LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. GAYA

Malangku tak cantik lagi

Malang dulu dikenal sebagai kota dengan penataan kota terbaik pada masa Hindia Belanda. Namun bagaimana Malang Kini?

2012-11-09 21:00:00
Malang Kembali
Advertisement

Malang dikenal sebagai salah satu pusat kota pariwisata di Jawa sejak periode kolonialisme. Kota ini bahkan disebut dengan kota dengan perencanaan terbaik pada masa Hindia Belanda. Namun hal itu hanyalah kejayaan masa lalu karena Malang sekarang telah menjadi kota yang semrawut.

Konsep pembangunan yang tidak terarah dan terencana menjadi penyebab kesemrawutan Malang. Kota yang dulu indah tertata rapi kini dipenuhi terlalu banyak bangunan yang tanpa perencanaan berkesinambungan. Jalanan juga semakin macet dan dipenuhi papan reklame yang mengganggu pandangan. Hal tersebut seakan memudarkan pesona Malang sebagai sentra pariwisata di Jawa.

Budayawan Malang, Dwi Cahyono, menyebut Malang pada masa kolonial seakan sebagai theme park raksasa. Kota yang didesain oleh Thomas Karsten ini telah disusun sedemikian rupa sehingga penduduknya yang majemuk dapat melakukan aktifitasnya masing-masing. Malang dibagi menjadi beberapa sektor seperti pusat bisnis, pemerintahan, religi, militer dan lain sebagainya.

Pembagian tersebut memudahkan masyarakat beraktifitas. Keteraturan tersebut juga memudahkan bagi wisatawan yang berkunjung di malang.

Pemukiman pada masa kolonial pun terbagi ke dalam beberapa bagian. Pemukiman orang Eropa berada pada daerah di bagian barat Alun-alun, Kayutangan, Oro-oro Dowo. Orang keturunan China bertempat di daerah sekitar pasar Besar atau tenggara Alun-alun. Penduduk keturunan Arab bertempat di belakang Masjid Agung sedangkan pribumi bertempat di daerah selatan Alun alun.

Pembagian tersebut akan memudahkan pelaksanaan administrasi, cara pembangunan dan higienitas masing-masing daerah.

Pembangunan pada masa kolonial juga memperlihatkan Alun-alun sebagai pusat keramaian. Di sekitar alun-alun terdapat pusat pemerintahan, bisnis, agama. Alun-alun juga memperlihatkan pemerintah masa itu telah menyediakan ruang terbuka hijau bagi masyarakatnya.

Pembangunan jalan pun juga diperhatikan. Dalam perencanaannya tentang pembangunan dan perluasan kota Malang, Karsten telah membaginya ke dalam delapan tahapan. Karsten telah memprediksi Malang akan menjadi kota yang sangat besar, untuk mencegah kemacetan setiap pembangunan jalan telah dia rancang pada kedelapan tahapan tersebut. Bahkan dia telah merancang adanya jalan lingkar luar untuk mencegah kemacetan.

Hal tersebut sangat berbeda pada masa kini dimana pembangunan jalan utama tidak terencana. Hampir semua jalan-jalan utama yang ada pada masa kini adalah peninggalan zaman Belanda tanpa penambahan berarti. Maka wajar jika saat ini, kemacetan mudah sekali terjadi di Kota Malang karena pertumbuhan penduduk yang drastis sejak masa kolonial.

Kemacetan juga terjadi karena pembagian sektor bisnis, pemukiman, pemerintahan yang tidak jelas. Hal ini mengakibatkan meluasnya titik kemacetan di Malang.

Sungai pun menjadi korban modernisasi. Sungai Brantas dulunya sangat bersih dan menjadi salah satu pusat aktifitas masyarakat Malang. hal ini dikarenakan kewajiban bagi bangunan di sepanjang sungai untuk menghadap sungai.

"Karena sekarang semua bangunan sepanjang Brantas telah membelakangi sungai, wajar jika Brantas menjadi kotor," ungkap Dwi Cahyono.' Orang enggan menjaga kebersihan Brantas karena tak lagi menjadi halaman depan rumah mereka.

Bangunan pada masa lalu pun kini kurang diperhatikan. Padahal jika terawat dan termanfaatkan bangunan tersebut akan menjadi penarik turis untuk datang mengunjungi Malang untuk berwisata dan bernostalgia.

Semua carut-marut tersebut membuat Malang yang dulu nyaman ditinggali menjadi kota yang cukup menyesakkan. Aktifitas warganya menjadi terganggu kemacetan, banjir dan tanpa ruang terbuka hijau yang cukup untuk bersantai. Malang, kenapa kotaku tak cantik lagi?'

(mdk/ikh)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.