Temui Obama, PM Israel minta dana agar militernya terkuat di Teluk
Walau punya nuklir, Netanyahu takut pada Iran. Minta dana bantuan dari AS naik jadi USD 5 miliar/tahun
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemarin (9/11) mengulang lawatan ke Amerika Serikat, kali ini khusus menemui Presiden Barack Hussein Obama. Dalam pertemuan di Gedung Putih itu, keduanya membahas isu keamanan Timur Tengah.
BBC melaporkan, Obama berharap Israel memiliki strategi nyata menghadapi rangkaian kekerasan yang kini meningkat di Yerusalem Timur, khususnya kompleks Masjidil Aqsa. Dua bulan terakhir, polisi Israel menembak mati puluhan warga Palestina. Sebaliknya, penduduk Tepi Barat diduga melancarkan aksi penusukan pada warga maupun aparat Israel.
"Saya berharap pihak-pihak bertikai duduk bersama membahas kemungkinan damai," kata Obama dalam jumpa pers selepas pertemuan.
Adapun Netanyahu punya dua agenda utama dalam lawatan ke Washington D.C kemarin. Pertama, dia ingin membicarakan teknis kesepakatan nuklir AS dan Iran yang dicapai dua bulan lalu. Israel sangat menentang perjanjian itu, karena Negeri Para Mullah tak bisa dijamin menggunakan nuklir untuk kepentingan damai belaka.
Kedua, Netanyahu hendak melobi AS untuk meningkatkan bantuan dana bagi pengembangan militer Israel. Selama ini, Washington rutin memberi hibah kepada Tel Aviv setidaknya USD 3,8 miliar per tahun, mencakup bantuan ekonomi, militer, dan permukiman.
Negeri Zionis berharap anggaran bantuan AS bisa ditingkatkan menjadi USD 5 miliar per tahun, seperti dilansir Jerusalem Post, Minggu (8/11). Bantuan militer Negeri Paman Sam kepada Israel lebih tinggi dibanding negara manapun.
"Peningkatan dana bantuan militer ini penting, lantaran Israel dan Amerika adalah sekutu dekat untuk menjaga kepentingan masing-masing," kata sumber dari pemerintahan Israel yang menolak disebut namanya.
Peningkatan paket bantuan itu akan dikaji oleh Kongres. Namun mengingat jejaring Zionisdi kalangan Senator AS, hampir pasti permintaan Israel akan dikabulkan. Terakhir kali dibahas, sudah ada tanda-tanda bantuan AS ke Israel dinaikkan, tapi cuma kisaran USD 600 juta saja.
"Saya yakin sepekan setelah kunjungan (PM Netanyahu) ke Washington, peningkatan nilai bantuan akan disetujui," imbuh pejabat bidang pertahanan Israel tadi.
Israel sangat paranoid dengan Iran yang memiliki teknologi pengayaan uranium. Sampai sekarang, Republik Islam Iran tidak mengakui eksistensi Israel. Di masa kepemimpinan Presiden Mahmud Ahmadinejad, negara mayoritas penganut Islam Syiah ini pernah secara terbuka berjanji menghapus republik Zionis itu dari peta dunia.
Saling gertak Israel-Iran rutin terjadi saban tahun. Dibanding Arab Saudi yang berpengaruh di Timur Tengah tapi tidak memiliki teknologi nuklir, militer Zionis lebih merasa terancam dengan Iran maupun sayap paramiliternya, Hizbullah.
"Iran, dengan bantuan Hizbullah dan sekutunya, mampu menghancurkan Tel Aviv dan Haifa jka terjadi perang dengan Zionis," kata Jenderal Yahya Rahim Safavi.
Hulu ledak jarak jauh maupun menengah Iran, yakni seri rudal Fajr, diperkirakan mencapai 80 ribu unit. Semuanya bisa menjangkau wilayah Israel.
Untuk menangkal Iran, Israel menggandeng Arab Saudi. Pertemuan wakil Tel Aviv-Riyadh bertemu di sela-sela forum Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat, 7 Juni 2015.
Tujuan dialog itu adalah membahas strategi menangkal Iran yang terus berambisi memiliki nuklir. Dirjen Kementerian Luar Negeri Israel Dore Gold mengatakan pihaknya dan Saudi punya kepentingan beririsan. "Bukan berarti (Israel-Saudi) telah menyelesaikan semua masalah dan perbedaan selama ini, tapi harapan kami, isu-isu bersama dapat kami atasi di tahun-tahun mendatang," kata Gold.
Saudi diwakili Anwar Majed Eshki, purnawirawan yang dulu menjabat sebagai penasehat Dubes Saudi untuk Amerika Serikat. Bekas jenderal berpengaruh di Negeri Petro Dollar ini percaya para mullah penguasa Iran berambisi menguasai Timur Tengah. "Ada tujuh skenario yang dipersiapkan Saudi untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah," kata Eshki.
Sekadar informasi, di kawasan Teluk, cuma Israel yang sudah dipastikan memiliki senjata nuklir. Tapi Negeri Zionis itu selalu membantah tudingan pelapor PBB maupun sumber dari internal militer mereka yang dikutip surat kabar dunia. Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter mengatakan Israel memiliki lebih dari 300 hulu ledak nuklir.
(mdk/ard)