Bukan Cipacing, Ternyata Inilah Desa yang Lebih Dulu Menjadi Pelopor Pembuat Senjata
Potret Desa Ciherang di Sumedang yang dianggap sebagai pelopor pembuat senjata api di Jawa Barat hingga berjasa membantu TNI menumpas DI/TII.
Kepopuleran Desa Cipacing sebagai desa perakit senjata sudah sangat melekat. Bahkan desa yang terletak di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang tersebut sejak dahulu sudah terkenal akan senapan angin dan bedilnya. Hingga kini, Desa Cipacing masih terus memproduksi senjata angin jenis per, lalu jenis pompa dan yang terbaru adalah senjata dengan menggunakan tenaga gas.
Desa Cipacing sebelumnya dikenal sebagai pelopor pembuat senjata. Namun fakta sebenarnya tidaklah demikian, karena Desa Cikeruh lah yang menjadi pelopor pembuat senjata bedil di wilayah Jatinangor.
Desa Cikeruh sendiri merupakan desa yang letaknya tidak jauh dari Desa Cipacing. Hal tersebut dikatakan oleh Idih Sunaedi (77) yang merupakan salah satu generasi pertama pembuat senjata bedil dan senapan angin di Desa Cipacing.
"Awalnya senjata ini dari Cikeruh, kerena Cipacing itu dulunya bandar, warga Cipacing hanya menjual saja," ungkapnya seperti dilansir di laman ayobandung.com.
Produk Awal Desa Cikeruh
Awalnya di tahun 1800-an Desa Cikeruh hanya memproduksi pedang samurai sebagai komoditas utama mereka yang banyak digunakan atas pesanan para serdadu Belanda untuk meningkatkan kemampuan berperang mereka. Namun beberapa dekade kemudian masyarakat Desa Cikeruh mulai membuat berbagai jenis perkakas sederhana yang bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari termasuk masker anjing dan paku sebagai komoditas mereka.
2020 Merdeka.com/Ayobandung
Disekolahkan ke Belanda
Selain Idih Sunaedi, di Cikeruh juga terdapat pelopor pembuat dan reparasi senjata api bernama Raden Soemadimadja. Beliau merupakan kalangan menak atau bangsawan di tanah Pasundan khususnya Jatinangor dan Sumedang. Menurut cucunya, Ade Supriyatna (67), mulanya sang kakek hanya membuka bengkel besi biasa. Namun suatu ketika seorang juragan kebun dari Belanda meminta memperbaiki senjata di bengkel besi milik Raden Soemadimadja.
Berbekal kemampuan otodidak akhirnya beliau mencoba memperbaiki senjata tersebut dan berhasil, sejak saat itu Raden Soemadimadja dikenal sebagai bengkel senjata. Menurut lini sejarah beliau salah satu warga dari Cikeruh yang di sekolahkan di Belanda untuk memperdalam ilmu senjata api.
Masa DI/TII dan Dorlok Cikeruh sebagai Penumpas Pemberontakan
Dorlok merupakan singkatan dari didordandicolok(ditembakkan dan didorong). Senjata yang dahulu populer di kalangan TNI tersebut memiliki sejarah yang kuat dalam membantu TNI untuk menumpas pemberontakan DI/TII yang berkembang di wilayah Jawa Barat terutama wilayah Kota Bandung.
Cara penggunaan senjata ini adalah setelah senjata tersebut ditembakkan untuk kembali digunakan maka bagian pipanya harus didorong untuk mengeluarkan selongsong pelurunya.
2020 Merdeka.com/Liputan6
Diborong Desa Cipacing
Pasca meredanya pemberontakan DI/TII sekitar tahun 1964, warga Desa Cikeruh mulai memproduksi senjata secara massal. Pada saat itu pula masyarakat Desa Cipacing mulai memborong senjata dari Cikeruh dan kembali menjualnya di Desa Cipacing. Sejak saat itu Desa Cipacing lebih tersohor sebagai sentra senjata jenis bedil, angin maupun pompa daripada Desa Cikeruh.
(mdk/nrd)