Digunakan untuk Berdakwah di Masa Lampau, Ini 4 Fakta Tari Topeng Khas Cirebon
Tari topeng merupakan salah satu tradisi yang berkembang di Wilayah Cirebon dan mengandung unsur dakwah bagi siapapun yang hendak menyaksikannya di masa lalu.
Indonesia merupakan negara yang kental akan nilai budaya dan tradisinya. Hampir tersebar rata di seluruh wilayahnya, negara berjuluk zamrud khatulistiwa tersebut menyimpan segudang tarian yang selalu menarik minat banyak orang.
Salah satu yang menjadi daya tarik adalah Tari Topeng Cirebon. Tari topeng merupakan kesenian khas dari wilayah Cirebon dan populer di beberapa wilayah di sekitarnya seperti, Majalengka, Indramayu hingga Brebes.
Tarian tradisional tersebut biasanya dibawakan oleh seorang penari pria (saat ini lebih banyak wanita) berjuluk “dalang” yang memainkan beberapa peran dalam setiap pola tariannya.
Dikenalkan oleh Wali Songo
Walisongo
©istimewa
Dikutip dari journal.uinsgd.ac.id, Tari Topeng Cirebon merupakan produk kesenian yang dikembangkan oleh para Wali Songo dalam menyiarkan dakwah. Awalnya, tari tersebut merupakan sisa-sisa upacara keagamaan peninggalan Hindu dan Buddha yang tersebar di pelosok-pelosok Pulau Jawa.
Mulai Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah hingga Jawa Barat, tarian tersebut berkembang sebagai kesenian rakyat yang dipergunakan sebagai pengiring ritual. Namun, di abad ke-14, para Wali Songo melalui Sunan Kalijaga memperkenalkan kesenian tersebut yang terakhir di maksimalkan oleh Sunan Gunung Djati di Wilayah Jawa Barat (Cirebon).
Simbol 5 Unsur Kehidupan
Tari topeng memiliki 5 jenis pewatakan yang selalu ditampilkan dalam setiap pertunjukannya. Kelima perwatakan tersebut, yaitu:
Topeng Panji: Watak Panji merupakan simbolisasi dari fase pertama kehidupan manusia yang masih suci ketika baru dilahirkan.
Dalam setiap penampilannya, kedok (sebutan untuk sifat tokoh topeng) tersebut selalu dilakukan dengan gerakan tari yang halus dan lembut serta iringan musik tradisional yang berirama cepat.
Selain itu, gerakannya pun nyaris tak pernah mengangkat kaki. Hanya tangan yang nampak bergerak perlahan ibaratkan proses awal ketika bayi baru belajar melakukan sesuatu.
Topeng Samba: Watak samba atau sering disebut Mindo/Mindua merupakan fase kedua kehidupan manusia di masa anak-anak. Dalam tarian tersebut, seseorang yang memainkan kedok samba melakukan gerakannya secara lincah, luwes dan lucu.
Dalam pertunjukannya, beberapa kali dalang yang memakai topeng putih juga tertawa kecil dan terkadang bercada sesuai tingkah laku anak-anak dalam penokohannya.
©2020 merdeka.com/imam buhori
Topeng Rumyang: Pada kedok berwarna merah muda, saat memainkan peran dari seorang manusia yang hidup dalam fase remaja di mana posisi mereka sudah dianggap Akhil baligh. Pada tariannya, Topeng Rumyang biasanya ditarikan oleh perempuan dewasa dengan gerakan luwes dan atratif serta sedikit “genit” untuk menarik perhatian lawan jenis.
Topeng Tumenggung: Pada fase ini, sang dalang memainkan perang seseorang yang sudah dewasa melalui simbolisasi kedok berwarna merah gelap kecokelat-cokelatan dengan hidung panjang mata bulat dan gerak tariannya kuat dan tegas.
Kedok ini menggambarkan kepribadian bertanggungjawab, rasional dan dewasa, gambaran sisi kepahlawanan seorang manusia, penuh dengan kebijaksanaan layaknya sosok prajurit yang tegas, penuh dedikasi, dan loyalitas seperti pahlawan. Biasanya dalang akan memainkan peran untuk memerangi kejahatan Jinggananom yang mengenakan kedok bodor, lucu.
Topeng Kelana: Penggambaran sosok kelana dalam riwayat Topeng Cirebon selalu digambarkan sebagai sisi gelap manusia yang jahat, keras kepala, serakah, penuh amarah dan ambisius. Warna topengnya menyerupai kemarahan yang merah menyala dan merupakan sisi buruk manusia yang tak pantas ditiru.
Dilakukan dengan Cara "Mengamen"
Pada masa awal pengenalan tari topeng di wilayah utara Jawa Barat, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga memainkan tari topeng bersama dengan berkeliling daerah-daerah untuk mengamen.
Hal unik dari proses mengamen tersebut adalah kedua wali songo yang tersohor itu tidak meminta imbalan uang, melainkan menggunakan kalimat syahadat bagi siapa pun yang ingin menyaksikan pertunjukan tariannya.
Selain itu, para pengiringnya juga dilakukan oleh raja-raja ternama dari Kota Udang tersebut, yang ikut menarikannya adalah Pangeran Panggung dan yang memainkan gamelannya itu Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan.
Makna Keiklasan di Setiap Gerakannya
Wikikpedia ©2020 Merdeka.com
Selain dalam lima jenis topeng, unsur dakwah islam di tarian unik tersebut bisa ditemukan di dalam setiap gerakannya. Salah satu contohnya dalam setiap gerakan-gerakan di Topeng Panji.
Di sana, para dalang yang memainkan biasanya memainkan kedok yang rendah hari dan menampilkan gerakan-gerakan simbolik yang memperlihatkan seseorang yang suka memberi rezeki (shodaqoh).
Selain itu, simbol ke Islaman juga terdapat di Topeng Klana. Kedok yang menyimbolkan angkara murka manusia tersebut merupakan bentuk dari pilihan hidup, ketika manusia sudah dewasa, ia berhak memilih jalan hidupnya (penggambaran nafsu manusia).