LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JABAR

Mengenal Masjid Cut Meutia di Jakarta, Rumah Ibadah yang Dulunya Bekas Markas Belanda

Gaya Eropa klasik amat kental di bangunan masjid yang berlokasi di Jalan Taman Cut Meutia nomor 1 Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat ini. Masjid bernama Cut Meutia ini memang kerap mencuri perhatian masyarakat karena desain arsitekturnya yang unik dan tidak memiliki kubah.

2021-06-21 08:33:00
Jabar
Advertisement

Gaya Eropa klasik amat kental di bangunan masjid yang berlokasi di Jalan Taman Cut Meutia nomor 1 Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat ini. Masjid bernama Cut Meutia ini memang kerap mencuri perhatian masyarakat karena desain arsitekturnya yang unik dan tidak memiliki kubah.

Dilansir dari Liputan6.com, Minggu (20/6), pada masa penjajahan Belanda, masjid tersebut ternyata begitu berpengaruh. Bukan sebagai tempat ibadah, awalnya bangunan ini digunakan sebagai bangunan pemerintahan.

Selain itu, keunikan lainnya adalah pola bangunan yang berbeda dari masjid lain. Seperti, bangunan utama masjid tidak simetris dengan arah kiblat (miring 15 derajat dari dinding bangunan). Berikut cerita unik di balik Masjid Cur Meutia ini:

Advertisement

Dari Kantor Arsitek sampai Kantor Pos Belanda

©2021 Liputan6/ Merdeka.com

Advertisement

Masjid Cut Meutia merupakan salah satu bangunan kuno yang masih lestari. Meski bangunan ini sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, suasana nyaman masih diperoleh para pengunjung yang datang untuk beribadah.

Muhammad Hussein, Ketua Remaja Islam Masjid Cut Meutia mengatakan, di masa lampau bangunan ini memiliki fungsi yang vital. Salah satunya sebagai kantor biro arsitek dan kantor pos.

"Masjid ini memang dahulu sempat mengalami beberapa kali pergantian gedung, dan awalnya merupakan kantor arsitektur Belanda bernama Naamloze Vennootschap Bouwploeg di tahun 1879," ucapnya, dilansir dari laman Historia.

Dari Markas Tentara Belanda hingga Jepang

Tak hanya itu, bangunan tersebut juga pernah didaulat menjadi markas tentara Belanda hingga Jepang selama masa penjajahan. Kemudian, Masjid Cut Meutia juga pernah digunakan sebagai kantor jawatan kereta api, hingga Kantor Sekretariat MPRS dan KUA di awal kemerdekaan.

"Di sini juga dulunya bekas kantor PT KAI, lalu sempat juga dijadikan sebagai kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara di mana saat itu masih dipimpin oleh Almarhum Jenderal A.H. Nasution,” imbuh Hussein.

Setelah proses pemindahan gedung MPRS selesai di Senayan, gedung tersebut lantas dijadikan cagar budaya oleh AH Nasution. Hingga di rentang waktu berikutnya diresmikan sebagai bangunan masjid oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Sempat Hendak Dirobohkan

Atas usulan Nasution, bangunan tersebut akhirnya diselamatkan setelah hampir dihancurkan. Masjid Cut Meutia, beralih fungsi dari cagar budaya menjadi sebuah masjid di tahun 70an saat kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Pendirian masjid yang diinisiasikan oleh Gubernur Ali Sadikin itu diketahui telah disahkan, sesuai Surat bernomor SK 5184/1987 tertanggal 18 Agustus 1987.

Tak lama setelah berdiri, perkumpulan remaja masjid juga diresmikan dengan nama Remaja Islam Masjid Cut Meutia atau yang populer dengan sebutan Ricma.

Kotak Amal Isinya Uang Asing

Di sebelah barat masjid, terdapat Stasiun Gondangdia. Di sisi timur ada jalan protokol besar sebagai tempat lalu lalang. Tak heran jika masjid tersebut tetap ramai dikunjungi di masa pandemi Covid-19.

Sebagai bentuk antisipasi, Hussein bersama Ricma telah menerapkan serangkaian protokol kesehatan. Salah satunya, membatasi saf jemaah yang hendak melaksanakan salat. Kemudian juga meniadakan sejumlah kegiatan yang menimbulkan kerumunan.

Lokasi yang dekat dengan perkantoran besar ibu kota, membuat masjid ini selalu ramai dikunjungi. Saat penghitungan kotak amal tak jarang juga ditemui uang sumbangan dari sejumlah negara seperti Won (Korea) dan Ringgit (Malaysia).

(mdk/nrd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.