Hampir Punah, Ini Upaya BKSDA Jabar Jaga Kelangsungan Hidup Merak Hijau
BKSDA bersama Lembaga Konservasi Animal Sanctuary Trust Indonesia (ASTI) Bogor melepaskan tiga burung merak. Satu ekor berjenis kelamin jantan dan dua lagi betina, berumur tujuh tahun. Upaya pelepasan tersebut merupakan upaya untuk menjaga kelestarian dari Burung Merak Hijau yang semakin berkurang.
Dalam rangka melestarikan kelangsungan Pavo Muticus atau Merak Hijau, Jumat (6/11) lalu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar Wilayah I Serang berhasil melepasliarkan tiga ekor di Pulau Handeuleum, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Upaya melepaskan ketiga ekor merak hijau tersebut menyusul adanya beberapa warga Bogor yang menyerahkan ketiga hewan unik dan langka tersebut.
“BKSDA bersama Lembaga Konservasi Animal Sanctuary Trust Indonesia (ASTI) Bogor melepaskan tiga burung merak, satu ekor berjenis kelamin jantan dan dua lagi betina, berumur tujuh tahun,” kata Kepala Seksi (Kasie) BKSDA Jabar Wilayah I Serang, Andre Ginson melansir dari Liputan6.
Mengupayakan Agar Hidup Layak
©2020 Liputan6/Editorial Merdeka.com
Andre mengungkapkan jika upaya tersebut merupakan langkah dari BKSDA Jabar untuk menjaga kelestarian hewan langka. Menurutnya, lokasi pelepasan saat ini merupakan lokasi yang aman agar merak hijau bisa hidup sesuai habitatnya.
"Burung merak hijau yang dilepasliarkan hasil serahan warga Bogor, kemudian dititipkan dulu ke ASTI untuk dikarantina. Lama karantina burung merak hijau ini sudah dua tahun, sudah cukup lama. Itu dilakukan agar sifat asli dari hewan itu kembali, agar layak dikembalikan ke alam," jelas Andre.
Menjaga Proses Reproduksi Merak Hijau
Alasan TNUK dipilih menjadi lokasi pelepasan satwa yang dipantau oleh The Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN) atau lembaga internasional yang berfokus dalam kelestarian alam dan spesies langka tersebut, karena lokasinya yang disebut sesuai untuk perkembangbiakan merak hijau.
"Kalau pelepasliaran di TNUK ini kita sudah kedua kalinya. Kita juga lakukan keluar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan, tergantung dari mana habitat hewan tersebut," kata perwakilan ASTI, drh Amira Putri Pertiwi, Jumat (6/11/2020).
Merupakan Lokasi dengan Jumlah Pangan yang Memadai
Terkait pelepasan tersebut, Kasie Wilayah I Panaitan Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Husen menjelaskan bahwa lokasi Taman Nasional Ujung Kulon memiliki ketersediaan pangan alami yang memadai bagi merak hijau.
Pangan alami seperti biji-bijian, pucuk rumput muda, dedaunan, serangga, laba-laba, cacing, hingga kadal bisa menjaga ketahanan pangan demi kelangsungan hidup dari hewan yang memiliki warna keemasan dan panjangnya bisa mencapai 300 cm tersebut.
"Harapan kami, tentunya satwa ini bisa langsung beradaptasi dan berkembang biak dengan baik, serta bisa lestari disini (Pulau Handeuleum) untuk anak cucu kita dapat menikmati adanya burung merak di sini. Untuk daya dukung pakan saat ini Insyaallah kawasan dan habitatnya mendukung untuk keberlangsungan spesies merak hijau," terang Husein.