Rinaldy Yunardi dan Sebastian Gunawan, Desainer Indonesia di Balik Gemerlap Met Gala
Dua desainer Indonesia, Rinaldy Yunardi dan Sebastian Gunawan, tampil global lewat karya mereka yang dikenakan selebritas dunia di Met Gala.
Meski hingga kini belum ada satu pun figur publik asal Indonesia yang menjejakkan kaki di karpet merah Met Gala sebagai tamu resmi, namun Indonesia sejatinya sudah lebih dahulu menorehkan prestasi dalam ajang mode paling bergengsi di dunia itu lewat tangan dingin para desainer tanah air. Karya-karya mereka tidak hanya tampil sekali, melainkan berkali-kali menjadi bagian dari penampilan ikonis sejumlah selebritas dunia di ajang yang digelar tiap tahun oleh Anna Wintour dan Vogue tersebut.
Dilansir dari Liputan6, Met Gala bukan sekadar ajang pamer busana mewah. Ia merupakan panggung simbolik dari puncak kreativitas dan interpretasi mode terhadap isu sosial, agama, bahkan sejarah seni. Dalam kemewahan yang terkurasi itu, terselip nama-nama kreatif dari berbagai penjuru dunia, termasuk dua desainer asal Indonesia yang karyanya mampu menembus batas dan dikenakan oleh pesohor kelas dunia. Siapa mereka, dan bagaimana kisah di balik setiap detail rancangannya? Berikut ini adalah jejaknya.
1. Rinaldy Yunardi: Arsitek Aksesori yang Mendunia
Tidak berlebihan bila menyebut Rinaldy Yunardi sebagai maestro aksesori Indonesia. Pria yang akrab disapa Koh Yungyung ini telah berulang kali membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas geografis. Dalam tiga edisi Met Gala berturut-turut, karyanya berhasil melengkapi tampilan spektakuler para ikon dunia.
2017: Cassandra Ventura dan Anting Luar Angkasa
Kisah dimulai pada Met Gala 2017. Di ajang yang mengusung tema “Rei Kawakubo/Comme des Garçons: Art of the In-Between,” nama Rinaldy mencuat lewat sepasang anting berlian yang dikenakan oleh Cassandra Ventura alias Cassie, penyanyi sekaligus model asal Amerika Serikat.
Anting tersebut tidak sekadar perhiasan. Ia dirancang mengelilingi telinga bagian luar, menjadikannya pusat perhatian sekaligus mempertegas garis wajah Cassie. Dengan detail yang mencolok namun tetap elegan, aksesori ini sukses menyatukan elemen futuristik dengan kemewahan klasik, mencerminkan semangat tema malam itu.
2018: Madonna dan Imajinasi Katolik yang Sakral
Puncak pengakuan datang pada Met Gala 2018 yang mengusung tema “Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination.” Madonna, sang ikon musik yang kerap tampil dramatis dan teatrikal, memilih mengenakan gaun hitam dari Jean Paul Gaultier, dilengkapi kerudung berjaring dan aksesori kepala karya Rinaldy Yunardi.
Headpiece tersebut bukan sekadar hiasan. Terbuat dari kombinasi emas dan perak, dengan detail salib dalam berbagai ukuran, desainnya memadukan unsur keagamaan yang sakral dengan interpretasi artistik yang menggugah. Di bagian dada, Madonna mengenakan rosario besar bermotif salib perak juga karya Rinaldy yang tampil dominan dan menyatu dengan gaya gothic khas sang diva.
Rambut Madonna yang dikepang dua dan disampirkan ke depan menjadi bingkai sempurna bagi mahkota rancangannya. Tak cukup di panggung karpet merah, Madonna mengabadikan momen itu dalam dua unggahan Instagram dan menandai akun Rinaldy, menunjukkan apresiasinya terhadap sentuhan magis sang desainer. Ini bukan hanya pengakuan, tapi selebrasi karya anak bangsa di panggung dunia.
2019: Laverne Cox dan Eksplorasi "Camp"
Tahun berikutnya, Rinaldy kembali hadir di Met Gala 2019 yang bertema “Camp: Notes on Fashion.” Tema ini terinspirasi dari esai Susan Sontag yang mengeksplorasi estetika berlebihan, teatrikal, dan penuh ironi. Laverne Cox, aktris dan aktivis ternama, tampil memukau dengan gaun Christian Siriano yang ia padukan dengan headpiece karya Rinaldy Yunardi.
