Firsta Yufi Amarta Putri, Putri Indonesia 2025, Siap Guncang Miss Supranational dengan Kostum Roro Jonggrang!
Firsta Yufi Amarta Putri, Putri Indonesia 2025, akan mewakili Indonesia di Miss Supranational 2025. Ia akan tampil dengan kostum Roro Jonggrang.
Aura megah, kuat, sekaligus memikat begitu terasa saat Puteri Indonesia 2025, Firsta Yufi Amarta Putri, memperkenalkan kostum nasional yang akan dibawanya ke ajang Miss Supranational 2025 di Polandia. Bukan sekadar busana panggung, kostum ini hadir dengan tajuk yang menggugah: “Roro Jonggrang – Seribu Candi, Keteguhan Seorang Perempuan”—sebuah perwujudan kekuatan dan keteguhan hati perempuan dalam balutan karya seni yang memukau.
Roro Jonggrang: Ikon Lokal yang Jadi Sorotan Global
Dirancang oleh desainer kenamaan Deni Arthara, kostum ini terinspirasi dari tokoh perempuan legendaris dalam cerita rakyat Jawa, Roro Jonggrang. Sosok yang identik dengan keteguhan prinsip, kecerdasan, dan keberanian ini bukan hanya menjadi simbol budaya, tapi juga representasi kuat feminisme lokal.
"Roro Jonggrang dipilih karena kami melihat Fia (sapaan akrab Firsta) sebagai sosok yang begitu tangguh dan berani, menggambarkan Roro Jonggrang itu sendiri," ujar Deni saat peluncuran kostum di The Ice Palace, Kuningan, Jakarta Selatan, 28 Mei 2025, seperti dikutip dari Liputan6.com.
Di balik kisah cinta tragis antara Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, tersimpan filosofi mendalam tentang perlawanan terhadap dominasi dan penindasan. Roro menolak tunduk pada lelaki yang membunuh ayahnya, dan dengan kecerdasannya, ia mempertahankan harga diri meski harus dikutuk menjadi batu.
Keanggunan Merah dan Ornamen Candi: Keteguhan yang Menyala
Mengusung warna merah menyala sebagai dominasi utama, kostum ini memancarkan semangat dan keberanian. Warna tersebut dipilih karena mencerminkan karakter Roro Jonggrang yang tak gentar menghadapi tekanan.
Kostum ini dilengkapi dengan ornamen Candi Prambanan yang dibawa langsung oleh Firsta, menggambarkan simbolisme "seribu candi" dalam cerita rakyat yang ikonik itu. Menariknya, Deni menekankan bahwa penggambaran jin dalam proses pembangunan candi tetap menghindari unsur mistis, melainkan fokus pada kekuatan simboliknya.
Dengan berat berkisar antara 15–20 kilogram, kostum ini dirancang sedemikian rupa agar tetap praktis dibawa ke luar negeri tanpa mengurangi elemen artistiknya. “Request-nya memang tidak terlalu berat, karena akan dibawa jauh ke Polandia,” jelas Deni.
Material Tradisional Bertemu Desain Modern
Sebagai perwakilan budaya Indonesia, kostum ini tak lupa menyematkan unsur wastra Nusantara. Songket Palembang dipilih sebagai material utama, menggantikan batik yang semula direncanakan. Kombinasi ini menghasilkan perpaduan yang lebih harmonis dengan ornamen candi dari busa hati dan kain jaguar yang digunakan sebagai material utama.
“Siluetnya kami ambil belahan samping untuk menggambarkan kaki Firsta yang jenjang. Kami juga menambahkan batu-batu di bawah untuk merepresentasikan kisah Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi batu,” tambah Deni.
Keindahan kostum semakin disempurnakan dengan headpiece mewah bergaya kerajaan, menggambarkan status Roro Jonggrang sebagai seorang putri. Hiasan kepala tersebut juga dibentuk menyerupai stupa, menambah kekuatan visual serta spiritualitas yang mendalam dalam tampilan kostum ini.
Dikerjakan Kilat, Tapi Sarat Filosofi
Pengerjaan kostum ini terbilang super cepat—hanya 10 hari, dimulai sejak 11 Mei 2025. Meski begitu, Deni menyatakan puas atas hasil akhirnya. “Kalau waktunya lebih panjang, tentu akan lebih maksimal. Tapi hasil sekarang pun sudah luar biasa berkat kerja tim kami di Banyuwangi,” ucap Deni yang menggandeng seluruh tim dari kampung halaman Firsta sendiri.
Tak hanya tim desain, sejumlah pihak juga ikut berperan penting dalam mewujudkan penampilan ini. @revashion sebagai penata gaya, @bubahalfian untuk tata rias yang menggandeng produk @beautyqueenbymr, dan @windy_lazuardi sebagai hairstylist, semua berkontribusi menghadirkan sosok Roro Jonggrang masa kini dalam diri Firsta.
Reaksi Sang Ratu dan Misi Besar di Polandia
Saat pertama kali melihat kostum nasionalnya, reaksi Firsta cukup sederhana namun membumi. "Beratnya berapa?" tanya dia, menurut cerita Deni. Hal ini wajar mengingat Firsta harus memasang kostum ini sendiri selama berada di Polandia, tanpa bantuan penuh dari tim.
Walau persiapan terbilang singkat, semangat dan harapan besar mengiringi Firsta ke ajang Miss Supranational 2025. Deni berharap, kostum nasional ini bisa menjadi penambah semangat dan rasa percaya diri untuk Firsta dalam membawa nama Banyuwangi, Yayasan Puteri Indonesia (YPI), dan tentu saja Indonesia di mata dunia.
Lebih dari Sekadar Kostum: Sebuah Pernyataan Sosial
Kostum "Roro Jonggrang – Seribu Candi, Keteguhan Seorang Perempuan" bukan sekadar fashion showpiece, melainkan pernyataan identitas dan perjuangan perempuan. Melalui kostum ini, Indonesia mengirim pesan kuat bahwa nilai-nilai lokal seperti keberanian, kecerdasan, dan keteguhan hati perempuan tidak kalah penting dari tren global dalam memperjuangkan kesetaraan gender.
"Dalam cerita rakyat Roro Jonggrang, ia menunjukkan bahwa wanita bisa menjadi kuat dan mandiri dalam menghadapi kesulitan. Ia membuktikan bahwa wanita bisa menjadi agen perubahan dan memperjuangkan hak-haknya sendiri,” demikian disampaikan dalam pernyataan resmi tim Puteri Indonesia.
Menuju Malopolska: Harapan dari Tanah Air
Mulai bulan Juni mendatang, Firsta akan bersaing dengan lebih dari 70 finalis lainnya dalam berbagai rangkaian kegiatan Miss Supranational 2025 di Malopolska, Polandia, hingga malam penobatan yang dijadwalkan pada 27 Juni 2025. Di malam tersebut, Harashta Haifa Zahra, Miss Supranational 2024 asal Indonesia, akan memahkotai penerusnya.
Akankah Firsta mampu mempertahankan mahkota untuk Indonesia? Publik Indonesia berharap, dengan semangat Roro Jonggrang yang ia bawa, Firsta bisa melangkah jauh dan kembali dengan gelar kehormatan.
Yang jelas, dengan kostum nasional penuh makna ini, Indonesia tidak hanya hadir untuk berkompetisi, tapi juga menyampaikan pesan penting ke panggung dunia—bahwa kekuatan perempuan tak pernah padam, dari legenda hingga masa kini.