Kisah Keberanian Gadis Rasjid di Tengah Pertempuran Bikin Chairil Anwar Kagum
Bagaimana seorang jurnalis perempuan, sempat membuat seorang penyair pejuang legendaris terkagum-kagum dan menaruh rasa hormat
Bagaimana seorang jurnalis perempuan, sempat membuat seorang penyair pejuang legendaris terkagum-kagum dan menaruh rasa hormat.
Penulis: Hendi Jo
Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
burung-burung merdu
hujan segar dan menyubur
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang "aku"
Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku
— mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak —
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
— the only possible non-stop flight.
Tidak mendapat.
Puisi manis itu tercipta di tahun 1948. Penulisnya siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar. Seniman Angkatan 45 yang dijuluki 'Si Binatang Jalang'. Chairil memberi judul puisi itu 'Buat Gadis Rasjid'. Siapakah dia?
Gadis Rasjid Sang Pemberani
Sabtu, 18 September 1948. Kekacauan terjadi Madiun. Orang-orang kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) dituduh sebagai biang keladinya. Pemerintah Sukarno-Hatta lantas menugaskan Divisi Siliwangi untuk menumpas gerakan yang dipelopori oleh Moeso, Amir Sjarifudin, Soemarsono dan tokoh-tokoh PKI lainnya.
Salah satu unit pasukan dari Divisi Siliwangi itu adalah Batalyon Kian Santang pimpinan Mayor Sambas Atmadinata. Menurut Himawan Soetanto dalam Perintah Presiden Sukarno: Rebut Kembali Madiun!, pasukan itu bergerak melalui Tawangmangu dengan menggunakan puluhan truk.
Di antara prajurit-prajurit yang siap bertempur itu, terseliplah seorang perempuan muda bernama bernama Gadis Rasjid, Dia merupakan seorang jurnalis dari tabloid mingguan Siasat.
"Ia adalah pemberani; sebagai seorang wanita kadang-kadang turut dengan pasukan terdepan, berjalan kaki sehingga menghabiskan telapak sepatunya," ujar Mayor Sambas seperti dikutip oleh A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid VIII: Pemberontakan PKI 1948.
Menurut Sambas, Gadis adalah saksi satu-satunya dari kalangan sipil yang mengalami secara langsung pertempuran-pertempuran seru antara pasukan Siliwangi dengan Tentara Merah (sebutan untuk pasukan-pasukan yang tergabung dalam FDR).
Sebagai jurnalis yang melekat (embedded), dia tahu bagaimana situasi operasi penumpasan. Termasuk menyaksikan kaum komunis membantai orang-orang yang dianggap musuhnya di sebuah desa bernama Gorang-Gareng.
Tidak hanya di palagan Madiun, Gadis juga aktif meliput berbagai pertempuran antara para gerilyawan republik dengan tentara Belanda di wilayah Cianjur utara. Laporan-laporan Gadis pun tak pernah absen mengisahkan kondisi rakyat kecil di tengah peperangan dan perjuangan mereka untuk lepas dari cengkaraman penjajahan.
Bisa jadi itulah yang membuat Chairil sangat mengagumi sepak-terjang perempuan kelahiran Bangkinang (Sumatra Tengah) pada 1923 tersebut. Terlebih di antara mereka terjalin persahabatan yang akrab. Gadis memang bukan perempuan yang dianggap Chairil sebagai 'salah satu cintanya'. Perhatian sang penyair kepada sang jurnalis tak lebih karena rasa kagum dan hormatnya terhadap aktivitas Gadis.
Menghipnotis Perempuan
Kepada Chairil, Gadis sendiri memiliki rasa kagum terhadap kepenyairannya. Dia paham, kendati penampilan sang seniman termasuk tidak menarik - dekil, bermata merah dengan rambut acak-acakan, namun kharisma dan pesona Chairil menghipnotis banyak perempuan.
"(Dia) banyak menarik perhatian para perempuan…" ungkap Gadis dalam buku Ajip Rosidi, Mengenang Hidup Orang Lain: Sebuah Obituari.
Karena keakraban itu pula, Gadis sempat meminta Chairil untuk menuliskan puisi khusus untuknya. Sang penyair kemudian mengabulkan permintaan itu dengan menulis sebuah puisi di atas yang kemudian dimuat dalam Siasat, edisi 2 Januari 1949.
Setelah Chairil meninggal pada April 1949, Gadis tetap setia di jalur jurnalisme. Dia kemudian berkibar sebagai jurnalis perempuan mumpuni di zamannya. Usai perang, petualangan ibu dari Ratna Apisa itu terus berlanjut. Saat bertugas itulah, berbagai negara dia pernah kunjungi termasuk Uni Sovyet dan Amerika Serikat, dua negara yang menjadi biang Perang Dingin.