LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. GAYA

Profil Band Sukatani, Duo Dance-Punk Purbalingga yang Viral Akibat Lagu 'Bayar Bayar Bayar'

Sukatani, band dance-punk asal Purbalingga, dikenal dengan kritik sosial dalam musiknya yang berani dan kontroversial.

Jumat, 21 Feb 2025 11:13:00
band sukatani
Sukatani (@ 2025 merdeka.com)
Advertisement

Sukatani adalah duo band dance-punk yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah, dan telah mencuri perhatian banyak orang sejak dibentuk pada tahun 2022. Anggota band ini terdiri dari Muhammad Syifa Al Lutfi, yang dikenal sebagai Alectroguy, berperan sebagai gitaris dan produser, serta Novi Citra, yang akrab disapa Twister Angel, sebagai vokalis. Dengan penampilan yang unik, mereka sering mengenakan balaclava dan membagikan sayuran kepada penonton sebagai dukungan terhadap petani.

Musik yang diusung oleh Sukatani merupakan kombinasi genre post-punk dengan sentuhan new wave, terinspirasi oleh anarcho-punk era 80-an dan proto-punk. Lirik-lirik lagu mereka kerap menyuarakan kritik sosial, mencerminkan keresahan terhadap isu-isu yang ada di masyarakat. Pada Juli 2023, mereka merilis album berjudul 'Gelap Gempita' yang berisi delapan lagu, termasuk lagu yang menjadi viral, 'Bayar Bayar Bayar'.

Keberanian dalam Musik dan Kritikan Sosial

Sukatani menunjukkan keberanian dalam menyuarakan kritik sosial melalui musik mereka. Dalam setiap penampilan, mereka tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan yang mendalam mengenai isu-isu yang dihadapi masyarakat.

Dalam lirik-lirik mereka, Sukatani seringkali menyoroti ketidakadilan dan korupsi yang terjadi di sekitar. Mereka percaya bahwa seni adalah alat yang kuat untuk menyampaikan pesan sosial dan memicu diskusi. Hal ini sejalan dengan semangat anarcho-punk yang menjadi inspirasi mereka, di mana kebebasan berekspresi dan kritik terhadap kekuasaan sangat dijunjung tinggi.

Advertisement

Namun, keberanian ini juga membawa risiko. Banyak musisi di Indonesia yang pernah mengalami penindasan atau tekanan karena karya-karya mereka yang dianggap kritis. Sukatani pun tidak luput dari hal ini, dan kasus 'Bayar Bayar Bayar' menjadi contoh nyata bagaimana karya seni dapat memicu reaksi beragam dari publik dan pihak berwenang.

Perjalanan Musik yang Menarik

Sejak awal berdirinya, Sukatani telah menunjukkan komitmen untuk menyajikan musik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran sosial. Album pertama mereka, 'Gelap Gempita', menjadi langkah awal yang signifikan dalam karir mereka. Album ini berisi delapan lagu yang masing-masing memiliki tema yang relevan dengan kondisi sosial saat ini.Musik mereka yang terinspirasi oleh berbagai genre memberikan warna tersendiri dalam industri musik Indonesia.

Advertisement

Dengan menggabungkan elemen dance-punk dan new wave, Sukatani berhasil menciptakan suara yang fresh dan menarik perhatian. Mereka juga dikenal dengan penampilan panggung yang energik dan interaktif, membuat penonton merasa terlibat dalam setiap pertunjukan.

Nama 'Sukatani' sendiri diambil dari suasana desa yang asri dan makmur, mencerminkan harapan mereka untuk membawa perubahan positif melalui musik. Mereka ingin menunjukkan bahwa meskipun berasal dari daerah kecil, mereka mampu bersaing di industri musik yang lebih besar dan menyampaikan pesan yang penting.

Lagu 'Bayar Bayar Bayar' yang Viral

Lagu Lirik 'Bayar Polisi' Viral, Band Sukatani Minta Maaf & Karya Ditarik - Dukungan Mengalir dari Para Musisi Instagram @sukatani.band

Lagu 'Bayar Bayar Bayar' menjadi pusat kontroversi setelah dianggap menyinggung institusi kepolisian. Sukatani berusaha menjelaskan bahwa lirik tersebut tidak dimaksudkan untuk menyerang seluruh institusi, melainkan hanya oknum yang melanggar aturan. Namun, reaksi dari publik dan pihak berwenang tetap mengundang perhatian luas.

Permintaan maaf yang disampaikan melalui video di media sosial menunjukkan usaha band untuk meredakan situasi dan menghindari eskalasi konflik. Pihak Kepolisian sendiri telah mengeluarkan pernyataan yang membantah adanya represi atau larangan resmi terhadap lagu tersebut. Meskipun demikian, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana karya seni dapat diinterpretasikan dan diterima oleh berbagai pihak.

Advertisement

Kasus ini menjadi pengingat akan tantangan yang dihadapi musisi dalam menyampaikan kritik sosial. Kebebasan berekspresi dan hak untuk mengkritik adalah hal yang penting dalam demokrasi, tetapi juga perlu diimbangi dengan tanggung jawab. Seperti yang terlihat dari dukungan netizen terhadap Sukatani, perjuangan untuk kebebasan berekspresi di Indonesia masih terus berlanjut.

Berita Terbaru
  • Jumlah Agen BRILink Tembus 1,18 Juta, Volume Transaksi Capai Rp420 Triliun
  • Buronan Interpol Kasus Penipuan Online Jaringan Kamboja Ditangkap di Bandara Soekarno Hatta, Ini Peran Tersangka
  • Mengenal CNG yang Disiapkan Pemerintah Gantikan Elpiji 3 Kilogram
  • Emiten Produsen Emas, Hartadinata Abadi Tbk Resmi Masuk Indeks LQ45 BEI
  • BEI Perpanjang Suspensi Saham ZINC, Ini Alasannya
  • band sukatani
  • berita medsos
  • berita viral
  • konten ai
  • konten nais
  • lagu bayar bayar bayar
  • merdekagaya
  • nais
  • sukatani
Artikel ini ditulis oleh
Editor Dwi Zain Musofa
D
Reporter Dwi Zain Musofa
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.