Dampak Kekecewaan Anak Terhadap Orang Tua, Jangan Anggap Sepele
Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat memiliki peran yang amat sangat penting terutama dalam kehidupan seorang anak. Dalam hal ini orang tua seharusnya tempat berlindung yang aman dan tempat berbagi yang menyenangkan untuk anak.
Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat memiliki peran yang amat sangat penting terutama dalam kehidupan seorang anak. Dalam hal ini orang tua seharusnya tempat berlindung yang aman dan tempat berbagi yang menyenangkan untuk anak. Namun, sayangnya tak semua orang tua memiliki komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.
Beberapa tahun belakangan ini Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahunnya. Di mana para pelakunya hampir sebagian besar adalah orang terdekat korban. Dalam keluarga anak-anak adalah mata rantai terlemah. Tubuhnya yang mungil, pengetahuannya yang belum sempurna, pengalamannya yang belum banyak, posisi sebagai junior menjadi alasan bagi sebagian orang dewasa untuk merasa bertindak superior.
Tindakan-tindakan superior selain mengecewakan anak juga dapat membawa luka dalam dirinya yang bila terus berlangsung akan menyebabkan trauma. Dampak kekecewaan anak terhadap orang tua penting disadari oleh setiap orang tua. Jangan sekali-kali menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sepele.
Berikut ini informasi mengenai dampak kekecewaan anak terhadap orang tua, jangan anggap sepele telah dirangkum merdeka.com melalui media.neliti.com dan berbagai sumber lainnya.
1. Tak Memiliki Rasa Percaya pada Orang Tua
Dampak kekecewaan anak terhadap orang tua yang pertama adalah rasa percaya anak pada orang tua yang rendah. Mengingat biasanya secara alami anak-anak akan berpikir bahwa orang tua merupakan sosok pahlawan dalam kehidupannya. Sebagai anak ia bisa berlindung pada orang tua dan berbagi banyak hal dengannya.
Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi orang tua yang tidak mengakui adanya rasa kecewa dalam diri anak. Seiring berjalannya waktu, rasa kecewa tersebut akan membuat anak berlahan tidak memercayai orang tuanya sendiri. Ia bahkan akan semakin jauh dari orang tuanya.
2. Terjadi Gap antara Orang Tua dan Anak
Adakalanay anak menyimpan hal yang buruk, namun biasanya mereka merasa tidak perlu lagi untuk menceritakan setiap peristiwa yang dialaminya kepada orang tua. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai gap antara orang tua dan anak-anak. Gap atau jurang pemisah ini merupakan bagian dari dampak kekecewaan anak terhadap orang tua.
Gap ini terjadi karena kekurangtahuan orang tua tentang prinsip-prinsip pendidikan anak yang berkaitan renggangnya hubungan antara orang tua dan anak-anak. Misalnya, anak remaja cenderung mengungkapkan pengalamanya dengan teman sebaya bahkan akan lebih bersemangat dalam penyampaiannya.
Teman sebaya sudah pasti lebih memiliki kesamaan dengannya karena hidup dalam dunia yang sama. Di sinilah dituntut kesediaan orangtua untuk mempelajari dunia anak remaja agar mereka dapat melihat bahwa orangtuanya sungguh memahami pikirannya.
3. Stres hingga Depresi
Dampak kekecewaan anak terhadap orang tua selanjutnya adalah menimbulkan stres hingga depresi berkelanjutan pada anak. Ia merasa kehilangan sosok yang seharusnya menjadi tempat ia bercerita. Perasaan merasa tidak dimengerti orang tua kerap menimbulkan rasa kecewa yang bilang tidak disikapi dengan tepat oleh orang tua anak memicu stres hingga depresi pada anak.
Depresi pada anak-anak salah satunya dapat dicegah melalui komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Pastikan sebagai orang tua turut aktif menanyakan kegiatan sehari-hari anak di luar rumah, menanyakan perasaannya hari ini dan hal-hal apa saya yang sudah ia lewati. Dengan demikian kedekatan emosional antara orang tua dan anak akan mulai terbangun kembali dengan baik.
4. Tumbuh dengan Pikiran yang Negatif
Pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak-anaknya, sangat menentukan pertumbuhan mereka di kemudian hari. Jika pada usianya yang masih mudah ia tumbuh di tengah keluarga yang tak saling memperhatikan, cenderung sibuk sendiri. Maka dalam fase pertumbuhannya ia cenderung lebih sinis, memiliki pikiran yang negatif dan berbagai hal buruk lainnya.
Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk mengurangi perselisihan dengan anak dan menggantinya dengan diskusi sebagai cara memecahkan masalah. Dengan langkah seperti itu, diharapkan anak bisa merasa lebih dimengerti oleh orang tua dan jauh dari perasaan-perasaan kecewa yang membuatnya stres.