LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. GAYA

Menyesap pekatnya Java Preanger sang penakluk Eropa

Dosis ini jauh lebih tinggi dibanding kopi-kopi di cafe perkotaan Indonesia.

2016-05-25 15:51:48
Kopi
Advertisement

Kabut sempat mampir sejenak ke tempat bermalam Tim Jelajah Merdeka 'Koffie Van Java' bersama Portrait of Indonesia di Wisma Boscha, Pangalengan, Jawa Barat.

Suhu di bawah 15 derajat celcius, Kamis (25/5) pagi waktu setempat lumayan memicu gigil, waktunya menjajal seduhan kopi Arabika yang beberapa abad lalu membuat publik Eropa mabuk kepayang; Menjajal secangkir Java Preanger. Ekspor utama Hindia Belanda itu pada abad 18 dinobatkan sebagai kopi ternikmat sedunia.

Setelah berkendara 15 menit dari villa menuju Dusun Pasirmulya, Desa Marga Mulya, kami bersua Kang Dedi (28) salah satu peracik kopi Perusahaan Malabar Coffee Mountain.

Advertisement

Jelajah Merdeka Koffie Van Java (c) 2016 merdeka.com/Ardyan M.E

Advertisement

Tak makan waktu lama, tim Jelajah Merdeka segera memesan seduhan kopi preanger single origin. Dedi menyarankan kami menjajal manual brew alih-alih mesin.

"Karena rasa aslinya akan lebih keluar" ujarnya.

Karena ketujuh anggota Koffie Van Java semuanya menggilai kopi, takaran kopinya pun lebih pekat mencapai 1:8, artinya delapan gram kopi untuk campuran 15 ml air. Dosis ini jauh lebih tinggi dibanding kopi-kopi di cafe perkotaan Indonesia.

"Kalau di kafe-kafe biasanya 1:15," kata Dedi.

Jelajah Merdeka Koffie Van Java (c) 2016 merdeka.com/Ardyan M.E

Kopi pun akhirnya tersaji. Setelah dicecap, rasa manis dan asam menguar di lidah bersamaan. Seimbang. Rasa manis tertinggal di lidah setelah beberapa saat.

Kopi yang kami nikmati adalah simpanan April 2016. Dedi menjelaskan setelah digoreng dan digiling jangan sampai kopi tak segera diseduh. Apalagi jika tempat penyimpanan selalu dibuka tutup. Rasanya akan apek.

Sayang, kami tak bisa lama-lama bersantai di Pasirmulya. Penjelajahan kami masih 8 hari, apalagi tujuan akhir kami di Jember. Kami pun mohon pamit kepada Kang Dedi.

Tim #GatsbyJelajahMerdeka didukung Toyota kini melanjutkan perjalanan menuju lokasi lain yang tak kalah asyik: penangkaran luwak yang menghasilkan salah satu kopi termahal di dunia.

Nantikan seri laporan berikutnya!

(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.