Kisah Bupati Pertama Indramayu Arya Wiralodra, Ramal Adanya Tambang Minyak Sejak 1527
Semasa memimpin, tepatnya di tahun 1527, Wiralodra pernah meramalkan jika Padukuhan Darma Ayu (sekarang Indramayu) akan menjadi kawasan makmur lewat sumur kejayaan yang kini diyakini sebagai lokasi kilang minyak di Kecamatan Balongan.
Arya Wiralodra menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan sejarah di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dalam naskah kuno Babad Indramayu, ia disebut sebagai bupati pertama dan mendapat gelar Wiralodra ke-I.
Mengutip laman indramayukab.go.id, Selasa (22/3), mulanya wilayah utara tatar Parahyangan itu masih berupa hutan belantara yang dilintasi sungai besar bernama Cimanuk. Daerah tersebut mulai dijadikan padukuhan oleh Wiralodra hingga didatangi banyak orang.
Semasa memimpin, tepatnya di tahun 1527, Wiralodra pernah meramalkan jika Padukuhan Darma Ayu (sekarang Indramayu) akan menjadi kawasan makmur lewat sumur kejayaan yang kini diyakini sebagai lokasi kilang minyak di Kecamatan Balongan. Berikut informasi selengkapnya.
Aria Wiralodra Berasal dari Purworejo Jawa Tengah
Berdasarkan kisahnya, Arya Wiralodra merupakan putra dari seorang bupati di Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah bernama Raden Gagak Singalodraka.
Diperkuat melalui naskah babad Cirebon, Arya Wiralodra kemudian diutus untuk melakukan islamisasi di wilayah Barat, dekat sungai Cimanuk oleh Sultan Demak. Dalam versi lain, disebutkan jika ia berangkat ke wilayah barat, setelah mendapat wangsit saat bertapa selama tiga tahun di Gunung Sumbing.
“Raden Arya Wiralodra, apabila dirimu ingin berbahagia bersama keturunan mu di kemudian hari, pergilah merantau ke arah matahari terbenam dan carilah lembah sungai Cimanuk. Mana kala engkau tiba di sana, berhenti dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk mendirikan pendukuhan dan menetaplah di sana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan Makmur dan tujuh keturunanmu akan memerintah di sana,” tulis wangsit tersebut.
Pendirian Padukuhan Darma Ayu
Diuraikan dalam naskah Babad Indramayu, Wiralodra berangkat dari Banyu Urip di Bagelen untuk berjalan ke arah matahari terbenam. Ia hanya berangkat berdua, ditemani asisten bernama Ki Tinggil.
Keduanya sempat berjalan selama tiga tahun, hingga menemukan sebuah sungai berukuran besar yang kemudian diyakini sebagai Cimanuk. Sebelumnya ia dan Ki Tinggil sempat salah arah hingga harus kembali mengikuti arah matahari terbit.
Selang beberapa waktu, ia dan Ki Tinggil kembali ke Bagelen untuk melaporkan pencapaiannya mendirikan sebuah padukuhan. Namun saat ditinggal Wiralodra, dukuh tersebut didatangi seorang perempuan berparas cantik bersama pasukan-pasukan bernama Nyi Endang Dharma.
Ia sempat ikut membangun padukuhan tersebut, hingga Wiralodra kembali dan mendapati keadaan demikian. Nyi Endang Dharma dan Wiralodra pun sempat berselisih paham dan mengadu kekuatan hingga perempuan tersebut kalah dan meminta namanya dijadikan padukuhan tersebut.
Disebutkan penamaan Darma Ayu didasari ketertarikan Arya Wiralodra terhadap perempuan tersebut karena berparas ayu alias cantik.
Asal Usul Berganti Nama Menjadi Indramayu
Tidak ada sumber pasti yang menguraikan pergantian nama dari Darma Ayu menjadi Indramayu. Mengutip laman historyofcirebon, perubahan tersebut konon terjadi pada zaman Belanda. Di mana kalangan Belanda menyebut posisi mereka melalui pelafalan bahasa Barat yakni In Dramayu (kemudian dipahami jadi Indramayu)
Selain itu terdapat versi yang menyatakan istilah “Indramayu” merupakan gabungan dari gelar Arya Wiralodra (Indrawijaya) dan kata “Darma Ayu”. Versi ini menuturkan Indramayu mulanya berasal dari kata "Indra Darma Ayu", akan tetapi guna memudahkan pelafalan, maka diucapkan dan ditulis dengan “Indramayu”.
Beberapa tahun setelahnya, ia diberi mandat untuk memimpin padukuhan tersebut di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran dan Sunda Galuh. Keadaan tersebut tak berlangsung lama hingga Kerajaan Cirebon di bawah kekuasaan Sunan Gunung Jati merebut Utara Jawa Barat, termasuk Indramayu.
Meramal Akan Adanya Tambang Minyak di Masa Depan.
Makam Raden Arya Wiralodra
©2022 laman Disparbud Jabar/Merdeka.com
Usai menjadi seorang pemimpin, Arya Wiralodra kemudian menjalankan perannya dan menjadikan wilayah tersebut makmur.
Namun pada 7 Oktober 1527 masehi yang jatuh pada hari Jumat Kliwon, satu sura, 1577 tahun saka, Arya Wiralodra sempat mengungkapkan sebuah ramalan tentang keadaan Indramayu di masa yang akan datang.
“Nanging benjang Allah nyukani, karahmatan kang linuwih, harja tan ana sawiji-wiji. Pertelane yen wonten taksaka nyabrang kali Cimanuk. Sumur kejayaan deres milih. Dlupak murub tanpa patra, sedaya pan mukti malih. Somahan klayan prajurit rowang kalian priagung. Samya tentrem atine. Sedaya harja timulih ing sakehing negara rahaja,” kata Arya Wiralodra yang saat itu disebutkan sebagai akhir hayatnya.
Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, "Di kemudian hari Indramayu akan menjadi negeri yang sejahtera, tandanya akan ada ular besar yang menyebrangi sungai, kemudian akan ada sumur kejayaan yang mengalir deras dan lampu akan menyala terang tanpa minyak."
Saat ini hal itu terbukti dengan adanya pipa-pipa minyak di sungai dan sumur tambang di wilayah Balongan.