Cara Mengatasi Depresi Postpartum Pasca Melahirkan, Kenali Gejalanya Lebih Awal
Kehamilan dan melahirkan anak merupakan suatu peristiwa kompleks yang berpengaruh bagi seorang ibu, yang mana semuanya termasuk aspek fisik dan psikologikal. Perubahan ini dapat menyebabkan gangguan psikologis ibu, yang bisa memicu depresi pasca melahirkan atau depresi postpartum.
Kehamilan dan melahirkan anak merupakan suatu peristiwa kompleks yang berpengaruh bagi seorang ibu, yang mana semuanya termasuk aspek fisik dan psikologikal. Perubahan ini dapat menyebabkan gangguan psikologis ibu, yang bisa memicu depresi pasca melahirkan atau depresi postpartum.
Depresi postpartum merupakan gangguan mood setelah melahirkan yang merefleksikan disregulasi psikologikal yang merupakan tanda dari gejala-gejala major. Mood yang tertekan, hilangnya ketertarikan atau senang dalam beraktivitas, gangguan nafsu makan, gangguan tidur, agitasi fisik atau pelambatan psikomotor, lemah merasa tidak berguna, susah konsentrasi, keinginan untuk bunuh diri merupakan gejala-gejala yang dapat dijumpai pada ibu dengan depresi postpartum.
Selain mengenali gejalanya lebih awal, penting bagi kamu juga untuk mengetahui cara mengatasi depresi postpartum. Berikut ini informasinya telah dirangkum dari researchgate.net:
Penyebab Depresi Postpartum
Secara epidemiologis, depresi postpartum dapat terjadi pada semua golongan umur persalinan dan di berbagai daerah di dunia maupun di Indonesia. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) diperkirakan wanita melahirkan yang mengalami depresi postpartum ringan berkisar 10 per 1000 kelahiran hidup dan depresi postpartum sedang atau berat berkisar 30 sampai 200 per 1000 kelahiran hidup.
© boldsky.com
Sebelum mengetahui bagaimana cara mengatasi depresi postpartum ini, pahami juga penyebabnya. Faktor penyebab maternal depressive symptoms terdiri dari faktor biologis, karakteristik dan latar belakang ibu. Kadar hormon estrogen (estradiol dan estriol), progesteron, prolaktin, kortisol yang meningkat dan menurun terlalu cepat atau terlalu lambat merupakan faktor biologis yang menyebabkan timbulnya depresi postpartum.
Semakin besar penurunan kadar estrogen dan progesteron setelah persalinan makin besar kecenderungan seorang wanita mengalami depresi dalam waktu 10 hari pertama setelah melahirkan.
Faktor lain yang memengaruhi depresi postpartum ini dijelaskan dalam beberapa penelitian di antaranya variabel interpersonal (gangguan syaraf, pengalaman hidup yang buruk), variabel sosial (ketidakpuasan perkawinan, kurang dukungan sosial, status ekonomi) dan variabel klinis terkait kehamilan (risiko pada kehamilan saat ini, masalah pada kehamilan sebelumnya).
Gejala Depresi Pospartum
Setelah mengetahui penyebab, cari tahu gejala apa saja yang ditunjukkan. Tujuannya, agar kita tahu bagaimana cara mengatasi depresi postpartum ini. Faktanya gejala postpartum bisa terjadi pada awal kehamilan, beberapa minggu sesudah melahirkan, atau hingga setahun sesudah bayi lahir.
Ketika mengalami depresi postpartum, seseorang akan mengalami bebera gejala-gejala berikut ini:
- Mudah tersinggung dan marah.
- Merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
- Mengalami perubahan suasana hati yang drastis.
- Merasa cepat lelah atau tidak bertenaga.
- Menangis terus-menerus.
- Kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya.
- Tidak dapat tidur (insomnia) atau tidur terlalu lama.
- Kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukainya.
- Berpikir untuk melukai dirinya sendiri atau bayinya.
- Munculnya pikiran tentang kematian dan ingin bunuh diri.
- Sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan.
- Tidak ingin bersosialisasi dengan teman dan keluarga.
- Putus asa.
.
Cara Mengatasinya
Setelah mengetahui penyebab dan gejala yang muncul saat ibu mengalami depresi postpartum, kamu juga perlu tahu mengenai bagaimana cara mengatasi depresi postpartum ini dengan tepat.
Berikut ini cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi depresi postpartum yaitu:
1. Farmakologis
Pasien yang telah didiagnosis dengan gangguan depresi postpartum, diberikan pengobatan dengan antidepresan. Pemberian selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs) seharusnya diberikan pada karena golongan obat tersebut mempunyai risiko efek toksik yang rendah. SSRis bisa membantu pasien yang tidak mempunyai respon bagus terhadap tricyclic antidepressant, golongan antidepressant lainnya dan cenderung ditoleransi lebih baik dengan dosis yang rendah.
Bagaimanapun, jika pasien sebelumnya mempunyai respon baik terhadap obat antidepressant jenis lainnya, obat tersebut secara kuat dipertimbangkan untuk diberikan kembali. Golongan obat lainnya yang digunakan pada pasien depresi postpartum adalah tricyclic antidepressant (TCAs). Cara kerja obat golongan untuk menurunkan gejala depresi tidak diketahui tetapi jenis obat ini dapat menghalangi re-uptake berbagi neurotransmiter termasuk serotonin dan norepinephrine pada membran neurona.
2. Psikoterapi
Cara mengatasi depresi postpartum selanjutnya ialah dengan psikoterapi. Pada studi yang melibatkan 120 ibu melahirkan, interpersonal psikoterapi, dengan pengobatan 12 sesi yang terfokus pada perubahan peran dan pentingnya suatu hubungan sangat efektif untuk meredakan gejala depresi dan meningkatkan fungsi psikososial.
Sebuah grup berdasarkan intervensi pada psikoterapi interpersonal diberikan selama kehamilan mencegah terjadinya depresi postpartum. Bagaimanapun, psikoterapi sebagai tambahan dikombinasikan dengan fluoxetine tidkak meningkatkan pengobatan daripada dengan fluoxetine saja.