Mengenal Kawalu, Tradisi Penyucian Diri Suku Baduy di Banten
Bagi masyarakat suku Baduy (Baduy dalam dan luar) di wilayah Banten terdapat momen tahunan yang selalu ditunggu yaitu tradisi Kawalu. Tradisi dimana seluruh warga Baduy melaksanakan ritual puasa selama 3 bulan berturut-turut sebagai upaya penyucian diri. Tradisi Kawalu juga merupakan Bulan Sucinya warga Baduy.
Suku Baduy atau biasa disebut sebagai Urang Kanekes merupakan sebuah kelompok masyarakat adat asli Sunda yang menempati wilayah pegunungan Kendeng di Provinsi Banten. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok, yaitu adalah Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Perbedaan mendasar dari keduanya adalah dari sisi pemahaman. Bagi masyarakat Baduy Dalam teknologi merupakan sebuah pantangan. Sebaliknya masyarakat Baduy Luar kini sudah memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Suku Baduy memiliki sejumlah tradisi unik. Salah satunya adalah tradisi Kawalu atau penyucian diri. Tradisi kawalu ini biasa diikuti oleh Baduy Dalam maupun Baduy Luar dan disebut sebagai Bulan Sucinya Suku Baduy.
Menjalankan Puasa Selama Tiga Bulan
2014 Merdeka.com/Arie Basuki
Dilansir dari ugm.ac.id, tradisi Kawalu merupakan upaya menjalankan penyucian diri dengan melakukan puasa selama tiga bulan penuh dalam satu tahun sesuai penanggalan Suku Baduy. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Kasa, Karo, dan Katiga.
Selain menjalankan puasa, tradisi Kawalu juga dilakukan dengan melakukan permohonan doa agar diberikan keberkahan hidup, keselamatan semesta, dan menambah rasa syukur. Tradisi ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat adat Baduy Dalam di Desa Cibeo, Desa Cikawartana, dan Desa Cikeusik.
Tata Cara Puasa Kawalu
2014 Merdeka.com/Arie Basuki
Dikutip dari Antara, ritual berpuasa ala masyarakat Baduy dalam Kawalu jelas berbeda dengan puasa Ramadan yang biasa dijalankan oleh umat muslim. Salah satu syarat yang dijalankan dalam melaksanakan puasa Kawalu adalah tidak diperbolehkan makan setelah pukul 00:00 WIB dan berbuka puasa pada pukul 17:30 WIB.
Salah satu yang selalu ditunggu-tunggu adalah momen memasak yang dilakukan oleh ibu-ibu dan keluarga Baduy pada sore harinya.
Selain itu, terdapat ritual khusus yang wajib dijalankan yakni dengan memakan daun sirih sebagai tanda berbuka puasa. Salah seorang warga Baduy bernama Reksan menjelaskan jika sebelum diperbolehkan untuk makan dan minum warga sini wajib memakan daun sirih dan gambir.
“Kami memperbolehkan untuk makan dan minum (berbuka puasa), setelah terlebih dahulu memakan daun sirih dan gambir”. Kata Reksan pada Antara.
Syarat Puasa Kawalu
2014 Merdeka.com/Arie Basuki
Sementara itu Santa, yang juga merupakan warga Baduy Dalam menjelaskan jika masyarakat yang wajib melaksanakan tradisi Kawalu adalah bagi mereka yang berusia 15 tahun ke atas alias sudah baligh dan sudah dikhitan.
Membuat Badan Kuat
REUTERS/Beawiharta
Menurut Santa, keutamaan dari melaksanakan tradisi Kawalu atau Puasa Baduy ini adalah bisa menyucikan diri dari perbuatan yang melanggar. Selain itu ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Baduy secara keseluruhan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dan lebih lanjut menurut Santa, tradisi Kawalu ini membuat badannya dan keluarga menjadi sehat serta kuat, walaupun sedang dalam keadaan kurang baik.
“Kami sejak turun temurun selalu melaksanakan tradisi Puasa Kawalu sejak bulan satu hingga bulan tiga secara teratur,” kata Santa.
Melarang Pengunjung untuk Datang
2014 Merdeka.com/Arie Basuki
Dalam pelaksanaan Kawalu, masyarakat suku Baduy juga tidak memperbolehkan masyarakat luar untuk masuk dan berkunjung. Baik turis lokal ataupun mancanegara, pejabat daerah, dan pejabat negara tidak boleh memasuki wilayah Baduy Dalam.
Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat Baduy yang menjalankan puasa Kawalu bisa melaksanakan tradisi turun termurun tersebut secara lancar dan tidak terganggu.