LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. HISTORI

Sepak Terjang dan Perlawanan Haji Prawatasari Berujung VOC Larang Ibadah Haji

Trauma dengan empat tahun pemberontakan seorang haji yang sangat menguras pundi-pundinya, VOC sempat menyetop secara paksa pengiriman calon haji ke Mekkah.

2022-06-19 20:07:00
sejarah
Advertisement

Trauma dengan empat tahun pemberontakan seorang haji yang sangat menguras pundi-pundinya, VOC sempat menyetop secara paksa pengiriman calon haji ke Mekkah.

Penulis: Hendi Jo

Awal tahun 1700-an. Atas dasar restu dari Bupati Cianjur Aria Wiratanu II (1691-1707), Raden Alit menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pemberangkatan menak Sunda yang masih saudara satu ayah dengan sang bupati itu, memang sengaja dilakukan sebagai upaya untuk 'menyingkirkan' sementara Raden Alit yang memiliki sikap keras terhadap VOC (Maskapai Perdagangan Hindia Timur).

Advertisement

"Agar sang adik lebih 'dewasa' dan berpikir dingin, maka Aria Wiratanu II menghajikan Raden Alit alias Prawatasari," ungkap sejarawan Cianjur Luki Muharam.

Namun alih-alih menjadi dingin dan bisa dijinakkan, sepulang dari Mekkah sikap keras Raden Alit malah semakin bertambah terutama setelah dia belajar agama Islam di Giri. Menurut sejarawan Jan Breaman, selama di Giri, Haji Prawatasari tumbuh menjadi seorang 'ulama fanatik' yang mengobarkan perlawanan terhadap 'orang asing tak beragama'.

"Pada tahun-tahun pertama dari abad ke-18, (gerakan) Prawatasari menyebabkan gangguan besar di Priangan," ungkap Breaman dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870.

Advertisement

Haji memimpin Gerilyawan

Maret 1703, sekitar 3.000 orang (terdiri dari sebagian kecil menak, petani dan jawara) berhasil direkrut oleh Haji Prawatasari untuk menjadi gerilyawan. Mereka lantas menyerang tangsi-tangsi tentara kompeni di pusat kota Cianjur.

"Dengan modal taktik-taktik lawas peninggalan militer Kerajaan Pajajaran, kekuatan pasukan gerilya Haji Prawatasari bergerak seolah tak terbendung," tulis sejarawan Gunawan Yusuf dalam Mencari Pahlawan Lokal.

Setelah melalui berbagai bentrokan kecil dengan pasukan kompeni, awal Maret 1704, bataliyon-bataliyon (satu bataliyon=700-1000 prajurit) pasukan Haji Prawatasari bergerak menyerang titik-titik vital militer VOC di Bogor, Tangerang dan beberapa kawasan Priangan Timur. Seperti Galuh, Imbanagara, Kawasen dan daerah muara Sungai Citanduy. Sesekali mereka juga melakukan gangguan-gangguan kecil di pinggiran Batavia.

Kabar Kematian Haji Prawatasari

VOC bereaksi. Ekspedisi militer pun dibentuk. Pertengahan Maret, sekitar 2.000 serdadu kompeni pimpinan Pieter Scorpoi bergerak dari Batavia ke Jampang Manggung (kampung halaman Haji Prawatasari). Namun sesampai di sana, mereka tak mendapat perlawanan berarti.

"Penumpasan itu (pada akhirnya) membawa berita bahwa Prawatasari telah terbunuh," ungkap Jan Breman.

Kabar kematian itu ternyata hanya isapan jempol semata. Secara mengejutkan, pada 1704, Haji Prawatasari kembali muncul bersama sekira 3.000 gerilyawan yang menjadi pengikutnya.

Dengan kekuatan hampir satu resimen tersebut, Haji Prawatasari mengepung Sumedang dan nyaris mengahancurkan kota itu. Dan yang paling menakutkan VOC, dari hari ke hari para pengikutnya semakin bertambah.

Hindia Belanda Larang Haji

Hingga Agustus 1705, tercatat tiga kali pasukan Haji Prawatasari berhasil mengalahkan pasukan kompeni. Itu jelas membuat Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704—1709) merasa malu dan marah. Dia lantas menghargai kepala Haji Prawatasari dengan uang 300 ringgit dan mengeluarkan seruan mendesak kepada para bupati Priangan.

"Diwajibkan bagi seluruh bupati untuk mencegah masuknya para penjahat atau perampok seperti Prawata serta semua musuh Kompeni dan Kerajaan Cirebon ke daerah masing-masing. (Diwajibkan pula) untuk menyerahkan mereka hidup atau mati kepada Pangeran Aria Cirebon atau penguasa Kompeni di Cirebon, jika tidak mengindahkan intruksi ini maka para bupati akan dihukum dan dipecat," demikian menurut sejarawan Belanda F.de Haan dalam Priangan; de Preanger Regentschappen Onder het Nederlandsche Bestuur tot 1811.

Tidak ingin 'menyusahkan' para bupati dan rakyat Priangan yang diam-diam selalu mendukung perjuangannya, Prawatasari dan pasukannya menyingkir ke wilayah Kertanegara di Banyumas.

Kepergian Haji Prawatasari diam-diam diikuti oleh sebuah grup pemburu dari VOC pimpinan Kapiten Zacharias Bintang (1660—1730). Pada 1707, pasukan khusus VOC itu akhirnya bisa menghancurkan sisa-sisa pemberontak sekaligus menewaskan Haji Prawatasari di wilayah Bagelen. Demikian penuturan Valentijn Zie dalam Oud en Niew Oost Indie.

Tetapi pemberontakan empat tahun itu terlanjur menguras pundi-pundi VOC. Karena itu, adalah sangat wajar jika imbasnya mereka melarang sama sekali kegiatan menunaikan haji. Termasuk pada 1778, saat Gubernur Jenderal Reinier de Klerk menolak permintaan dua sekutu mereka (Bupati Cianjur Aria Wiratanudatar VI dan Bupati Bogor Raden Tumenggung Natanagara) yang akan mengirimkan sejumlah ulama Priangan untuk berhaji ke Makkah.

"Itu jelas melukiskan suasana kekhawatiran dan kebijakan garis keras VOC terhadap isu kebangkitan Islam yang ternyata bisa menjadi ideologi perantara untuk melawan kolonialisme Barat," ungkap Henri Chambert- Loir dalam Naik Haji di Masa Silam: Tahun 1482-1890.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.