenek moyang mereka.
Hal tersebut sejalan dengan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di Desa tersebut terdapat tradisi unik yang digambarkan untuk membina pergaulan yang sehat antara kaum laki-laki dan perempuan. Tradisi tersebut bernama Ngarot.
Istilah Ngarot
indramayukab.go.id 2020 Merdeka.com
Dilansir dari Indramayukab.go.id, istilah Ngarot berasal dari bahasa Sunda yaitu 'Ngaleueut' yang berarti makan dan minum.
Tradisi Ngarot sendiri juga dikatakan sebagai ungkapan rasa syukur akan datangnya musim tanam padi. Upacara adat Ngarot selalu dilaksanakan pada bulan Desember pada minggu ke-3 dan selalu dilaksanakan pada hari Rabu karena dianggap keramat.
Diperuntukkan Khusus bagi Pemuda Pemudi
Tradisi Ngarot merupakan tradisi yang hanya boleh diikuti oleh kalangan pemuda dan pemudi warga Desa Lelea yang masih perjaka dan perawan.
Pemuda dan pemudi yang masih perjaka dan perawan merupakan simbol kesucian yang terjaga dari lahan pertanian yang akan ditanami sawah dan dapat bisa diartikan sebagai keberkahan yang diselamatkan oleh Tuhan sehingga akan menuai hasil yang maksimal.
Menjadi Ajang Pencarian Jodoh
indramayukab.go.id 2020 Merdeka.com
Tradisi Ngarot adalah upaya membangun pergaulan yang sehat melalui perkumpulan para pemuda-pemudi yang akan diberi tugas bertani dan menggarap lahan persawahan.
Dalam naskah Desa Lelea kuno, tradisi langka tersebut adalah proses penggambaran bahwa remaja putra dan putri memiliki perumpamaan sebagai lahan pertanian dan tanaman padi yang akan ditanam di sana.
Bisa disimbolkan juga dengan saling mengajarkan satu sama lain antar para pemuda dan pemudi melalui proses gotong royong untuk mengolah sawah.
Tradisi Ngarot bisa diartikan sebagai penentu keberhasilan tanaman padi yang ditanam oleh warga setempat, untuk memunculkan rasa saling hormat melalui simbolisasi antara remaja laki-laki dan perempuan, sehingga antar kedua golongan remaja tersebut bisa menjalankan aturan kehidupan yang tidak melanggar norma dan sesuai anjuran nenek moyang.
Tradisi Ngarot biasanya dijadikan ajang untuk mencari jodoh, mengingat ketika proses gotong royong dan menggarap lahan pertanian bersama baik remaja putra maupun putri akan melihat persamaan dan berujung ke jenjang yang lebih serius.
Disisi lain, tradisi tersebut juga bisa diibaratkan sebagai simbol penghormatan antara tanah yang akan ditanam oleh padi. Ketika muncul rasa saling menghormati maka hasil pertaniannya pun akan sesuai harapan.
Asal Usul Ngarot
Tradisi Ngarot sendiri pertama kali dirintis oleh Ki Buyut Kapol, seorang sesepuh Desa Lelea dan tokoh yang dikenal royal dan berpengaruh. Tokoh tersebut pada zaman dahulu dikenal secara sukarela memberikan sawah seluas 26.100 m2 sebagai wujud realisasi acara Ngarot dan dengan sangat senang masyarakat Lelea menyambutnya.
Berdasarkan ucapan orang tua, karena Ki Kapol tidak punya anak dan bukti rasa cintanya kepada pemuda desa, maka ia wakafkan sebidang tanah untuk digarap oleh para pemuda-pemudi.
Dari pada berbuat yang tidak benar maka ia mengusulkan untuk mengumpulkan anak-anak di rumahnya untuk makan-makan dan nanti diberikan perintah untuk menggarap sawah wakaf tersebut
Susunan Acara Tradisi Ngarot
1. Pembukaan
2. Pembacaan Sejarah Ngarot
3. Ucapan sambutan dari kepala desa Lelea, Indramayu
4. Proses Penyerahan kepada para kasinoman (pemuda-pemudi)
Prosesi Penyerahan Terdiri dari :
1. Kuwu (Kepala Desa) menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya benih tersebut agar ditanam dan disebar.
2. Ibu kuwu (Istri Kepala Desa) menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya adalah untuk mengobati tanaman padi yang telah ditanam sebagai lambang pengairan.
3. Tetua desa menyerahkan pupuk, maksudnya adalah agar tanaman tetap subur.
4. Raksa bumi menyerahkan alat pertanian, maksudnya adalah untuk mengolah tanah pertanian dengan baik.
5. Lebe (sebutan tokoh agama di Indramayu) menyerahkan sepotong bambu kuning, daun androing dan daun pisang yang akan di tancapkan di sawah, maksudnya adalah agar tanaman padi terhindar dari serangan hama.