'Senjata Rahasia' Kapal Selam Mini dan Jejak Sejarah Alutsista Buatan Indonesia
Pabrik-pabrik senjata rakitan bermunculan di era revolusi. Salah satunya merupakan pesanan khusus Kementerian Pertahanan RI.
Pabrik-pabrik senjata rakitan bermunculan di era revolusi. Salah satunya merupakan pesanan khusus Kementerian Pertahanan RI.
Penulis: Hendi Jo
Odoy Soedarja masih ingat rutinitas akhir pekannya di masa revolusi. Pensiunan tentara berpangkat sersan mayor itu kerap pulang pergi Sumedang-Garut dengan sebuah truk militer bekas tentara Jepang. Selain Sumedang-Garut, dia kerap ditugaskan pula ke wilayah Subang. Tentu saja dengan risiko berat: diadang tentara Belanda di tengah jalan.
"Tugas saya cukup berat saat itu yakni membawa senjata rakitan, ranjau dan granat buatan Cijeruk," ujar eks anggota Seksi I (intelijen) Divisi Siliwangi itu.
Cijeruk memang nama tempat yang sudah tidak asing bagi para pejuang Indonesia di wilayah Priangan Tengah dan Priangan Timur. Di sana ada sebuah pabrik senjata milik Divisi Siliwangi pimpinan Letnan Satu Kadarisman. Selain senjata api, Pabrik Cijeruk juga membuat ranjau darat, dinamit dan granat tangan.
Ketika tentara Belanda melancarkan agresi militer-nya yang pertama pada 21 Juli 1947, ranjau darat made in Cijeruk berjasa besar menghambat laju tank-tank musuh dari arah Bandung ke Sumedang. Menurut A.H. Nasution, hampir semua tikungan jalan di sepanjang wilayah Cadas Pangeran dipasangi ranjau dan diledakkan dengan dinamit buatan Cijeruk.
"Perhitungan kita, musuh perlu waktu tiga hari untuk memperbaiki jalan-jalan yang kami rusak itu sehingga pasukan yang bertahan di Sumedang bisa memiliki kesempatan menghindar ke pelosok," ungkap Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Agresi Militer Belanda I Jilid V.
Kapal Selam Mini 'Senjata Rahasia'
Di Yogyakarta, pabrik-pabrik persenjataan juga dibentuk oleh Markas Besar Tentara (MBT). Di antaranya yang paling besar adalah Demakijo dan Watson. Berbeda dengan Demakijo yang lebih menitiktekankan produksnya kepada jenis bom, dinamit, ranjau darat dan granat tangan, Watson lebih fokus ke pembuatan alutsista seperti pembuatan stengun, pistol dan karabin. Untuk bahan-bahannya, Watson menggunakan besi rel kereta api dan tiang listrik, sedang untuk per-nya dibuat dari kawat ban mobil truk.
"Zaman susah seperti saat itu, senjata produk Watson sudah yang paling baik,” ujar Moehkardi.
Namun tak ada produk Watson yang paling fenomenal selain kapal selam mini. Menurut Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949, 'senjata rahasia' ini awalnya dipesan secara khusus oleh Kementerian Pertahanan RI sebagai upaya untuk menghabisi secara satu persatu kapal perusak Belanda yang bertebaran di Laut Jawa.
"Kreatornya bernama J.Ginagan, perwira muda ALRI eks anggota Marinir Belanda yang juga merupakan jebolan Akademi Angkatan Laut Den Helder," ungkap Moehkardi.
Ditargetkan kapal selam mini itu akan menjadi senjata yang efektif dan mematikan. Dengan dikemudikan oleh seorang awak, bisa membawa sebuah torpedo yang digantungkan di bawah tubuh kapal selam tersebut dan bisa menghilang secara cepat usai melakukan operasi.
Dirampas Belanda
Singkat cerita, jadilah alutsista pertama RI itu. Uji coba kemudian dilakukan di Kalibayem (sebelah barat Yogyakarta) pada pertengah 1948 dan berhasil. Artinya kapal selam bisa bergerak dan mengapung. Namun sayangnya, ketika torpedonya ditembakkan, alih-alih meluncur, handel pengikatnya malah tak mau lepas dan tentu saja itu membuat tenaga torpedo yang sudah 'tak sabar' ingin meluncur justru menyeret seluruh badan kapal selam mini tersebut. Proyek itu pun dinyatakan berjalan kurang sempurna.
"Ya wajar saja tidak sempurna, wong mesin penggeraknya memakai mesin truk…" tutur Moehkardi.
Kementerian Pertahanan RI lantas memerintahkan Ginagan untuk lebih menyempurnakan 'senjata rahasia' tersebut. Tetapi belum sempat diperbaiki, tentara Belanda keburu menyerang sekaligus menguasai Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Maka berantakanlah rencana prestisius itu menyusul dirampasnya kapal selam mini itu oleh pihak militer Belanda.