Walau 44 polisi tewas, Filipina klaim sukses bunuh otak Bom Bali
Zulkifli bin Hir, teroris kawakan Malaysia, terbunuh usai 392 polisi menyerbu markas pejuang Moro.
Militer Filipina mengklaim Zulkifli bin Hir alias Marwan, tewas dalam serangan yang mereka gelar kemarin malam (27/1). Petinggi Jamaah Islamiyah itu selama ini berada dalam lindungan Pasukan Pejuang Bangsa Moro (BIFF).
Operasi berskala besar digelar militer Filipina setelah pada sehari sebelumnya, 44 polisi dibunuh Barisan Pembebasan Islam Moro (MILF) saat mencari Zulkifli di pinggiran Kota Mamasapano, sebelah selatan negara mayoritas Katolik itu.
Stasiun televisi Channel News Asia, Rabu (28/1), menyatakan Presiden Filipina Benigno Aquino memerintahkan Kementerian Pertahanan mengevaluasi mengapa serangan awal memicu banyak korban dari sisi aparat.
Adapun Zulkifli disebut-sebut otak utama serangan Bom Bali 2002 bersama Dr Azahari. Pria asal Malaysia ini bergabung di banyak jaringan teror dan memiliki kemampuan khusus merakit bom. Zulkifli punya andil pada berbagai aksi teror di kawasan. Diduga kuat, dia yang menyediakan rencana aksi di sisi teknis bagi para militan, terutama untuk meledakkan bom.
Amerika Serikat menjadikan Zulkifli salah satu target buruan utama di Asia Tenggara. Sosoknya dihargai USD 5 juta hidup atau mati. Pria 48 tahun itu pernah bekerja di AS sebagai insinyur.
Filipina dan MILF sudah menandatangani perjanjian damai pada 2014. Namun serangan untuk memburu Zulkifli pada Senin lalu oleh polisi antiteror tidak dikoordinasikan. Tentara dari minoritas Islam yang menuntut otonomi khusus mengira pasukan Filipina menyerang basis mereka.
Alhasil, 392 polisi merangsek ke hutan diberondong oleh pasukan MILF yang berjaga di atas bukit. Tentara muslim di Pulau Mindanao itu masih cukup kuat, saat ini berjumlah 10.000 orang.
(mdk/ard)