Kesaksian Gadis Rasjid Tentang Kengerian Perang: Tumpukan Tubuh dan Darah
Begitu sampai di rumah itu, mereka melihat pemandangan yang sangat mengerikan: tumpukan tubuh manusia disertai genangan darah yang masih segar di lantai.
Sebagai seorang pencari berita, dia tak ragu untuk mendapatkannya di tempat-tempat berbahaya. Berjasa besar dalam pemberitaan sekitar upaya menjatuhkan Presiden Sukarno.
Penulis: Hendi Jo
Suatu hari di bulan September 1948. Seorang perempuan muda datang ke Batalyon Kian Santang Divisi Siliwangi di kawasan Tawangmangu. Dia memohon kepada komandan batalyon Mayor Sambas Atmadinata untuk ikut dalam pergerakan konvoi pasukannya ke Madiun.
Semula Sambas tidak menggubris permintaan itu. Namun setelah tahu bahwa perempuan tersebut adalah Gadis Rasjid, jurnalis perempuan terkemuka dari tabloid Siasat, maka tanpa ragu dia pun mengiyakan.
Gadis adalah satu-satunya jurnalis yang meliput langsung operasi penumpasan gerakan orang-orang Front Demokrasi Rakyat (FDR) di Madiun. Menurut Sambas, dengan menumpang salah satu dari puluhan truk pengangkut personel, Gadis ikut berdesak-desakan dengan para prajurit-Siliwangi.
"Ia adalah pemberani; sebagai seorang wanita kadang-kadang turut dengan pasukan terdepan, berjalan kaki sehingga menghabiskan telapak sepatunya," ujar Mayor Sambas seperti dikutip oleh A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid VIII: Pemberontakan PKI 1948.
Tumpukan Tubuh Manusia dan Genangan Darah
Bisa jadi Gadis adalah saksi satu-satunya orang sipil yang mengalami secara langsung pertempuran-pertempuran seru antara pasukan Siliwangi dengan Tentara Merah (sebutan untuk pasukan-pasukan yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat). Sebagai jurnalis yang melekat (embedded), dia tahu bagaimana baik-buruknya operasi penumpasan. Termasuk harus menyaksikan berbagai pembantaian demi pembantaian akibat perang saudara itu.
Salah satu 'kegilaan perang' yang tak pernah dia lupakan adalah saat dirinya ikut bergerak memasuki sebuah kampung di Madiun bernama Gorang-Gareng. Ceritanya, saat memasuki pertengahan kampung mendekati sebuah pabrik gula, tetiba Gadis dikejutkan oleh teriakan seorang prajurit di depannya.
"Tolong! Tolong! Palang Merah harap segera datang!"
Naluri jurnalistik Gadis pun bicara. Dia lantas bergegas mengikuti para petugas Palang Merah menuju komplek perumahan pabrik gula sesuai petunjuk sang prajurit. Tampaklah sebuah rumah yang terlihat lenggang.
"Tuh di sana lihatlah. Maaf saya harus jalan terus," kata si prajurit.
Seperti dikisahkan Gadis dalam majalah Kartini edisi 11-24 Februari 1985, begitu sampai di rumah itu, mereka melihat pemandangan yang sangat mengerikan: tumpukan tubuh manusia disertai genangan darah yang masih segar di lantai.
Ada yang sudah tidak bernyawa lagi, ada yang meraung kesakitan, ada yang perutnya tertembus peluru hingga usus-usus mereka terburai dan ada yang wajahnya sama sekali tak bisa dikenal karena dipenuhi luka dan darah.
"Lama-lama saya tak tahan juga dan segera mencari tempat yang sunyi guna menenangkan rasa gugup saya," kenang perempuan yang lahir di Bangkinang pada 1923 itu.
Trauma Mendalam
Dalam suasana yang menggetirkan itu, tak lama kemudian Gadis melihat seorang lelaki muncul dari tempat persembunyian. Dia menceritakan bahwa tubuh-tubuh yang tergeletak menyedihkan itu adalah para pegawai negeri, guru sekolah, polisi dan tentara yang menolak untuk ikut Tentara Merah.
Saat para Tentara Merah itu mendengar kabar bahwa Siliwangi tengah bergerak ke arah pabrik gula, mereka langsung melarikan diri. Namun sebelum pergi, mereka secara membabibuta menembaki seluruh tawanan. Sang saksi sendiri berhasil lolos dari maut karena saat terjadi pembantaian dia berhasil sembunyi di balik sebuah meja dan pura-pura mati.
Setelah menyaksikan kejadian itu, Gadis sempat merasa trauma. Bayangan mayat bergelimpangan dan suara orang merintih-rintih seolah tinggal di dalam benaknya. Situasi itu berlangsung berhari-hari dan membuatnya tak nyaman.
"Beberapa malam setelah (kejadian) itu, saya selalu mimpi menakutkan," ujarnya seperti yang pernah disampaikan kepada Ami Wahyu dalam majalah Femina No.16 Tahun 1987.
Tak Kapok
Namun bukan berarti situasi itu menjadikan Gadis kapok. Alih-alih menghindar, sejak itu dia malah kerap terlihat dalam berbagai palagan di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), termasuk saat dirinya harus masuk ke 'sarang' para gerilyawan Republik di wilayah Cianjur utara.
Laporan-laporan Gadis pun tak pernah absen mengisahkan kondisi rakyat kecil di tengah peperangan dan mengabarkan perjuangan para gerilyawan republik dari berbagai front.
Pasca perang, karirnya sebagai jurnalis terus berlanjut. Justru karena profesi itulah, dia bisa melanglangbuana ke berbagai negara seperti Uni Sovyet dan Amerika Serikat.
Ketika Presiden Sukarno menerapkan sistem demokrasi terpimpin, Gadis merasakannya sebagai masa-masa suram bagi karier kewartawanannya. Dia merasa tidak cocok jika harus larut dalam jargon 'pers terpimpin' dan 'pers nasakom'.
"Saya memutuskan untuk berhenti menjadi wartawan dan mencari hidup yang lebih aman dan tenteram," ungkapnya dalam Wartawan Wanita Berkisah.
Terakhir, Gadis kembali menerjunkan diri untuk meliput berita pada 1965-1967, ketika menjadi koresponden untuk sejumlah media luar negeri yakni Christians Science Monitor, New York Times dan UPI.
Dia juga banyak membantu pekerjaan-pekerjaan jurnalis-jurnalis kondang seperti Fred Emery dari London Times, Don North dari Canada Broadcasting dan John Hughes dari Christians Science Monitor. Untuk ketiganya, Gadis banyak memasok informasi-informasi menarik sekitar demonstrasi mahasiswa 1966 dan upaya gerakan politik untuk menjatuhkan Presiden Sukarno.