Kisah Pilu Nenek 73 Tahun Tunggu Giliran Haji, Nabung Hasil Jualan Keripik
Seorang nenek di Kabupaten Garut, Jawa Barat masih harus bersabar menunggu keberangkatannya ke Mekkah untuk haji hingga tahun 2028 mendatang. Ia mengaku sedih lantaran usianya sudah semakin tua.
Seorang nenek di Kabupaten Garut, Jawa Barat masih harus bersabar menunggu keberangkatannya ke Mekkah untuk haji hingga tahun 2028 mendatang. Ia mengaku sedih lantaran usianya sudah semakin tua. Sebelumnya, nenek bernama Nurhayati ini sudah menabung bertahun-tahun dari hasil jualan keripik.
Ia mencurahkan kesedihannya beberapa waktu lalu saat ditemui di kediamannya di Perum Pepabri, Kecamatan Tarogong Kaler. Nurhayati melakukan pendaftaran haji pada tahun 2017 lalu bersama satu orang anaknya.
Menurut keterangan dari petugas haji, Nurhayati akan berangkat 11 tahun kemudian setelah pendaftaran. Namun nyatanya ia masih harus menunggu sampai tahun 2031.
“Untuk menunggu ini terlalu lama karena usia saya sudah begini,” kata Nurhayati, dikutip dari kanal YouTube Liputan6 SCTV, Selasa (16/5).
Keberangkatan Kembali Tertunda
Kisah Pilu Nenek 73 Tahun Tunggu Giliran Haji, Nabung Hasil Jualan Keripik ©2023 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
Belakangan kesedihannya bertambah karena ternyata jadwal keberangkatannya semakin mundur. Informasi ini ia dapatkan setelah mengecek data calon haji dari aplikasi Haji Pintar. Di sana, Nurhayati bersama sang anak ternyata harus berangkat di tahun 2031, yang artinya ia menunggu selama 8 tahun dari sekarang.
Ia berharap agar fisiknya tetap sehat di hari keberangkatannya nanti. Nurhayati khawatir jika saatnya tiba, namun fisiknya sudah tidak kuat sehingga akan merepotkan orang lain.
“Waktu itu kata petugasnya harus nunggu 11 tahun, kalau keinginan mah segera karena badannya masih agak kuat sedikit, biar nggak ngerepotin orang,” terang Nurhayati.
Semangat Jualan Keripik untuk Biaya Haji
Biaya haji yang meningkat saat ini membuat Nurhayati lebih rajin berjualan keripik. Ia usahakan agar produksinya bisa tetap berjalan, dengan menerima pesanan bahkan sampai ke luar kota.
Membuat keripik singkong di rumahnya, Nurhayati dibantu oleh anak-anaknya mulai dari proses pemasakan sampai penjualan. Ia terus meniti harapan agar saat gilirannya tiba tubuhnya masih sanggup untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5 itu.
Saat ini, produk keripik singkongnya sudah laku terjual hingga ke kota-kota seperti Bandung, Jakarta sampai Tangerang. Dari hasil penjualan inilah yang kemudian digunakan untuk mendaftar haji.
Tapi sayangnya, Nurhayati masih harus menunggu. Penyebab lamanya keberangkatan calon haji seperti Nurhayati salah satunya karena banyaknya pendaftar yang berasal dari Indonesia. Kemudian, terdapat penyesuaian-penyesuaian dari aturan kuota.