[Resensi Buku] Grimm\'s Fairy Tales: Versi gelap dongeng klasik
Siapa sangka, versi awal dongeng-dongeng romantis macam Cinderella justru dipenuhi 'darah'?
Rasanya hampir tak ada orang yang belum akrab dengan kisah Cinderella, Rapunzel, atau Putri Salju. Namun, bisa jadi tak banyak yang mengetahui kalau versi awal dongeng-dongeng romantis tersebut tak seindah versi Disney yang lebih populer.
Dari sekian banyak 'cerita asli' yang diyakini sebagai akar dari kisah Cinderella dan Rapunzel, versi milik Grimm Bersaudara merupakan salah satu yang paling terkenal. Kisah-kisah itu terangkum dalam The Grimm's Fairy Tales.
Buku yang berjudul asli Kinder-und Hausmarchen atau Children’s and Household Tales (1823) ini merupakan kompilasi dongeng yang dikumpulkan oleh Jakob Ludwig Grimm dari cerita rakyat dan dongeng yang disampaikan secara lisan oleh penduduk Jerman. Wilhelm Grimm merevisi cerita-cerita tersebut sebelum dipublikasikan agar isi dan pesan moralnya lebih sesuai untuk konsumsi anak-anak pada masa itu.
Photo credit
Dalam buku itu terdapat sekitar 200 cerita, di antaranya versi awal dongeng-dongeng terkenal seperti Snow White (Putri Salju), Rapunzel, Hansel & Gretel, Para Kurcaci & Si Pembuat Sepatu, Para Pemusik Kota Bremen, dan Thumbling (Inggris: Tom Thumb).
Berbeda dengan dongeng ala Disney yang lebih familiar, dongeng-dongeng Grimm memiliki plot yang sedikit berbeda. Dalam Little Briar Rose (Inggris: Sleeping Beauty) sang pangeran tidak bertarung dengan penyihir jahat untuk membangunkan seluruh istana. Sedangkan dalam Snow White, sang putri bukan terbangun karena ciuman pangeran, tetapi karena apel beracun yang tersangkut di tenggorokannya terlepas saat para pengawal tak sengaja menjatuhkan peti kaca tempatnya berbaring.
Dongeng-dongeng versi Grimm ini juga terkesan lebih gelap. Dalam cerita Aschenputtel (Inggris: Cinderella), kedua saudara tiri Aschenputtel memotong tumit mereka agar bisa mengenakan sepatu emas yang dibawa Pangeran. Tetapi Pangeran segera menyadari tipuan ini begitu kaki mereka mulai mengalirkan darah dalam perjalanan menuju istana. Kemudian pada akhir cerita keduanya menjadi buta karena mata mereka dipatuk sekawanan merpati.
Photo credit
Cerita-cerita lain dalam buku ini pun menampilkan unsur kekejaman yang sama. Sebagai contoh kuda sahabat sang putri dalam Goose Girl yang dipancung, para peserta sayembara dalam The Shoes That Were Danced to Pieces (Inggris: The Twelve Dancing Princesses) yang dihukum mati karena gagal menyelidiki penyebab rusaknya sepatu dua belas putri sang Raja, Bluebeard yang membunuh semua istrinya dengan sadis, dan para perampok dalam The Robber Bridegroom yang suka memutilasi dan menyantap gadis-gadis.
Bukan tak mungkin, kesadisan yang bertebaran di sepanjang buku ini dipengaruhi konsep 'kejahatan harus dibayar dengan nyawa' yang sampai beberapa abad lalu masih diyakini masyarakat luas.
Hal ini bisa dilihat dari banyaknya eksekusi dengan hukuman gantung, guillotine, atau peracunan dalam sejarah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dan semua itu karena kejahatan yang pada zaman modern ini diganjar dengan hukuman jauh lebih ringan.
Pada akhirnya, meskipun dongeng-dongeng Grimm telah dibumbui dengan nilai moral yang barangkali sesuai untuk anak-anak pada abad 19, mungkin Cinderella versi Disney memang lebih 'ramah' bagi anak-anak di zaman modern.
Resensi lengkap bisa dibaca di sini.
Baca juga:
[Resensi Buku] Satu buku untuk terwujudnya rumah belajar di Papua
Bernostalgia bareng buku Hits from The 80's & 90's
Didorong Taufik Ismail, buku Biografi Elly Kasim dilucurkan
[Resensi Buku] Shandy Aulia Izinkanmu Mengintip Buku Hariannya
[resensi buku] fatin shidqia sebar inspirasi untuk raih cita-cita