Harga Telur Terus Naik Jelang Nataru, Pedagang di Bekasi Curhat Omzet Turun Drastis
Menjelang momen Natal dan tahun baru, harga kebutuhan pokok jenis telur ayam terus mengalami kenaikan. Bahkan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, harganya sudah di atas Rp30 ribu per kilogram. Kondisi ini pun dikeluhkan oleh para pedagang lantaran membuat omzet mereka turun.
Menjelang momen Natal dan tahun baru, harga kebutuhan pokok jenis telur ayam terus mengalami kenaikan. Bahkan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, harganya sudah di atas Rp30 ribu per kilogram. Kondisi ini pun dikeluhkan oleh para pedagang lantaran membuat omzet mereka turun.
Salah satu distributor telur ayam dari PT Amalia Bintang, Al Jupri, pada Senin (5/12) mengungkapkan, naiknya harga telur ini dikarenakan meningkatnya permintaan pada momen Natal dan tahun baru ini.
"Permintaan telur ayam untuk kebutuhan masyarakat dari luar daerah semakin tinggi. Ini biasa terjadi saat menjelang hari besar keagamaan dan pergantian tahun," kata Jupri, dilansir dari ANTARA.
Kenaikan Bisa Mencapai Rp33 Ribu per Kilogram
Ilustrasi harga daging ayam dan telur ayam naik ©2018 liputan6.com
Jupri menjelaskan, kenaikan harga telur ini memang selalu terjadi setiap akhir tahun. Angkanya pun tidak bisa diprediksi lantaran terus mengalami kenaikan.
Dari informasi yang diperoleh dari rekan-rekannya di lapangan, kenaikan harga telur ayam di Kabupaten Bekasi saat ini mencapai 25 persen, dari semula Rp28.000 per kilogram, kini menjadi Rp33.000 per kilogram. Tidak menutup kemungkinan naiknya harga telur ayam akan terus berlangsung hingga pertengahan Desember 2022.
"Untuk harga eceran per kilogram itu sudah Rp32.000, tidak menutup kemungkinan tembus di angka Rp 33.000 dan seterusnya karena setiap hari terus naik," ujarnya.
Bencana gempa bumi yang terjadi di Cianjur yang merupakan salah satu daerah penghasil telur juga turut membuat harga telur ayam naik. Ini membuat distributor hanya mampu menjual separuh stoknya dari yang normal di angka 15 ton.
"Akibat gempa yang terjadi di Kabupaten Cianjur, suplai telur ayam turun drastis. Hal itu mengingat Kabupaten Cianjur sebagai salah satu daerah pemasok telur ayam," terang dia
Penjual Khawatir Omzet Terus Turun
Aksa (48), salah seorang pedagang dan pengecer telur di Kabupaten Bekasi, mengaku sangat terdampak dengan adanya kenaikan harga telur ayam dari para distributor. Tingginya harga membuat daya beli masyarakat menurun.
Ia juga merasakan adanya penurunan omzet yang signifikan, karena modal untuk berbelanja telur sangat tinggi.
"Omzet penjualan turun drastis karena harga telur yang semakin tinggi. Saya belanja ke agen untuk dijual lagi ke warung. Dari agen saja paling murah Rp30-32 ribu per kilogram, ini terasa berat, konsumen berkurang karena jadi enggan membeli," bebernya
Kondisi ini dikhawatirkan Aksa mengingat kenaikan harga diprediksi akan terus berlangsung, bahkan hingga awal tahun seperti momen Nataru yang lalu.
"Biasanya belanja modal beli telur Rp24 ribu sekilo sekarang sudah Rp30an ribu. Semoga pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga agar jualan saya kembali ramai dan daya beli masyarakat juga kembali stabil," tambahnya.
Operasi Pasar Jadi Solusi
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Gatot Purnomo menyebut jika pemerintah daerah tengah berusaha untuk mencegah kenaikan harga telur ayam, salah satunya dengan cara intervensi pasar. Hal ini juga sesuai instruksi Bupati Bekasi sebagai cara mengendalikan inflasi.
“Kami segera sidak pasar guna menstabilkan kembali harga komoditas bahan pangan yang mengalami kenaikan," terang Gatot.
Selain itu, operasi pasar murah juga menjadi langkah selanjutnya sebagai upaya untuk menekan kenaikan harga sekaligus untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Melalui operasi pasar murah nanti diharapkan daya beli masyarakat kembali stabil dan kenaikan harga bahan pangan dapat ditekan hingga normal kembali," tandasnya.