Khoai, 'tong sampah dunia' yang jadi rumah bagi para milyuner limbah
Wilayah ini menampung ratusan ton limbah kiriman dari negara-negara Asia dan Eropa.
Nama resminya adalah Minh Kai, tetapi desa ini lebih dikenal dengan nama Khoai yang berarti 'ketela'. Namun bukan pertanian ketela yang menjadikan desa ini dijuluki demikian. Dilansir VietNamNet Bridge (19/2), desa di Vietnam yang menuai reputasi sebagai 'tong sampah' dunia.
Khoai telah dikenal sebagai pusatnya sampah sejak dua dekade lalu. Setiap hari, truk pengangkut sampah menyambangi tempat ini dan membongkar muatannya. Sampah-sampah yang diangkut ke sini umumnya berasal dari tempat pembuangan sampah di kota besar seperti Hanoi.
Tak hanya sampah dari daerah-daerah lain di Vietnam, wilayah ini juga menampung limbah kiriman dari negara-negara Asia dan Eropa. Dilansir Our World, Vietnam setidaknya telah mendatangkan 340 ton sampah elektronik dari negara-negara barat.
Karena itulah, Do The Phuc, wakil ketua Komite Masyarakat Distrik Van Lam menyebutkan kalau Khoai merupakan tempat pembuangan sampah internasional. Menurut Phuc, jika Khoai tak ada, seluruh warga Vietnam akan menderita karena tak punya tempat untuk menyingkirkan sampah.
Photo source: Warwick Pearse
Khoai juga dikenal sebagai 'desa para milyuner sampah'. Pasalnya tak sedikit warga Khoai yang memperoleh harta berlimpah dengan memulung dan daur ulang sampah. Di sini, sampah-sampah tersebut akan didaur ulang menjadi produk baru dan dipasarkan kembali ke pasar-pasar tradisional.
Photo source: Warwick Pearse
Karena daur ulang limbah merupakan mata pencaharian utama bagi warga di sana, tak heran kalau sebagian besar area Khoai telah disulap menjadi 'pabrik daur ulang'. Nyaris setiap sudut di desa tersebut difungsikan sebagai tempat menumpuk sampah. Asap hitam dari proses daur ulang sampah plastik merupakan makanan sehari-hari bagi warga Khoai. Proses daur ulang lewat pembakaran ini juga mencemari air, menjadikan selokan Khoai tergenang air hitam pekat.
Photo source: Warwick Pearse
Saat ini, Khoai memang berhasil tetap hidup berkat sampah. Namun desa ini bagaikan bom waktu yang siap meledak, sebab permasalahan sampah di sana semakin gawat dari hari ke hari. Ditambah lagi pertumbuhan industri elektronik di Vietnam telah memicu permasalahan limbah elektronik yang cukup mengkhawatirkan.
Baca juga:
Robohnya pohon di Irlandia ungkap pembunuhan 1000 tahun lalu
Indonesia masuk deretan 8 lokasi buangan sampah negara-negara barat
Ini Klementinum Library, perpustakaan terindah di dunia
Melihat dari dekat sungai 'naga biru' Portugal yang hebohkan China
Forks, kota hujan di AS yang menuai rezeki berkat Twilight