LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. HISTORI

Pengalaman Prajurit PETA Digojlok Jepang Hingga Tahan Hadapi Siksaan

Disiapkan untuk perang gerilya menghadapi Sekutu, para prajurit Pembela Tanah Air dididik habis-habisan oleh para instruktur Jepang.

2022-02-02 21:05:00
PETA
Advertisement

Disiapkan untuk perang gerilya menghadapi Sekutu, para prajurit Pembela Tanah Air dididik habis-habisan oleh para instruktur Jepang.

Penulis: Hendi Jo

Purbo Suwondo masih ingat kejadian itu. Suatu hari seorang kawannya melakukan kesalahan saat latihan baris berbaris. Tanpa banyak cakap, seorang instruktur Jepang menghampirinya, lantas memukulnya dengan gagang gunto (pedang panjang khas kaum samurai). Tidak cukup itu, dia pun memerintahkan para prajurit yang ada di barisan tersebut untuk saling pukul.

Advertisement

"Itu dilakukan untuk menumbuhkan apa yang mereka sebut sebagai dangketsu (semangat korps)," ujar eks anggota PETA (Pembela Tanah Air) tersebut.

Dalam tayangan media propaganda militer Jepang, Nippon Eigasha Djakarta dan Keimin Bunka Shidosjo, diperlihatkan beratnya latihan para anak muda Indonesia yang akan dihadapkan dengan prajurit-prajurit Sekutu. Selain diajarkan berbagai latihan kemiliteran, mereka digojlok mentalnya supaya kuat dan dapat diandalkan.

Prajurit PETA direkrut dari pelajar tingkat sekolah menengah hingga lelaki dewasa di bawah 22 tahun. Bahkan tak jarang, militer Jepang melakukan pengambilan calon anggota lewat penculikan dan pemaksaan. Hal itu seperti dialami oleh dua bersaudara: Eddie Soekardi dan Harry Soekardi.

Advertisement

Kedua anak muda yang sejatinya sudah bekerja di Kantor Besar Pos dan Telegrap Bandung itu, diambil militer Jepang langsung dari rumah mereka pada suatu malam. Dengan tanpa mengindahkan ratapan istri mereka, para petugas Keinpeitai langsung menggiring keduanya ke sebuah truk bak terbuka lalu membawanya langsung ke Stasiun Bandung.

"Saya ingat sepanjang jalan menuju stasiun, kami berdua berpelukan erat sambil menangis," kenang Eddie yang kemudian menjadi Komandan Brigade ke-14 Divisi Siliwangi itu

Setelah sampai di Stasiun Bandung, mereka langsung dinaikan ke salah satu gerbong kereta api. Saat di atas kereta api, salah seorang petugas Kenpeitai menjelaskan bahwa mereka akan dikirim ke Bogor untuk digembleng menjadi calon perwira PETA.

Tak seorang pun yang berani membantah atau bertanya lebih lanjut. Bayangan kesengsaraan dan penderitaan para romusha malah lebih dominan menghantui mereka dibanding penjelasan perwira Kenpeitai itu.

Singkat cerita, jadilah Eddie dan Harry penghuni Komplek Jawa Boei Gyugun Karibu Reseitai Bogor (sekarang Gedung Museum PETA). Di sanalah mereka mulai memperoleh latihan kemiliteran yang sangat berat dan mengerikan.

Perlakuan instruktur militer Jepang sangatlah keras dan sadis. Jiwa muda mereka terguncang. Caci maki, hinaan, tamparan, pukulan dan tendangan seolah sudah menjadi menu sehari-hari di tempat penggojlokan itu.

Pelatihan Militer Seperti Siksaan

Ada sebuah kejadian agak lucu sekaligus menyedihkan yang dialami Eddie. Suatu hari, seorang calon anggota PETA yang berasal dari lingkungan keluarga kiai terkemuka ikut terkena hukuman bersama pemuda-pemuda lainnya.

Haji itu, berjam-jam disuruh bertekuk-lutut, berderet sambil telanjang bulat. Tentu saja bagi seorang haji, perlakuan seperti itu sangatlah aib. Sambil menutup aurat-nya, sang haji menangis sambil memelas-melas.

"Pejamkan mata, Kang Haji. Pusatkan pikiran. Rasa sakit dan rasa malu akan hilang," bisik Eddie seperti dalam buku Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur1945-1946.

Usai menjalankan 'siksaan' itu, seorang instruktur kemudian menjelaskan jika latihan seperti itu akan sangat berguna saat tertawan musuh. Tubuh dan mental akan tahan uji. Kendati disiksa seberat apapun, seorang anggota PETA tidak akan membocorkan rahasia.

Menurut Purbo Suwondo, gojlokan militer Jepang memang keras, bahkan terlampau keras menurut ukuran normal pelatihan militer biasa. Salah satu hukuman yang dikenal alumni PETA paling menyiksa adalah seiza.

Menurut David Jenkins dalam Soeharto and The Japanese Ocupation, seiza adalah sikap berlutut di lantai (atau di tanah) dengan melipat kaki di bawah paha, sementara pantat ada di atas tumit. Mayoritas prajurit Jepang sendiri bahkan tidak pernah bisa bertahan dari hukuman ini lebih dari setengah jam.

"Hukuman itu diberlakukan kepada para prajurit PETA beberapa jam, bahkan sampai larut malam," ungkap Jenkins.

Jika mereka jatuh atau tak kuat, maka pukulan rotan akan mendera tubuh mereka hingga berdarah-darah.

Biasanya saat melakukan seiza di bawah terik matahari, para prajurit PETA pada akhirnya banyak yang tumbang. Bahkan banyak yang meminta mati daripada seharian harus melakukan hukuman itu.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.