Ultimatum bagi sang presiden
Pemimpin oposisi Ukraina menuntut presiden segera menggelar pemilihan umum dalam waktu 24 jam.
Bagi demonstran Ukraina pendukung Uni Eropa, dua hari lalu adalah Rabu Kelabu. Polisi memukuli dan menembaki mereka di Ibu Kota Kiev.
Sejumlah sukarelawan medis dan wartawan ikut terluka dalam insiden itu. Kementerian Dalam Negeri mengumumkan 70 orang ditangkap. Pejabat kesehatan dan polisi menyatakan dua orang tewas akibat luka tembakan pada bentrokan di Rabu Kelabu itu.
Perdana Menteri Mykola Azarov mengatakan polisi tidak menggunakan peluru tajam dan pemimpin oposisi harus bertanggung jawab.
Mereka berdemonstrasi menentang keputusan Presiden Viktor Yanukovych ogah menjalin hubungan bilateral lebih erat dengan Uni Eropa. Dia tidak mau mengkhianati perjanjian perdagangan dengan Rusia seperti dilansir BBC bulan lalu. Unjuk rasa itu dimulai sejak November.
Pemimpin oposisi Ukraina Vitali Klitschko meminta presiden segera menggelar pemilihan umum dalam 24 jam atau mereka akan mengadakan demo lebih luas.
"Besok jika presiden tidak merespon maka kita akan menyerang," seru Klitschko mengumumkan ultimatumnya.
Memburuknya demonstrasi belakangan ini juga dipicu oleh undang-undang yang menetapkan polisi akan menindak para pengunjuk rasa yang melawan.
"Jika Yanukovych tidak menerima ultimatum maka besok kita akan maju bersama. Jika kita harus ditembak di kepala maka biarlah itu terjadi dengan cara penuh kejujuran dan keberanian," kata pemimpin oposisi lainnya Arseniy Yatsenyuk.
Sejauh ini presiden menunjukkan dia tidak mau berkompromi kepada paa pengunjuk rasa.
Pemerintah tetap memerintahkan pasukan keamanan memperketat penjagaan, termasuk menutup sejumlah jalan dan menembakkan meriam air kepada para demonstran.
Baca juga:
Ukraina kembali memanas, dua pengunjuk rasa tewas
Bentrokan panas sesama anggota parlemen hiasi rapat APBN Ukraina
Yanukovych tuding pesepak bola Inggris jadi sebab krisis politik
Sepasang kekasih ini nikah di tengah demo besar-besaran Ukraina
Lima kematian paling konyol sejagat