LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. HISTORI

Lintas Zaman Batik Garutan

Mahasiswa Doktoral konsentrasi Kajian Budaya Universitas Padjadjaran asal Garut, Moch Ilham Anshory mengatakan, dalam sejumlah buku dituliskan bahwa informasi tentang batik sudah ada sejak awal abad XVI.

2021-08-12 13:33:12
sejarah
Advertisement

Batik merupakan warisan budaya Indonesia. Pembuatan kain batik dilakukan secara khusus dengan cara meniskan atau menerakan malam di kain, lalu diolah dan diproses dengan cara tertentu sehingga menjadi khas.

Unesco pada 2 Oktober 2009 menjadikan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait. Hingga saat ini, 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Setiap daerah sebagai penghasil batik, memiliki ciri tersendiri. Di Jawa Barat, salah satu batik yang cukup dikenal berasal dari Garut dan disebut sebagai batik Garutan.

Advertisement

Mahasiswa Doktoral konsentrasi Kajian Budaya Universitas Padjadjaran asal Garut, Moch Ilham Anshory mengatakan, dalam sejumlah buku dituliskan bahwa informasi tentang batik sudah ada sejak awal abad XVI.

"Batik terdapat dalam Naskah Siksa Kanda Ng Karesian. Disebutkan beberapa macam corak lukisan (batik), yaitu pupunjengan, hihinggulan kekembangan, alas-alasan, urang-urangan, memetahan, sisirangan dan taruk hata," kata Ilham.

Pada abad XX kegiatan membatik berkembang di beberapa daerah, yaitu Cirebon (Trusmi), Indramayu, (Paoman), Ciamis (Cikoneng), Tasikmalaya (Sukaraja, Cihideung dan Cipedes), Garut (Tarogong). Nur (2018:4) mengungkapkan bahwa sentra industri batik lainnya adalah Indramayu, Garut, Tasikmalaya dan Majalengka.

Advertisement

©2021 Merdeka.com

Saat ia menelusuri tentang batik Priangan, ungkap Ilham, diketahui bahwa secara etimologi Priangan berasal dari kata pa-rahyang-an atau para-hyang-an. Rahyang atau hyang identik dengan dewa awalan pa dan akhiran an menunjukan tempat.

"Priangan sekarang adalah daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis," ungkapnya.

Awalnya, diakui Ilham, ia hanya menemukan satu buku tentang batik Priangan, yaitu buku The Dancing Peacock. "Buku tersebut memaparkan motif-motif batik yang ada di Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Selanjutnya pada tahun 2016 terbit satu buku yang berjudul Batik Garutan Koleksi Hartono Sumarsono yang berisi Batik Garut dan Tasikmalaya," ungkapnya.

Penulis, disebut Ilham, mengemukakan bahwa banyak daerah di Indonesia yang memproduksi batik dan salah satunya adalah wilayah Priangan Timur yang masing-masing memiliki makna kekhasan tersendiri. Contohnya, secara sosial kain batik panjang memiliki nilai-nilai sosial sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan kelahiran dan pernikahan.

"Berdasarkan catatan sejarah, Garut pernah menjadi wilayah penting, sebagai pemasok logistik Angkatan Perang Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung, dalam penyerangan ke Banten dan kemudian ke Batavia yang saat itu dikuasai oleh VOC. Diduga pada masa inilah tradisi membatik di wilayah Garut dimulai," sebutnya.

Dilihat dari sudut padang penghasil kain, menurut Ilham, Garut bukan hanya menghasilkan batik. Pada zamannya Garut diketahui memproduksi tenun dan tenun sutra.

©2021 Merdeka.com

Dari buku yang ditulis Suhardiman dan Darpan yang dibacanya tentang Pabrik Tenun Garut (PTG), pada awalnya pabrik tersebut adalah tempat pembuatan sabun milik orang Belanda yang dibangun pada tahun 1928, namun pada tahun berikutnya, pabrik sabun tersebut pindah ke Surabaya.

Bekas bangunan pabrik sabun itu dijadikan pabrik tenun pada 1933. Tahun 1940an, PTG menjadi pabrik tenun terbesar di Asia, namun di tahun 1995 mengalami kebangkrutan.

Selain itu, dijelaskan Ilham, sejak 1961 di Kawasan Garut tepatnya di Kecamatan Tarogong terdapat industri kain sutra. Usaha kain sutra terus maju konsumennya bukan hanya orang Garut, ada dari kota-kota besar antara lain, Bandung dan Jakarta. Pada tahun 1990, pengusaha kain sutra di Tarogong, Aman Sahuri dianugrahi Upakarti oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Selanjutnya, lanjut Ilham, di paruh akhir abad XIX K.F. Holle yang merupakan juragan perkebunan teh Waspada, Kecamatan Cikajang juga diketahui mengembangkan produksi batik di perkebunannya. Namun tidak diketahui secara pasti, apakah batik itu diproduksinya untuk dijual atau hanya untuk keperluan sendiri.

Holle merupakan tokoh penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan ekonomi masyarakat Garut. Hal tersebut karena ia tidak hanya mengelola perkebunan, namun juga menggagas berbagai inovasi yang manfaatnya banyak dirasakan orang pribumi, terutama orang Garut.

©2021 Merdeka.com

"Holle dituliskan berteman dengan Moehammad Moesa, kepala penghulu Kabupaten Limbangan. Seringkali mereka disebut dwi-tunggal mereka berjuang meningkatkan derajat masyarakat pribumi menjadi lebih baik," ucapnya.

Jika dicermati, Holle memilih batik sebagai salah satu produk yang dikembangkan, sehingga tentu sudah memikirkanya secara matang. Batik Garutan layak untuk dikembangkan.

Selain itu juga, batik Garutan rupanya sudah menjadi barang cinderamata sejak zaman Belanda.

"Dalam buku Garoet, En Omstreken yang terbit tahun 1922, disebutkan bahwa salah satu yang dapat dibawa pulang oleh turis atau para pelancong dari Garut sebagai oleh-oleh adalah kain batik. Buku itu memang ditulis sebagai buku petunjuk perjalanan wisata yang diperuntukan bagi turis-turis asing," jelasnya.

Tahun 1967-1986 diketahui merupakan masa kejayaan batik tulis Garutan hingga mencapai 126 unit usaha. Tahun selanjutnya mengalami penurunan di tengah persaingan dengan batik printing.

"Kurangnya minat generasi penerus, tidak tersedia bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran merupakan hambatan lain yang dihadapi usaha ini," katanya.

Saat ini, batik Garutan umumnya diproduksi di wilayah Kecamatan Garut Kota, seperti di Jalan Papandayan dan Kampung Sisir. Tahun 2000-an, Batik Garutan mulai dikenal kembali setelah pemerintah daerah dengan gencar memperkenalkannya kepada publik melalui berbagai kegiatan.

"Misalnya melalui lomba berbusana batik Garutan, lomba desain batik Garutan, bahkan setiap hari tertentu pemerintah daerah mewajibkan pegawai untuk memakai busana seragam Batik Garutan," tutup Ilham.

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.