Ini ritual ngeri yang dijalani suku Amazon untuk pembuktian diri
Untuk memasuki kedewasaan sekaligus menunjukkan kejantanan, pria di suku ini harus jalani ritual menyakitkan.
Transisi dari anak-anak menuju kedewasaan merupakan saat yang penting dalam kehidupan manusia. Karena itulah masa peralihan ini biasanya disambut dengan pesta, perayaan, atau tradisi khusus. Di negara-negara barat, masa peralihan ini disambut dengan pesta debut. Keluarga mengadakan pesta di mana anak gadis diperkenalkan secara resmi kepada khalayak untuk pertama kalinya.
Tetapi peralihan menuju kedewasaan tak selalu harus diwarnai dengan pesta dan kesenangan. Di beberapa budaya ritual tradisional merupakan bagian penting dalam inisiasi untuk menyambut kedewasaan seseorang. Dan ritual seperti ini tak jarang menyakitkan. Ada pemuda yang harus dipukuli, dicambuk, dipaksa minum racun, sampai disayat dengan pisau. Semua itu ditujukan untuk melatih mental dan ketahanan fisik orang yang diinisiasi, sehingga kelak dia bisa menjadi manusia yang kuat dan tabah dalam menjalani cobaan hidup.
Photo by sites.psu.edu
Salah satu ritual menuju kedewasaan yang menyakitkan yang dilakukan manusia adalah tradisi Suku Satere-Mawe. Suku yang hidup di pedalaman hutan Amazon memiliki tradisi mengerikan untuk mengantar pemuda menuju kedewasaan. Menurut Listverse, para pemuda suku yang hendak menuju kedewasaan harus menjalani ritual di mana tangan mereka dimasukkan ke dalam sarung tangan yang sudah diisi semut peluru selama sepuluh menit. Sekadar informasi, semut peluru adalah spesies serangga yang memiliki racun sangat kuat. Menurut Schmidt Sting Pain Index, tingkat rasa sakit akibat gigitan semut ini berada pada skala 1,0 - 4,0, bisa digambarkan seperti terbakar hidup-hidup. Dan rasa sakit itu bisa berlangsung selama berjam-jam atau sehari penuh.
Photo by www.myrmecos.net/Alex Wild
Ritual memasukkan tangan ke dalam sarung tangan berisi semut peluru itu dilakukan sampai 20 kali. Si pemuda harus menahan rasa sakit yang dia rasakan untuk membuktikan kejantanan dan kekuatannya. Dia tidak boleh berteriak atau mengeluh walaupun kadang ada saja yang sampai pingsan karena tak tahan dengan rasa sakitnya.
Photo by acritica.uol.com.br
Ritual ini merupakan bentuk pembuktian kejantanan dan kekuatan seorang pria di suku Satere-Mawere yang masih bertahan hingga sekarang. Meskipun kebudayaan lain bisa jadi menganggap ritual ini termasuk kejam.