Hikayat Kuliner Melegenda Sate Ambal Khas Kebumen
Sate ambal merupakan kuliner terkenal dari Kebumen, Jawa Tengah. Disebut demikian karena berasal dari Desa Ambalresmi. Pada zaman kerajaan Mataram dulunya, daerah ini adalah sebuah kabupaten. Namun karena minimnya administrasi, kabupaten ini akhirnya melebur bersama dengan Kabupaten Kebumen.
Sate ambal merupakan kuliner terkenal dari Kebumen, Jawa Tengah. Disebut demikian karena berasal dari Desa Ambalresmi. Pada zaman kerajaan Mataram dulunya, daerah ini adalah sebuah kabupaten. Namun karena minimnya administrasi, kabupaten ini akhirnya melebur bersama dengan Kabupaten Kebumen.
Sekitar tahun 1983, ada seorang Demung tentara Pangeran Diponegoro bernama Sabar Wiryo Taruno. Dialah orang pertama yang menjajakkan Sate Ambal. Dahulu daerah sana masih sepi penduduk dan banyak dikelilingi hutan, karenanya Sabar menjajakan Sate Ambal miliknya dengan berkeliling menggunakan angkring pikulan. Tahun 1987 para anak keturunan Sabar Wiryo Taruno mulai meneruskan usaha leluhurnya hingga saat ini.
Menurut Rebo, seorang penjual Sate Ambal menuturkan, sepengetahuannya ada tiga nama penjual sate yang terkenal dan ia ketahui sejak dulu, ialah Santukit, Surip dan Kasman.
Rebo menuturkan sekilas tentang proses pembuatan Sate Ambal dan keistimewaannya yang terletak pada sambal tempenya.
"Kalau Sate Ambal yang istimewa itu ya sambel tempenya. Kalau bumbu rempahnya itu ada sekitar 12 macam. Bumbu itu semua buat ngrendem dagingnya selama 2 jam, habis itu baru ditusuk–tusuk. Nah kuah bumbu sisa ngrendem daging sate itu, buat bikin sambel dicampur dihaluskan sama tempe," tutur Paijan.
Ambalresmi, berjarak kurang lebih 12 KM dari pusat Kota Kebumen tepatnya di area Jalur Daendles, desa yang menjadi cikal bakal adanya kuliner lezat khas Kebumen bernama Sate Ambal ini dulunya merupakan suatu desa terpencil nan sepi dan tidak banyak yang melintas karena kondisi jalan yang kurang mendukung.
60 persen warga Desa Ambalresmi bermata pencaharian sebagai pedagang sate. Ada yang melakukan usaha secara turun temurun, dan tak sedikit yang baru merintis. Tak hanya menjajakan sate, warga di sana pun merupakan petani melinjo, petani palawija dan pembuat gula Jawa.
Dahulu desa ini merupakan bagian dari kawasan yang rawan akan kejahatan seperti penodongan dan pemalakan. Tak akan ada yang berani melintasi jalan ini di malam hari. Ketika malam menjemput, mereka akan bersiap untuk mencari mangsa, ini sebab desa ini dahulu menjadi sepi. Tak hanya desa Ambalresmi, tetapi mayoritas daerah di sepanjang jalan Daendles.
Seiring perkembangan zaman, penerangan mulai dioptimalkan, dan pembukaan jalur alternatif pantai selatan. Keadaan lambat laun berubah. Proyek ini membawa dampak positif bagi daerah–daerah selatan. Termasuk Desa Ambalresmi. Kondisi ini membuat peminat Sate Ambal melonjak drastis yang didominasi oleh pengendara yang melintas di jalur pantai selatan.
Beberapa pedagang memilih untuk tetap melestarikan konsep dagang dengan menggunakan angkring pikul, dan tak jarang yang mulai menginovasi proses penjualan Sate Ambal dengan konsep rumah makan dengan alasan agar pelanggan lebih nyaman. Hal ini bukan menjadi masalah yang berarti, tak ada persaingan, semua berjalan beriringan memperoleh pundi–pundi rupiah dari berjualan Sate Ambal.
Risman, seorang pegawai di salah satu rumah makan Sate Ambal H Tino yang mengadu nasibnya sejak awal tahun 2000an. Usai memahami seluk beluk kuliner bercitra rasa legit gurih ini, dia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Setelah menikah, ia memilih untuk mencoba membuka usaha bersama belahan jiwanya. Berharap akan mendapatkan pemasukan yang lebih guna menunjang kebutuhan hidup yang semakin kompleks.
"Saya kerja jadi karyawan di warung sate sudah lama, setelah saya menikah merasa bosen jadi karyawan akhirnya memutuskan untuk coba–coba merintis usaha jualan sate sendiri, modal nekat aja lokasi juga masih nyewa–nyewa," Tutur Risman saat diwawancarai merdeka.com.
Awal 2012 Risman bersama sang istri merintis warung Sate Ayam Khas Ambal 'Pak Risman'. Modal nekat dengan bekal ilmu ketika menjadi karyawan, ia dan sang istri, Siti meracik rempah–rempah untuk mengolah daging ayam menjadi Sate Ambal. Menurut Risman, secara umum bahan yang digunakan tidak ada yang berbeda, hanya masalah cara penyajian saja.
"Sebenarnya kalau resep sih sama ya setiap sate ambal cuman bedanya itu penangannya, intinya beda tangan beda rasa," lanjut Risman.
Setiap harinya Risman menghabiskan kurang lebih 10 kilogram daging ayam, 1 porsi sate dibanderol dengan harga Rp16 ribu. Berkat kerja keras dan kegigihannya, mereka kini memiliki pelanggan tetap yang didominasi dari lembaga–lembaga pemerintah. Tak jarang omsetnya melambung tinggi tatkala pesanan yang datang membludak pada momen–momen tertentu.
Reporter: Putri Oktafiani