Museum jadi gudang kalau tak punya uang!
Berdebu, membosankan, sepi, dan tak terurus. Inilah anggapan sebagian besar orang, terutama anak muda, tentang museum.
Berdebu, membosankan, sepi, dan tak terurus. Inilah anggapan sebagian besar orang, terutama anak muda, tentang museum.
Museum yang seharusnya menjadi salah satu tempat menimba ilmu, selain di sekolah, kerap kali dijauhi karena terkesan kaku dan membosankan. Akibatnya, keberadaan museum kini seperti terpinggirkan dan dianggap kuno oleh kalangan muda.
Ketika ditemui di acara pembukaan Omah Munir, Minggu (8/12), Andi Achdian ikut mengamini bahwa memang banyak orang yang berpikir bahwa museum itu gudang. Oleh karenanya, menurut perancang Museum POLRI dan Omah Munir ini, agar jauh dari kesan gudang, sebuah museum harus bisa memadukan antara seni, teknologi, dan rancang bangun.
Kemudian, Andi juga menegaskan bahwa museum seharusnya bisa menjalin kerja sama dengan instansi pendidikan, sehingga bisa meningkatkan jumlah pengunjung.
"Orang-orang di Eropa mengerti betul tentang seni, karena mereka awalnya diajarin di sekolah kemudian datang ke museum. Jadi salah satu caranya, ya diharuskan," jelas Andi kepada merdeka.com.
Andi juga memaparkan bahwa ada tiga hal yang dapat meningkatkan jumlah pengunjung suatu museum, yaitu kemampuan riset, membangun kerja sama kelembagaan, dan inovasi.
Dari riset, pengelola museum dapat menemukan ide-ide baru dan cara tampil baru yang tidak membosankan. Selain itu, jika ingin tetap eksis, sebuah museum juga harus membangun kerja sama kelembagaan dengan pemerintah dan swasta melalui program kerja sama, seperti workshop, acara kunjungan, atau pemajangan benda-benda koleksi museum di mall sehingga bisa menjangkau masyarakat luas.
Terakhir, menurut dia, pengelola museum juga harus terus berinovasi dan melakukan penggalangan dana, karena museum akan jadi gudang kalau tak ada dana.(mdk/des)