Dalam tampilan tersebut, Laverne mengenakan anting dari Anabela Chan, cincin dari Le Vian, clutch rancangan Judith Leiber, dan sepatu dari Kenneth Cole. Namun, aksesori kepala dari Rinaldy menjadi penanda kehadiran Indonesia yang nyata di pesta mode tahunan itu. Desainnya yang tajam dan teatrikal menyatu dengan gaun bernuansa edgy, menciptakan siluet megah yang mencuri perhatian media internasional.
Rinaldy Yunardi telah membuktikan bahwa desain aksesori dapat menjadi titik pusat gaya, bukan sekadar pelengkap. Dan lebih dari itu, ia membuktikan bahwa Indonesia tidak kalah berdaya saing di industri kreatif global.
2. Sebastian Gunawan: Elegansi Feminin yang Menembus Dunia
Dikenal dengan julukan “The King of Gown,” Sebastian Gunawan telah lama dikenal di kancah mode Indonesia dan Asia. Namun, siapa sangka gaun rancangannya juga pernah tampil di panggung Met Gala?
2019: Coral Chung dan Gaun Kupu-Kupu yang Penuh Makna
Pada Met Gala 2019, Coral Chen Chung pendiri sekaligus CEO merek tas mewah SENREVE menghadiri acara tersebut dengan mengenakan gaun rancangan Sebastian Gunawan. Lewat tulisan di situs resmi perusahaannya, Chung berbagi pengalamannya menghadiri Met Gala pertamanya dengan penuh kesan dan refleksi mendalam.
“Setelah membaca esai Susan Sontag dan menjelajahi berbagai variasi Camp, termasuk beberapa karya klasik Oscar Wilde, saya memutuskan membuat interpretasi yang merupakan campuran Louis XIV (pengadilan Camp yang asli) dengan gadis Harajuku masa kini,” tulisnya.
Untuk mewujudkan visi itu, Chung memilih gaun kupu-kupu berlapis pita ombre yang feminin, eksentrik, dan tetap elegan ciri khas Sebastian Gunawan. Gaun tersebut dipadukan dengan sepatu hak tinggi, hiasan rambut berbentuk kupu-kupu dari bulu Solene, serta anting dari Wendy Yue. Tak lupa, Chung juga mengenakan tas selempang SENREVE yang ia desain sendiri.
Penampilannya seolah menghidupkan dongeng kontemporer: lembut, eksentrik, dan penuh interpretasi pribadi. Pilihannya untuk mengenakan karya Sebastian Gunawan adalah bukti bahwa mode Indonesia mampu menjawab tantangan artistik Met Gala yang kompleks.
Sorotan Met Gala 2025: Kembalinya Ikon dan Kejutan Lainnya
Tahun ini, Met Gala 2025 mengambil tema “Superfine: Tailoring Black Style,” yang terinspirasi dari pameran dengan nama yang sama di Metropolitan Museum of Art. Tema ini menyoroti warisan dan kontribusi busana pria kulit hitam dalam sejarah mode global. Sebagai hasilnya, karpet merah (yang tahun ini berwarna biru) dipenuhi oleh interpretasi baru terhadap setelan jas dan tailoring sebagai bentuk ekspresi budaya.
Sejumlah bintang mencuri perhatian dengan penampilan mereka, membawa serta momen-momen istimewa yang tak terlupakan.
Beberapa momen yang paling diingat termasuk:
- Rihanna yang mengumumkan kehamilan ketiganya dengan gaun korset Marc Jacobs.
- Dua Lipa dan Callum Turner yang melakukan debut Met Gala mereka dengan busana Chanel serasi.
- Comeback spektakuler Diana Ross setelah 22 tahun absen, mengenakan gaun kristal rancangannya sendiri.
- Kehadiran tak terduga Kamala Harris, mantan Wakil Presiden AS, dalam gaun hitam-putih Off-White.
- Madonna yang kembali setelah terakhir hadir di 2018, kali ini dengan setelan sutra sampanye sambil menghisap cerutu.
Kehadiran karya Rinaldy Yunardi dan Sebastian Gunawan di Met Gala bukan sekadar kebanggaan personal atau prestasi industri mode lokal. Ini adalah bukti bahwa Indonesia memiliki tempat di panggung mode global, meski wujudnya tidak selalu berupa kehadiran fisik.
Mereka menorehkan jejak dalam sejarah mode dunia melalui detail, dedikasi, dan imajinasi. Setiap batu kristal yang dipasang, setiap potongan kain yang dijahit, membawa serta nilai budaya dan identitas bangsa.
Dari anting yang membingkai telinga Cassie, mahkota sakral Madonna, hingga gaun kupu-kupu yang memesona Coral Chung, semuanya berbicara tentang satu hal: kreativitas Indonesia layak mendapat tempat di antara bintang.