Malam Paling Mengharukan Bagi Nasution, Begini Detik-Detik Bandung Lautan Api
Ada dua pilihan yang bisa dilakukan rakyat Bandung pada 24 Maret 1946. Bertahan di kota atau menjadi pengungsi. Nyatanya, sebagian besar memilih untuk hengkang dari kota tercinta.
Ada dua pilihan yang bisa dilakukan rakyat Bandung pada 24 Maret 1946. Bertahan di kota atau menjadi pengungsi. Nyatanya, sebagian besar memilih untuk hengkang dari kota tercinta.
Penulis: Hendi Jo
Malam baru saja menjalani waktunya beberapa jam ketika cuaca dingin meliputi selatan Bandung. Di beberapa titik, kobaran api mulai terlihat. Rumah-rumah perlahan musnah menjadi abu. Hujan gerimis menombaki tanah. Rintiknya yang tertimpa kilatan cahaya api seolah ribuan jarum yang tengah memerangi gelapnya malam.
"Saya mengawal para penduduk yang bergerak keluar Bandung begitu usai salat magrib," kenang Asikin Rachman (kelahiran 1927).
Kendati awalnya merasa kaget, namun sebagian besar penduduk Bandung selatan patuh pada keputusan Walikota Sjamsjoerizal dan Panglima Divisi III Komandemen Jawa Barat Kolonel A.H. Nasution untuk meninggalkan kota tercinta. Yang paling mengharukan, kata Nasution, banyak di antara mereka berinisiatif membakar rumah sendiri sebelum hijrah ke luar Bandung.
"Hati saya masih tetap terharu jika mengenang malam Senin 24 Maret 1946 itu," ujar Nasution dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid ke-1: Kenangan Masa Muda.
Pasang Ranjau dan Bom
Sementara rakyat berduyun-duyun menuju luar kota, puluhan pejuang Bandung memasang ranjau dan bom di gedung-gedung yang dianggap vital. Kendati berhasil diledakkan, namun sebagian besar gedung yang dibangun pada era Hindia Belanda itu tak jua hancur.
Menurut Asikin, itu terjadi karena pihak Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) tak memiliki bahan peledak yang mumpuni. Jika pun ada, harus dihemat demi menghadapi pertempuran dengan musuh.
Menurut PH.S Marpaung, eks pejuang Bandung, selain kurang ahlinya pejuang Bandung dalam mengurus bahan peledak juga bisa jadi itu dikarenakan adanya sabotase dari intelijen musuh.
"Ledakannya yang harusnya dilakukan serentak pada jam 24.00 malah sudah terjadi pada empat jam sebelumnya," ujar Marpaung.
Isah adalah salah satu dari ratusan ribu pengungsi yang memutuskan pergi dari Bandung pada malam 24 Maret 1946. Sejatinya mereka bisa saja bertahan di dalam kota, sesuai anjuran pihak Sekutu. Namun Soeminta, sang suami yang seorang anggota laskar, menolak untuk hidup berdampingan dengan kaum penjajah dan pengkhianat.
"Kang Minta malah membakar rumah kami dengan tangannya sendiri," ujar Isah.
Tak Sudi Diperintah Sekutu
Ultimatum Sekutu memang hanya berlaku kepada kelompok-kelompok bersenjata yang dianggap selalu menghalangi misi mereka di Bandung. Alih-alih mengusir, Brigadier N. MacDonald (pimpinan pasukan Sekutu di Bandung) malah meminta rakyat sipil untuk tinggal dan menjalankan kegiatan seperti biasanya.
"Untuk mencegah pertumpahan darah, warga sipil diminta untuk tetap tenang dan tidak meninggalkan rumah selama periode itu," ungkap sejarawan John R.W. Smail dalam Bandung in the Early Revolution, 1945-1946.
Seruan Sekutu itu diperkuat dengan pengumuman yang disampaikan oleh pemerintah kota pada jam 14.30. Namun sekira dua jam kemudian, pemerintah kota mengubah pendiriannya: mereka menyatakan rakyat harus ikut dengan tentara mengungsi ke luar kota.
Menurut sejarawan John R.W. Smail, nyatanya warga Bandung lebih banyak yang memilih jadi pengungsi dibanding bertahan di kota dan diperintah Sekutu. Sebagai contoh, di wilayah Babakan saja yang memiliki populasi sekira seribu orang saat itu, hanya tersisa satu orang Indonesia yang memilih bertahan bersama sejumlah kecil keluarga Eurasia (kaum indo) dan orang-orang Tionghoa.
"Sekitar setengah juta penduduk telah meninggalkan kota dan kawasan sekitarnya menuju ke daerah pedesaan Priangan," ungkap Smail.
Menjelang tengah malam, langit mulai memerah. Perlahan Bandung menjemput lautan api sekaligus melepas puluhan ribu penghuninya yang terus berjalan menuju ketidakmenentuan nasib. Sebagian dari mereka bahkan ada yang tak pernah bisa melihat kota tercintanya lagi. Hilang ditelan arus revolusi yang terus bergerak saat itu.