Dua Desainer Ini Buat Kaus Eco-Friendly dari Bubur Kayu dan Ganggang
Dua desainer ini buat kaus eco-friendly dari bubur kayu dan ganggang. Bisa diuraikan oleh bumi dalam waktu 12 minggu saja.
Saat ini masyarakat modern sudah semakin sadar lingkungan. Semakin banyak produk konsumsi dibuat dengan konsep ramah lingkungan. Misalnya kantung plastik yang mudah didaur ulang, peralatan makan berbahan serat gandum, hingga pakaian eco-friendly.
Menyadari andil sampah tekstil dalam penumpukan limbah, sejumlah perancang busana mencoba mewujudkan sandang ramah lingkungan. Ide ini diwujudkan dalam bentuk kaus eco-friendly oleh Nick dan Steve Tidball, duo kembar di balik brand Vollebak.
Berbahan Bubur Kayu Eukaliptus dan Beech
Dua bersaudara ini memproduksi kaus ramah lingkungan berbasis tumbuhan. Kaus terbuat dari ganggang dan bubur kayu. Bubur kayu yang digunakan berasal dari pohon eukaliptus dan beech. Bahan-bahan tersebut sengaja dipilih untuk menciptakan baju yang dapat diuraikan kembali oleh alam dengan mudah.
Tinta Hijau dari Ganggang
Bubur kayu berfungsi sebagai bahan utama kain. Sementara ganggang berfungsi memberi warna hijau pada baju. Berdasarkan penilaian dari Higg MSI, kain dari bahan ini hanya menghasilkan sisa penguraian sebesar 10 persen, jauh lebih rendah dari katun yang 60 persen.
Bahan-Bahan Sustainable
Melalui situs resminya, Vollebak menjelaskan kalau ganggang yang digunakan adalah hasil penanaman dari bioreaktor. Sementara batang pohon yang digunakan ditanam dan dikelola dengan konsep sustainability. Misinya adalah membuat pakaian yang fungsional, tahan lama, dan meninggalkan sedikit jejak karbon di bumi.
Didaur Ulang Sempurna dalam 12 Minggu
Jika kaus sudah tak dipakai, cukup dikubur di dalam tanah. Vollebak menyatakan bahwa durasi penguraian kaus hanya 12 minggu. Sesudanya tumbuhan lain akan tumbuh di kaus yang telah dikubur tersebut.
Jadi ini adalah kaus yang berasal dari alam dan berakhir di alam pula.
Reporter: Henry/Novi Thedora
Sumber: Liputan6.com