Nomaden mengenalkan kopi enak ke publik Malang pakai gerobak
Setelah dikejar satpol PP, bisnis kopi milik Satya Sadinda justru makin laris. Kini punya kedai dekat alun-alun
Di negara ini, kopi biasa dinikmati di rumah, warung kopi, atau kafe. Siapa sangka, di Kota Malang, Jawa Timur, ada yang menjual kopi berkualitas dengan penyajian aeropress maupun dalam wujud espresso - tak kalah dari kafe-kafe - memakai gerobak.
Satya Sandida (28) bekerja serabutan empat tahun lalu, sampai akhirnya nasib mengantarnya ke dunia yang sekilas tak beririsan: ngopi dan bersepeda. Di kota yang terkenal berkat hawa dinginnya itu, Satya merintis penjualan kopi berkualitas memakai cara unik, sebab dijajakan dengan gerobak ditarik sepeda.
Pemuda kelahiran Semarang itu tertarik dengan seluk beluk kopi akibat kebiasannya nongkrong bersama kawan-kawan sesama penggemar sepeda di Kota Malang. Lambat laun, dia melihat potensi bisnis dari kopi.
"Dari situ, saya berpikir kenapa enggak sekalian menjual kopi sambil bersepeda," ujarnya kepada merdeka.com.
Tim Koffie Van Java bersama Portrait of Indonesia menyambangi Malang, Senin (30/5), merekam tradisi ngopi di Kota Pelajar itu. Kami menemui Satya di kedainya yang kini diberi nama 'Nomaden'. Lokasi kedainya menempati pojokan dekat alun-alun, persis sebelah Gedung Telkom Kota Malang.
Soal nama Nomaden, Satya beralasan dulu tak membayangkan bisa menyewa, apalagi memiliki kedai sendiri. Seperti lazimnya wirausahawan pemula, modalnya sangat cekak. Itulah sebabnya dia berpindah-pindah membawa gerobaknya menjajakan kopi pada warga Malang.
Bisnis ini dia rintis pada 2014. Rute yang biasa dia sambangi adalah Jalan Soekarno-Hatta, dekat Universitas Brawijaya. Setiap akhir pekan, Nomaden selalu membawa gerobak ke car free day.
Suasana Kedai kopi Nomaden Malang (c) 2016 Merdeka.com/Instagram
Saat memberanikan diri menjajakan kopi memakai gerobak, Satya mengandalkan jaringan kawan-kawan sepeda. "Bisa dibilang tanpa teman-teman sepeda, bisnis ini tak bisa berkembang," kata pemuda yang mengaku kenal semua pelanggan kedainya itu.
Butuh waktu lama meyakinkan warga Malang, bahwa kopi Nomaden tak kalah dari yang disajikan di kafe-kafe mentereng. Awalnya, banyak pembeli komplain. Satya dianggap terlalu lama menyajikan kopi. Dalam bayangan warga, kopi dijajakan dari gerobak sekadar kopi sachet.
"Sedangkan saya kukuh ingin mengenalkan kopi manual brew kepada konsumen. Lama-lama akhirnya orang bisa menerima," kata Satya.
Bisnisnya berkembang, sekaligus karena didukung promosi melalui Instagram dan Twitter. Dalam hari paling ramai, gerobak Satya bisa menjual 60 cangkir kopi. Rata-rata kopi itu dia jual Rp 15 ribu per cangkir.
Sayang, format bisnisnya dianggap tak berizin. Satpol PP Kota Malang mengancam akan menyita gerobak milik Nomaden. Kejadiannya pertengahan 2015. Akhirnya Satya memberanikan diri menyewa kedai yang dia tempati sekarang.
Beruntung, walau Nomaden tak lagi keliling dengan gerobak pembeli tetap berdatangan. Reputasi Satya sebagai penjual kopi jempolan berhasil menggaet pelanggan baru.
Ke depan, Satya punya harapan bisa kembali berkeliling kota Malang, menjajakan kopi memakai sepeda. Dia juga ingin membuka cabang baru.
"Karena namanya Nomaden, sehingga kita memang ingin berpindah-pindah," ujarnya.
(mdk/ard)