Bandung Lautan Api: Usai Perdebatan Emosional, Bandung Akhirnya Dibumihanguskan
Diwarnai perdebatan keras antar komandan lapangan dengan panglima divisi, Bandung akhirnya diputuskan untuk dibumihanguskan.
Diwarnai perdebatan keras antar komandan lapangan dengan panglima divisi, Bandung akhirnya diputuskan untuk dibumihanguskan.
Penulis: Hendi Jo
Rapat itu berlangsung sangat alot dan menegangkan. Sesekali terdengar suara bernada tinggi. Dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid ke-1: Kenangan Masa Muda, A.H. Nasution mengakui jika pertemuan antara dirinya dengan para komandan yang menjadi bawahannya itu berlangsung sangat emosional.
Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba seorang kurir menyampaikan berita kalau wali kota Bandung telah memutuskan akan mengikuti perintah Jakarta: mundur ke luar kota. Merasa dikejar waktu, Mayor Rukana dari Polisi Tentara melontarkan usulan agar Bandung dijadikan lautan air saja. Caranya: meledakkan Sanghyang Tikoro (pusat Sungai Citarum) di Rajamandala agar airnya meluap menutupi Bandung dan sekitarnya.
Sementara itu, Letnan Kolonel Omon Abdurachman, Komandan Resimen ke-8 Priangan menyatakan penolakannya jika Bandung harus diserahkan bulat-bulat kepada pihak Sekutu. Karena itu, Omon menyarankan jika TRI melakukan dulu perusakan dan pembakaran sebelum meninggalkan Bandung agar gedung-gedung vital tidak sempat dikuasai Inggris dan Belanda.
Nasution Naik Darah
Mendengar usulan itu, Panglima Divisi III Kolonel Nasution naik darah. Sambil menggebrak meja dia membentak Omon: "Kamu masuk TRI untuk mematuhi seluruh perintah atasan! Sebagai komandan divisi, saya memerintahkan: kamu dan pasukanmu tidak boleh terlibat dalam gerakan pembakaran dan perusakan kota Bandung!"
Alih-alih menjadi takut, Omon malah balik berkata keras kepada komandannya tersebut: "Kalau kami tidak boleh melaksanakan pembakaran dan perusakan, maka sekarang juga saya meletakkan jabatan sebagai komandan Resimen Priangan! Saya akan berjuang bersama kaum ekstrimis!"
Usai mengucapkan kata-kata itu, Omon berdiri, menanggalkan tanda pangkatnya sambil meletakkannya di meja, memberi hormat lantas meninggalkan ruangan itu untuk bergegas menuju markas resimennya.
Perintah Nasution
Sepeninggal Omon, rapat divisi tak bisa memunculkan kata sepakat. Akhirnya, sekira jam 14.00, Nasution membuat suatu keputusan yang berisi empat perintah Panglima Divisi III TRI. Perintah itu adalah:
1. Semua pegawai dan rakyat harus keluar kota sebelum jam 24.00.
2. TRI harus menjalankan aksi bumihangus terhadap semua bangunan yang ada.
3. Sesudah matahari terbenam, Bandung Utara harus diserang dari utara dan sedapat mungkin harus pula dijalankan aksi bumi hangus di sana. Begitu pula dari selatan harus ada penyusupan ke utara.
4. Pos komando dipindahkan ke Kulalet (Dayeuhkolot)
Perintah Nasution sepertinya diolah dari hasil kompromi dirinya dengan para komandan yang ada di bawahnya. Sayangnya, itu dibuat tanpa koordinasi dengan Jenderal Mayor Didi Kartasasmita. Sementara Nasution memerintahkan pelaksanaan empat klausul itu, Didi masih secara tegas menolak ultimatum Inggris tersebut.
Yang terjadi kemudian justru perintah Nasution-lah yang dilaksanakan di lapangan. Soal itu sempat membuat berang Didi. Usai pembumihangusan Bandung, Didi memerintahkan kepala staf-nya (Kolonel Hidajat Martaatmadja) untuk 'mengadili' Nasution.
"Panglima Komandemen dan MBT harus tahu: saya tak mungkin mengorbankan 4 batalyon saya dengan persenjataan tak lebih dari 100 pucuk senapan untuk menangkis sebuah divisi Inggris berjumlah 12.000 prajurit yang sangat terlatih," demikian tangkis Nasution kepada Hidajat.
Perseteruan Didi dan MBT dengan Nasution kemudian ditengahi oleh Kepala Staf TRI Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo yang merupakan senior mereka saat di KNIL. Dalam suatu kunjungan ke markas Komandemen Jawa Barat di Purwakarta pada Mei 1946, Oerip menyatakan bahwa keputusan yang telah Nasution ambil terkait Bandung adalah keputusan yang terbaik.
Bandung Lautan Api
Malamnya puluhan ribu penduduk berduyun meninggalkan Bandung. Di tengah hawa dingin yang membekap, mereka berjalan ke arah luar kota dengan berbekal barang-barang yang bisa dibawa.
"Hati saya masih tetap terharu jika mengenang malam Senin 24 Maret 1946 itu," ujar Nasution dalam otobiografinya.
Sementara rakyat berduyun-duyun menuju luar kota, puluhan prajurit TRI dan laskar membakar rumah-rumah dan memasang bahan peledak pada gedung-gedung yang dianggap vital. Kendati berhasil diledakkan, namun sebagian besar gedung yang dibangun pada era Hindia Belanda itu tak jua hancur.
Namun Bandung pun perlahan tetap menjadi lautan api.