LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. HISTORI

Fase Kedua Perlawanan DI/TII: Teror di Tanah Sumatera

Lama tenggelam dalam hubungan kerjasama dengan Orde Baru, pada pertengahan 1970-an para aktivis DI/TII mulai kembali mengangkat senjata. Rekayasa OPSUS?

2022-02-06 07:05:00
sejarah
Advertisement

Lama tenggelam dalam hubungan kerjasama dengan Orde Baru, pada pertengahan 1970-an para aktivis DI/TII mulai kembali mengangkat senjata. Rekayasa OPSUS?

Penulis: Hendi Jo

Suatu hari di tahun 1976. Teror melanda kota Medan. Sebuah bar bernama Apolo dan Bioskop Ria meledak dihantam bom. Beberapa hari kemudian, sejumlah gereja dan masjid serta gedung tempat dilangsungkan acara MTQ (Musabaqoh Tilawatul Qur’an) dilempari granat.

Advertisement

"Morev alias Momok Revolusiener mengklaim berada di balik aksi-aksi itu," ungkap Ken Conboy dalam Intel (Bagian II): Medan Tempur Kedua.

Morev merupakan sel baru yang dibentuk oleh para aktivis DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Sumatera Utara. Anggota Morev mayoritas terdiri dari anak-anak muda yang tak memiliki hubungan apapun sebelumnya dengan gerakan DI/TII.

Menurut Solahudin, Morev memang dibentuk sebagai organ teror oleh salah seorang tokoh DI/TII di Sumatera yakni Timsar Zubil, asisten tokoh DI/TII terkemuka Gaos Taufik. Istilah itu sendiri didapat setelah Timsar berdiskusi dengan Abdullah Umar (aktivis DI Medan) yang merupakan rekan seperguruan Timsar di Pesantren Gontor, Jawa Timur.

Advertisement

"Momok itu sendiri diambil dari kata Momoc, singkatan dari Mobile Moment Comande, nama pasukan khusus DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) Sulawesi Selatan pimpinan Sanusi Daris," ujar peneliti yang juga jurnalis itu.

Sel Bernama Komando Jihad

Sejak 1966, para tokoh DI/TII sejatunya sudah memilih alur kompromi dengan pemerintah RI. Bahkan pada 1965-1967, mereka dilibatkan secara aktif buat menghabisi PKI dan orang-orang Sukarno. Kerja sama erat itu berlanjut saat mereka terlibat dalam Opsus (Operasi Khusus) pimpinan Ali Moertopo guna menggembosi perolehan suara parta-partai Islam dalam Pemilihan Umum 1971.

Tetapi jalan kerja sama dengan Opsus ternyata hanya taktik politik para aktivis DI/TII. Mengacu kepada kasus Perjanjian Hudaibiyyah yang melibatkan kaum kafir Quraisy dengan umat Islam di era Nabi Muhammad SAW, mereka merasa sah melancarkan kerjasama sementara dengan pihak pemerintah RI. Setelah merasa kuat, maka perjuangan fase kedua pun akan dilangsungkan.

DI/TII lantas mengobarkan aksi teror di mana-mana. Tidak hanya di Medan, mereka pun membuat huru-hara di Bukittinggi, Aceh, Sulawesi Selatan, Riau dan Jawa. Dengan memanfaatkan jaringan lama seperti Tengku Daud Beureueh di Aceh, DI coba kembali membangun berbagai sel perlawanan. Salah satu sel mereka diberi nama Komando Jihad.

Penangkapan eks DI/TII

Menurut Solahudin dalam NI Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia, sejak awal BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) sudah mengetahui bahwa para aktivis eks DI/TII akan melakukan tindakan subversif. Setidaknya itu bisa disimpulkan dengan membiarkan Adah Djaelani dan kawan-kawannya menghidupkan kembali DI/TII.

"Mereka secara sengaja menunggu gerakan para eks DI ini membesar dan memulai aksi-aksi teror baru setelah itu mengadakan penangkapan-penangkapan terhadap mereka," ungkap Solahudin.

Analisa Solahudin dikuatkan oleh Busyro Muqodas. Menurutnya, ada unsur rekayasa politik dalam kasus Komando Jihad yang ditandai operasi intelijen melalui sebuah operasi rahasia.

"Selain itu, juga tampak jelas penyalahgunaan aparat militer yang bernaung di bawah Komando Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) di tingkat pusat dan Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda) di tingkat daerah," ungkap Busyro dalam ‘Hegemoni Rezim Intelijen’ disertasinya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Aloysius Sugiyanto hanya tertawa saja ketika diberitahu soal analisa Busyro itu. Menurut mantan orang kepercayaan Ali Moertopo itu, BAKIN dan OPSUS sama sekali tak berniat 'menjebak' para aktivis DI/TII dalam suatu kericuhan politik. Yang ada, kata Sugiyanto, OPSUS kecolongan karena para aktivis DI/TII itu menjadi tak terkendali.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.