LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. HISTORI

LRDR: Dibentuk Pengikut Tan Malaka, Tak Patuh Perintah Perdana Menteri Sjahrir

Para pengikut Tan Malaka merasa tak sejalan dengan kebijakan politik Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Mereka lantas mengambil cara sendiri dan tetap melawan tentara Inggris dan Belanda di Jakarta.

2022-06-26 06:07:00
sejarah
Advertisement

Para pengikut Tan Malaka merasa tak sejalan dengan kebijakan politik Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Mereka lantas mengambil cara sendiri dan tetap melawan tentara Inggris dan Belanda di Jakarta.

Penulis: Hendi Jo

Pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan 17 Agustus 1945, semangat untuk membentuk suatu tentara resmi begitu tinggi di kalangan pemuda Indonesia. Guna mewujudkan itu, pada 1 September 1945, para aktivis Menteng 31 (salah satu kelompok pemuda radikal di Jakarta) berhasil mendirikan API (Angkatan Pemoeda Indonesia), namun organ tersebut dirasakakan belum sesuai dengan kebutuhan.

Advertisement

"Dalam situasi kita belum punya tentara, saat itu kami bertanya-tanya: dengan apa bayi Republik ini bisa kita bela?" ujar A.M. Hanafi (salah satu tokoh terkemuka Menteng 31) dalam Menggugat Kudeta Jenderal Soeharto.

Dari BKR ke TKR

Bersama dua tokoh Menteng 31 lainnya (Chaerul Saleh dan Pandu Kartawiguna), Hanafi kemudian menghadap Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin. Mereka lantas menyampaikan ide-ide mereka tentang sebuah organisasi tentara yang revolusiener dan bisa bertahan lama untuk menghadapi Belanda. Amir menganggukan kepala. Maka pada 22 Agustus 1945, berdirilah BKR (Badan Keamanan Rakjat).

Advertisement

"Namun secara jujur kami harus mengakui kurang puas sebab yang kami inginkan adalah suatu tentara resmi bukan sekadar badan keamanan," ungkap Hanafi.

Ketidakpuasan para pemimpin pemuda radikal itu lantas direspon dengan mengubah BKR menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakjat) pada 5 Oktober 1945. Namun lagi-lagi itu masih dianggap 'tentara mainan' oleh Chaerul Saleh dan kawan-kawannya. Sebagai bentuk ketidakpuasan, pada 22 November 1945, para pengikut Tan Malak aitu lantas mengundang sejumlah organ bersenjata ke Salemba.

Perintah Sjahrir Tak Digubris LRDR

Dari sekian organ bersenjata yang diundang, ternyata yang datang hanya Angkatan Pemoeda Indonesia (API) pimpinan Bahar Rezak, Oesaha Pemoeda Indonesia (OPI) pimpinan preman Pasar Senen Imam Sjafi’i dan Barisan Rakjat (BARA) pimpinan jagoan Klender Haji Darip) di Salemba, Jakarta Pusat.

"Mereka lantas sepakat membentuk Lasjkar Rakjat Djakarta Raja (LRDR), sebuah nama yang menurut orang-orang Tan Malaka itu terinspirasi dari konsep tentara rakyat (peoples army)," ungkap sejarawan Rushdy Hoesein.

Desember 1945, militer Inggris menuntut pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk membersihkan Jakarta dari unsur-unsur kaum bersenjata, termasuk Tentara Keamanan Rakjat (TKR) yang merupakan organ resmi bersenjata RI. Mereka berdalih, Jakarta akan dijadikan kota diplomasi yang harus bebas dari pertempuran.

"Karena ingin merebut hati orang-orang Inggris, tak ada yang bisa dilakukan oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, kecuali menuruti keinginan itu," ungkap sejarawan Robert B. Cribb.

Seruan Perdana Menteri Sjahrir dimentahkan oleh LRDR. Dalam pernyataan sikapnya yang pertama, LRDR menyatakan secara tegas menolak politik berunding pemerintahan Perdana Menteri Sjahrir.

"Sebaliknya LRDR meminta supaya pemerintah saja yang pindah dari Jakarta," ungkap Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945.

Dan memang, terbukti LRDR menjadi kelompok yang cukup memusingkan pemerintah RI dan militer Inggris di Jakarta. Tanpa pernah berkoordinasi dengan TKR, mereka kerap melakukan penyergapan-penyergapan terhadap satuan-satuan British Indian Army (BIA) dan tentara NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) di jalanan kota Jakarta.

"Banyak menimbulkan korban tewas dan luka-luka di pihak Inggris maupun di pihak pemuda, salah satunya adalah seniman revolusiener bernama Cornel Simanjuntak yang menciptakan lagu “Maju Tak Gentar”," ungkap Rushdy Hoesein.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.