Ali Sastroamidjojo dan Bung Karno, Dua Kawan Lama yang Saling Mengagumi
Liku-liku persahabatan dua tokoh bangsa. Saling mendukung saat situasi sulit.
Liku-liku persahabatan dua tokoh bangsa. Saling mendukung saat situasi sulit.
Penulis: Hendi Jo
Dibandingkan nama Sukarno, Hatta dan Haji Agus Salim, nama Ali Sastroamidjojo mungkin masih asing di telinga sebagian besar orang Indonesia yang hidup saat ini. Padahal jika kita membuka buku-buku sejarah dan berbagai biografi tokoh bangsa, nama Ali Sastroamidjojo nyaris selalu hadir dalam setiap peristiwa sejarah penting di Indonesia sejak era pergerakan.
"Pak Ali itu satu angkatan dengan Bung Karno. Pada zaman pergerakan, mereka sama-sama aktif di PNI (Partai Nasional Indonesia) dan bahkan dia pernah dipenjara pula oleh pemerintah Hindia Belanda karena kegiatan politiknya," ujar Rushdy Hoesein.
Pernyataan sejarawan senior tersebut tentunya bukan basa-basi semata. Dalam otobiografinya Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (ditulis Cindy Adams), Sukarno beberapa kali menyebut nama Ali Sastroamidjojo dan memanggilnya secara akrab sebagai 'kawan lama'.
Pujian Ali untuk Sukarno
Sejak mengenal nama Sukarno saat belajar ilmu hukum di Belanda, Ali mengaku sudah menempatkan dirinya sebagai pengagum. Dia semakin kagum ketika pada akhir 1928 mengenal langsung Si Bung Besar secara pribadi di Yogyakarta. Saat itu sebagai anak muda berusia 25 tahun, dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana aksi Sang Singa Podium.
"Saya sangat terpukau oleh cara dan kata-kata yang digunakannya…" ungkap Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku.
Sejak itulah Ali bersahabat dengan Sukarno yang usia-nya lebih tua dua tahun darinya. Bahu membahu mereka membangun PNI dan menjadikannya alat untuk melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Akibat kegiatan politik itulah, Ali sempat masuk penjara.
Ali tidak lama ditahan di penjara. Dia kemudian dibebaskan dengan syarat tidak terlibat aktif lagi dalam kegiatan politik. Syahdan, tak lama setelah pembebasan itu, Ali diajak Sukarno untuk hadir dalam pidato umumnya di Madiun. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba Sukarno menawarkan Ali untuk menyampaikan pidato pokok.
"Tidak Bung. Bung tahu saya baru keluar dari penjara. Saya harus menjaga gerak-gerik saya…" tolak Ali.
Sukarno Perkenalkan Ali di depan Rakyat
Singkat cerita, tibalah waktu Sukarno bicara di depan khalayak. Seperti biasa, sebelum pidato, dia memanjatkan doa. Kemudian setelah meminum seteguk air putih, barulah dia melangkah ke atas mimbar dan berteriak lantang:
"Saudara-saudara! Di sebelah saya duduk salah seorang dari saudara kita yang baru saja keluar dari penjara, tidak lain karena dia berjuang demi cita-cita. Tadi dia menyampaikan kepada saya keinginannya untuk menyampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudara…"
Bukan main terkejutnya Ali mendengar kata-kata Sukarno itu. Dia sadar telah 'dikerjain' oleh sahabatnya itu. Namun, menurut Sukarno dalam otobiografinya, hal tersebut dia lakukan justru demi mengangkat mental Ali dan memberinya kepercayaan diri kembali. Selain itu, dia ingin memberi contoh konkret kepada rakyat tentang perlawanan kepada kaum kolonialis yang tak mengenal kata berhenti.
"Aku tidak mau menjerumuskannya dalam kesukaran. Akan tetapi secara psikologis hal ini penting buat yang hadir, supaya mereka bisa melihat wajah salah seorang dari pemimpinnya yang telah meringkuk dalam penjara karena memperjuangkan keyakinannya dan masih saja mau mencoba lagi."
Ali sendiri mafhum dengan maksud baik Sukarno. Walaupun awalnya merasa segan, nyatanya ketika didapuk berpidato, Ali tetap melangkah ke podium dan berbicara galak kembali di hadapan khalayak.