LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. HISTORI

Misteri Jejak Hilangnya Supriyadi Usai Pemberontakan PETA

Hingga hari ini, keberadaan Supriyadi masih misterius dan belum terpecahkan. Muncul bermacam kesaksian dan teori mengenai nasib dan keberadaan Supriyadi. Ada yang berdasarkan akal dan berdasarkan mistis.

2023-04-27 06:07:00
PETA
Advertisement

Pada Februari 1945, Supriyadi memimpin Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air). Melawan tentara Jepang di Blitar. Setelah meletusnya pemberontakan tersebut, nasib dan keberadaan Supriyadi menjadi misteri.

Hingga hari ini, keberadaan Supriyadi masih misterius dan belum terpecahkan. Muncul bermacam kesaksian dan teori mengenai nasib dan keberadaan Supriyadi. Ada yang berdasarkan akal dan berdasarkan mistis.

Sejatinya, Supriyadi telah diangkat menjadi Panglima Besar TKR. Namun, dia tidak hadir dalam pelantikan, hingga akhirnya digantikan Soedirman sebagai Panglima TKR pada 18 Desember 1945.

Advertisement

"Ada yang mengatakan Supriyadi dibunuh oleh Jepang tetapi lebih banyak yang percaya masih hidup dan dia pasti akan muncul bila tiba waktunya. Ada juga cerita bahwa Supriyadi memimpin pertempuran di berbagai tempat dari Jawa Barat sampai Jawa Timur," ungkap T. B. Simatupang dalam buku Laporan Dari Banaran.

Ada yang mengatakan bahwa Supriyadi tertangkap oleh Jepang. Supriyadi mendapat siksaan sangat berat, hingga akhirnya tewas. Akan tetapi, dalam persidangan pada masa Pendudukan Jepang, nama Supriyadi tidak pernah disebut.

"Nama Supriyadi tidak pernah disebut-sebut di dalam sidang-sidang pengadilan. Ada juga sumber yang menyatakan bahwa ia pernah dipidanakan in absentia," seperti dikutip dalam buku Pahlawan Nasional Supriyadi karya Ratnawati Anhar.

Advertisement

Supriyadi Palsu

Banyak orang-orang yang mengaku sebagai Supriyadi, pemimpin pemberontakan PETA di Blitar. Mereka menemui Darmadi yang merupakan ayah Supriyadi. Akan tetapi semuanya itu tidak diakui Darmadi.

"Apa maksud dengan orang-orang itu mengaku sebagai Supriyadi, bahkan sampai menghadap Pak Darmadi, Ibu Darmadi pun tidak mengerti," ungkap Ibu Susilih Darmadi dalam buku Pahlawan Nasional Supriyadi.

Setelah melakukan pemberontakan pada tanggal 14 Februari 1945, Supriyadi datang ke rumah Harjomiarso Kepala Desa Sumberagung. Pada saat itu para tentara PETA yang tertangkap telah diangkut ke Blitar. Sedangkan, tentara yang belum tertangkap diperintahkan untuk menyerah dan akan dikirim ke kantor sanco (Camat).

"Apakah Supriyadi juga akan menyerah?," tanya Harjomiarso.
"Tidak! Daripada menyerah lebih baik saya dibunuh oleh bangsa sendiri, saya rela dibunuh oleh Pak Lurah Sendiri," tegas Supriadi menjawab.

Ketika pembicaraan antara Harjomiarso dan Supriyadi belum selesai, datang sebuah mobil yang berisi beberapa orang anggota Kempeitai (Polisi Militer) Jepang. Harjomiarso memerintahkan Suyitno yang merupakan Ketua Rukun Tetangga untuk menyembunyikan Supriyadi di salah satu rumah penduduk desa Sumberagung.

Pada tanggal 18 Februari 1945, Supriyadi berpamitan kepada Harjomiarso yang telah membantunya. Supriyadi meminta Harjomiarso agar menyembunyikan kemana sebenarnya dirinya akan pergi.

"Kemudian Shodanco Supriyadi minta agar diberitahukan kepada masyarakat luas bahwa Shodanco Supriyadi akan pergi ke Gunung Kelud dan terjun ke dalam kawah gunung itu," seperti dikutip dalam buku Pahlawan Nasional Supriyadi karya Ratnawati Anhar.

Sebenarnya Supriyadi menuju ke arah Barat, tepatnya ke Trenggalek. Harjomiarso menyarankan Supriyadi agar menyamar sebagai orang desa, sehingga tidak terlihat seperti seorang bekas anggota PETA. Pada tanggal 21 Februari 1945, Supriyadi meninggalkan desa Sumberagung menuju ke arah barat dan menurut rencana akan pergi ke Trenggalek.

Baju Putih dan Keris Pusaka

Sekitar Februari 1945, Ronomejo yang merupakan seorang kamituwo desa Ngliman mengatakan bahwa dirinya melihat Supriyadi. Saat itu Ronomejo sedang memimpin rombongan romusha di Gunung Gemarakandang. Seorang pemuda bernama Supriyadi datang menghampirinya dengan memakai baju putih dan membawa sebuah keris pusaka.

Menurut Ronomejo, pemuda tersebut berniat bersembunyi karena sedang diburu Tentara Jepang. Melihat keinginan pemuda bernama Supriyadi, Ronomejo mengantarkannya ke gua di dekat air terjun Sedudo.

Darmadi mendengar kabar bahwa Supriyadi bersembunyi di dalam gua. Dia segera mencarinya. Dengan diantar Ronomejo. Namun Darmadi tidak menemukan Supriyadi di dalam gua.

"Bapak Ronomejo menduga bahwa Supriyadi lari menuju ke arah barat, yakni ke arah Jawa Tengah," seperti dikutip dalam buku Pahlawan Nasional Supriyadi.

Reporter Magang: Muhamad Fachri Rifki

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.