Kisah Danau Cisanti jadi markas Dipati Ukur melawan kolonial Belanda
"Iya di sini ada petilasan Eyang Dipati Ukur," terang salah satu warga sekitar saat merdeka.com ke sana, Kamis (15/12).
Selain menawarkan keindahan alam, Danau Cisanti di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung juga dikenal sebagai situs sejarah. Di sana terdapat petilasan Dipati Ukur.
"Iya di sini ada petilasan Eyang Dipati Ukur," terang salah satu warga sekitar saat merdeka.com ke sana, Kamis (15/12).
Tiket masuk untuk per orang dipatok Rp 10 ribu. Tanpa dikomando lagi, dua traveller Ashari Yudha Pratama Putra dan Andhika Bayi Nugraha yang ikut dalam tim Jelajah Merdeka 1.000 Danau mulai beraksi. Jeprat jempret di beberapa titik yang memiliki sudut pandang bagus.
Puas berburu foto, keduanya pun bersantai di dermaga kayu kecil yang berada di sisi kiri danau. Ngobrol asyik sambil ditemani Kopiko 78 C.
"Paling enak nih kopi. Ada berapa varian sih nih," tanya Yudha ke Andhika.
"Ada tiga Yud. Coffelatte, Caramel Frappe ama Mocharetta," jawab Andhika.
Memang cocoknya di udara dingin seperti ini ya ngopi Kopiko 78 C.
Berdasarkan informasi yang tertera di plang pintu masuk kompleks danau, Situ Cisantu merupakan salah satu tempat yang digunakan Dipati Ukur yang pada saat menjabat sebagai Wedana Bupati Priangan (1625-1628) untuk menggali nilai-nilai spiritual, mengatur strategi dan latihan perang pada saat melawan Kerajaan Mataram dan VOC.
Bagi warga Sunda, Dipati Ukur merupakan sosok heroik. Tanggal 12 Juli 1628, Dipati Ukur mendapat surat tugas Sultan Agung Mataram. Di dalam surat itu, Dipati Ukur diminta untuk mengerahkan pasukan dan membantu prajurit Mataram melawan VOC di Batavia.
Di bulan Oktober di tahun yang sama, Dipati Ukur bersama pasukan bergerak ke Karawang untuk menunggu pasukan dari Jawa bersama-sama menyerang Belanda.
Namun seminggu dinanti, pasukan Mataram tak kunjung datang. Dengan berbagai pertimbangan, Dipati Ukur memutuskan untuk menyerang VOC lebih dahulu sambil menunggu bala bantuan dari Mataram.
Dua hari berselang kemudian, pasukan Mataram baru tiba di Karawang dan mendapati Dipati Akur sudah tak ada di sana. Tersinggung karena merasa tak dihargai, bukannya membantu pasukan Sunda yang sedang mati-matian menggempur VOC pasukan Jawa ini malah memusuhi Pasukan Sunda.
Kondisi semakin rumit. Prajurit Mataram yang merasa dikhianati, dikabarkan mengganggu rakyat Dipati Ukur. Mendengar hal itu, Dipati Ukur memutuskan menghentikan peperangan dan kembali ke tanah Pasundan.
Perang antara pasukan Dipati Ukur dengan prajurit Mataram tak terelakkan. Dalam pertempuran tersebut, panglima dari Mataram lolos dan berhasil kembali ke Jawa. Dia lantas membuat propaganda dengan mengarang cerita bahwa penyerangan ke Batavia gagal dan melimpahkan kesalahan ke Dipati Akur.
Sultan Agung pun murka karena bagaimana pun juga mundurnya Dipati Ukur dari medan perang merupakan kerugian besar bagi Mataram. Intinya, penyebab kalahnya Mataram adalah karena mundurnya Dipati Ukur. Oleh karenanya, Dipati Ukur dicap penghianat dan mau memberontak kepada Mataram.
Jadi, karena Dipati Ukur dianggap memberontak maka Dipati Ukur pun oleh Sultan Agung pantas dihukum mati. Akhirnya Sultan Agung pun menyuruh Cirebon untuk menangkap Dipati Ukur hidup atau mati. Penumpasan Dipati Ukur itu dipimpin langsung oleh Tumenggung Narapaksa dari Mataram.
Dari kenyatan itu, Dipati Ukur kemudian sadar bahwa dirinya sejak sekarang harus menghadapi Mataram. Kekuatan pun di susun. Dipati Ukur mulai melobi beberapa bupati untuk juga melawan Mataram dan menjadi kabupaten yang mandiri.
Ajakan ini menimbulkan pro dan kontra. Sebagian ada yang setuju seperti Bupati Karawang, Ciasem, Sagalaherang, Taraju, Sumedang, Pamanukan, Limbangan, Malangbong dan sebagainya. Dan sebagian laginya tidak setuju. Di antara yang tidak setuju itu adalah Ki Somahita dari Sindangkasih, Ki Astamanggala dari Cihaurbeuti, dan Ki Wirawangsa dari Sukakerta.
Belum juga Dipati Ukur berhasil mewujudkan impiannya untuk mendirikan kabupaten mandiri yang lepas dari kekuasan Mataram tiba-tiba Bagus Sutapura, salah satu pemuda yang juga putra dari bupati Kawasen, wilayah Galuh yang dimintai tolong oleh Tumenggung Narapaksa keburu datang untuk menangkapnya. Terjadilah pertarungan sengit antar keduanya (dikabarkan hingga 40 hari 40 malam).
Setelah semua tenaga terkuras akhirnya Dipati Ukur pun dapat diringkus kemudian dibawa ke Cirebon untuk diserahkan ke Mataram. Dipati Ukur pun akhirnya di hukum mati di alun-alun Mataram dengan cara dipenggal kepalanya.