Polisi Istimewa Bambang Soeprapto Pimpin Anak Buah Tempur Lawan Tentara Inggris
Bersama kekuatan TKR dan badan-dan perjuangan, Polisi Istimewa pimpinan Bambang Soeprapto ikut terlibat pula dalam pertempuran-pertempuran sengit melawan para prajurit Inggris.
Setelah sempat kehilangan puluhan anak buahnya di front Semarang, Bambang Soeprapto dan anak buhanya dipindahkan ke Keresidenan Banyumas.
Penulis: Hendi Jo
Begitu terlepas dari tahanan tentara Jepang pada 19 Oktober 1945, hal pertama yang dilakukan Bambang Soeprapto adalah mencari tahu keberadaan anak buahnya.
Setelah berkonsolidasi dengan komandan-komandan peleton, diketahui terdapat 31 anggota Polisi Istimewa yang gugur selama berlangsung pertempuran selama lima hari dengan militer Jepang di Semarang.
Menurut Atim Supomo dkk dalam Brimob: Dulu, Kini dan Esok, dari jumlah tersebut hanya lima belas di antaranya yang tercatat pada Monumen Brimob di Srondol. Mereka adalah: Bono, Kardiman, Edris, Idris, Soekimin, Ngatum, Kabul, Rasijo, Mardiman, Kasidi, Soedarmin, Soedarsono, Wastam, Doelhamid dan Soepar.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro yang juga dibebaskan dari tahanan bersama Bambang Soeprapto, langsung menyerukan kepada badan-badan perjuangan dan para anggota Polisi Istimewa untuk menghentikan gencatan senjata dengan tentara Jepang.
"Setelah mendengar seruan itu, rakyat Semarang yang senantiasa menaati perintah pemimpinnya, segera menghentikan tembak menembak," demikian menurut makalah berjudul ‘Kepemimpinan dan Kepahlawanan Komisaris Polisi II R.M. Bambang Soeprapto Dipokoesoemo' (disusun Sub Direktorat Sejarah Direktorat Personil Markas Besar Kepolisian Negara RI pada 1990).
Sejatinya, Bambang Soeprapto sendiri tak menyetujui ide gencatan senjata tersebut. Menurutnya, tentara Jepang di Semarang telah seenaknya membantai orang-orang Indonesia, bukan saja para pejuang dan anggota Polisi Istimewa namun juga para perempuan, anak-anak dan orang tua.
Ketika mendengar perintah Gubernur Wongsonegoro itu, atas sepengetahuan Bambang sendiri, para anggota Polisi Istimewa menembakan senjata berat ke udara sebagai tanda ketidaksetujuan atas keputusan itu.
Pembonceng Gelap
Keesokan harinya, di Pelabuhan Tanjung Mas, mendaratlah prajurit Inggris (yang mewakili Sekutu) dari Divisi ke-23 pimpinan seorang brigadir bernama Bethell.
Sesuai kesepakatan Postdam, mereka mengemban tugas untuk menjaga status quo, menjadi perantara penyerahan wilayah Hindia Belanda kepada Kerajaan Belanda, mengurus para tawanan perang dan mengembalikan tentara Jepang ke negerinya.
Pemerintah Republik Indonesia sendiri memilih untuk kooperatif terhadap pemenang Perang Dunia II itu serta bersedia untuk membantu pihak Sekutu mendapatkan fasilitas akomodasi dan bahan makanan. Sebaliknya pemerintah RI meminta pihak Sekutu untuk menghormati kedaulatan Republik Indonesia yang baru beberapa bulan terbentuk sebagai negara yang merdeka.
Namun niat baik pemerintah RI itu ternyata disalahgunakan pihak Sekutu. Alih-alih menghormati kedaulatan RI, pihak Sekutu malah diam-diam membonceng orang-orang Belanda yang datang dari pengungsian mereka di Australia. Para pembonceng gelap itu lantas bersikap provokatif dengan membebaskan para interniran Belanda di Semarang dan Ambarawa tanpa berkoordinasi dengan pihak RI.
Bahkan lebih dari itu, orang-orang NICA (Pemerintas Sipil Hindia Belanda) tersebut berupaya menduduki kembali jabatan-jabatan mereka seperti sebelum Perang Dunia II berlangsung.
"Sikap mereka justru mendapat perlindungan dari pihak Sekutu hingga menimbulkan amarah rakyat Indonesia yang kemudian meledakan amarah itu dalam bentuk perlawanan bersenjata," ungkap sejarawan Moehkardi.
Polisi Istimewa vs Prajurit Inggris
Di Ambarawa, prajurit-prajurit Divisi ke-23 malah sempat terkepung. Mereka baru bisa berhasil keluar dari kota tersebut dan bergerak ke Semarang, setelah meminta bantuan serangan udara.
Bersama kekuatan TKR dan badan-dan perjuangan, Polisi Istimewa pimpinan Bambang Soeprapto ikut terlibat pula dalam pertempuran-pertempuran sengit melawan para prajurit Inggris. Mereka bertahan di front Semarang hingga pada Juni 1947, menyusul terbentuknya unit Mobil Brigade (Mobrig) pada 14 November 1946.
Di bulan tersebut, Bambang Soeprapto dan ketigapuluh anak buahnya dipindahkan ke Mobrig Keresidenan Banyumas. Sejak itu juga, Bambang secara resmi diangkat menjadi komandannya dengan pangkat inspektur polisi I.
Seiring perkembangan, Mobrig Keresidenan Banyumas lantas bertambah menjadi sembilan puluh orang meliputi tenaga tempur, staf komando kompi dan tenaga administrasi.