Terhempas gelombang, 12 ABK WNI terdampar di Somalia
Kepolisian Puntland sudah berhasil mencapai lokasi kandas kapal. Namun belum bisa melakukan evakuasi karena medan berat.
Sebuah kapal ikan Korea yang dioperasikan oleh Yaman, kandas di pantai El Merina setelah terhempas di perairan Somalia. Dilaporkan kapal bernama Al-Aman tersebut, mengangkut 32 ABK yang 12 di antaranya adalah WNI, termasuk kapten kapal.
Mendengar hal tersebut, pihak Kemlu segera mengontak salah satu ABK WNI melalui telepon satelit. Pihak Kemlu segera bertindak mengingat daerah tersebut masih rawan akan perampokan.
"Segera setelah mendapatkan informasi tersebut (5/8), kami mengontak salah seorang ABK via telepon satelit. Kami memperoleh info bahwa kondisi seluruh ABK baik akan tetapi pemilik kapal dan operator tidak memiliki contigency plan yang jelas", terang Yoshi Iskandar, koordinator squad perlindungan wni di KBRI Nairobi dalam rilisnya, Sabtu (8/8).
Berbagai upaya dilakukan, salah satunya dengan mendorong berbagai pihak ikut bersama melakukan pengamanan terhadap kapal dan para ABK tersebut.
"KBRI Nairobi diminta lakukan koordinasi dengan Kepolisian Provinsi Puntland di Somalia untuk melakukan evakuasi ke airport terdekat dan teraman. Kami juga melakukan koordinasi Combined Maritime Forces (CMF) yang melakukan patroli reguler di perairan Somalia, serta Kantor PBB untuk Penanggulangan Narkoba dan Tindak Pidana (UNODC)", demikian lanjut Yoshi.
Usaha lainnya adalah dengan memanggil Kedutaan Besar Korea di Jakarta. Pemerintah Korea diminta mendesak pemilik kapal untuk mengupayakan penyelamatan seluruh ABK, memindahkan ke tempat aman, memulangkan mereka serta memenuhi hak-haknya.
Kemlu juga meminta Kedubes Korea untuk berkoordinasi dengan CMF karena Korea adalah anggota CMF dan memiliki satu kapal perang yang beroperasi di perairan Somalia.
Hingga kemarin, Kepolisian Puntland sudah berhasil mencapai lokasi kandas kapal. Namun belum bisa melakukan evakuasi karena medan yang sangat berat.
Pada saat yang sama KBRI terus lakukan koordinasi dengan pihak-pihak lain yang terkait dan terus berkomunikasi dengan WNI yang masih berada di atas kapal.
(mdk/rep)