6 Cara Menyembuhkan Luka Batin atas Kematian Orang Tersayang
Kematian memang tak dapat dihindari. Begitu juga duka yang menyertai kepergian orang terkasih. Namun, berlarut-larut dalam kubangan kesedihan juga tak sehat.
Karena hidup manusia tak mungkin abadi, setiap orang pasti pernah mengalami kehilangan orang terdekat. Entah itu anggota keluarga, sahabat, atau kekasih.
Kematian memang tak dapat dihindari. Begitu juga duka yang menyertai kepergian orang terkasih. Namun, berlarut-larut dalam kubangan kesedihan juga bisa mengakibatkan gangguan stabilitas mental terhadap orang-orang yang ditinggalkan.
Jadi, apa yang bisa dilakukan? Berikut ini beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menyembuhkan luka batin akibat kematian orang tersayang.
1. Menerima Kenyataan bahwa Orang Itu Sudah Tak Ada
Dilansir Psychology Tools, William Worden memperkenalkan TEAR sebagai langkah yang perlu dilewati seseorang untuk menyembuhkan diri dari duka akibat kematian orang tersayang. TEAR terdiri dari empat langkah yang tidak harus dikerjakan secara berurutan dan bisa diulang-ulang sampai kondisi mental membaik.
Langkah pertama adalah T, to accept the reality of the loss. Menerima kenyataan bahwa orang tersayang sudah meninggal mungkin awalnya sulit dilakukan. Menolak kenyataan adalah respons lazim untuk menghindari kesedihan, terutama jika mendiang meninggal akibat peristiwa tragis seperti kecelakaan.
Walaupun begitu, tindakan ini bisa menghalangi periode berduka yang memang harus dijalani dan pada gilirannya bisa membuat Anda lebih terluka. Salah satu alasan prosesi pemakaman dilakukan adalah untuk membantu anggota keluarga menerima kenyataan atas meninggalnya mendiang.
2. Membiarkan Diri Merasakan Duka dan Memprosesnya
Langkah selanjutnya dari model TEAR Worden adalah E, experience the pain of the loss. Biarkan diri Anda merasakan seluruh emosi yang hadir bersamaan dengan duka. Mungkin kebanyakan dari kita diajarkan untuk membuang emosi negatif atau terlihat kuat setiap waktu. Padahal, membiarkan diri berduka juga bisa menjadi cara untuk membuat duka itu sendiri lebih cepat berlalu.
Menghindari emosi negatif tidak membuatnya pergi begitu saja, jadi ada baiknya jika Anda merasakan emosi itu sepenuhnya. Worden juga menyadari kalau setiap orang bisa merasakan emosi yang berbeda saat berduka. Ada yang merasa sedih, rindu, marah, menyesal, kecewa, atau bahkan merasa bersalah.
Penting untuk menghadapi semua emosi itu secara langsung dan kemudian mengatasinya. Salah satunya adalah dengan curhat atau konseling psikolog.
3. Beradaptasi dengan Kehidupan Baru tanpa Mendiang
Langkah selanjutnya adalah A, adjust to a new life without the lost person atau beradaptasi dengan kehidupan yang baru tanpa kehadiran mendiang. Butuh waktu untuk bisa melakukan hal ini.
Prosesnya berbeda untuk setiap orang. Mungkin caranya dengan melakukan sendiri aktivitas-aktivitas yang dulu biasa dilakukan bersama mendiang. Bisa juga dengan belajar membuka diri terhadap orang lain. Anda pun mungkin perlu belajar hal-hal baru yang dulu dilakukan mendiang untuk Anda.
4. Membuka Lembaran Baru dengan Realitas yang Ada
Langkah keempat adalah R, reinvest in the new reality. Hal yang dimaksud dengan 'berinvestasi ke realitas yang baru' oleh Worden adalah terus menjalani hidup, membuka lembaran baru, dan berusaha menemukan kebahagiaan baru sambil tetap menyimpan mendiang di dalam hati.
Hal ini juga dilakukan dengan cara yang berbeda oleh setiap orang. Namun, bagi sebagian besar, caranya adalah dengan menciptakan koneksi yang baru dengan manusia lain atau aktivitas baru yang bisa memberikan makna kembali kepada kehidupan.
5. Fokus terhadap Pikiran Positif
Setelah menjalankan TEAR, sekarang saatnya memasuki periode baru dalam hidup. Mungkin sesekali Anda masih merasakan rindu, sedih, atau emosi negatif lainnya. Namun, sekarang sudah saatnya Anda lebih fokus terhadap pikiran-pikiran positif.
Menurtu Shoba Sreenivasan, Ph.D., dan Linda E. Weinberger, Ph.D. seperti dilansir Psychology Today, pikiran negatif akan membuat luka karena duka kehilangan orang terdekat tak kunjung sembuh. Anda akan terus-terusan berkubang dalam duka. Tak hanya kondisi mental, kualitas hidup pun ikut menurun.
6. Mintalah Dukungan Orang Sekitar
Sebagian besar orang yang berduka akan menunjukkan gejala psikologis seperti pikiran negatif, stres, dan suasana hati yang buruk. Bagi beberapa orang, duka bahkan bisa memicu gangguan fisik seperti asam lambung, sakit kepala, nyeri di dada, atau kesulitan bernapas. Jika Anda mengalami kondisi ini, jangan segan meminta dukungan dari orang sekitar untuk berbagi perasaan.
Tak jarang, bercerita dan didengarkan bisa menjadikan proses berduka lebih muda dilalui. Keberadaan support system sangat dibutuhkan untuk masa-masa seperti ini. Jadi, jangan dipendam sendiri.
Demikian beberapa tips yang bisa dicoba untuk self-healing setelah berduka akibat kematian orang tersayang. Ingat, Anda tak sendirian!
(mdk/tsr)