Suara berbeda dari media arus utama tentang Korea Utara
Suara berbeda dari media arus utama tentang Korea Utara. Pemberitaan media Barat tentang Korea Utara biasanya tidak jauh-jauh dari soal kejam dan bengisnya Kim Jong-un, negara yang tertutup dan membahayakan rakyatnya atau kondisi negara yang morat-marit ekonominya serta rakyatnya kelaparan.
Pemberitaan media Barat tentang Korea Utara biasanya tidak jauh-jauh dari soal kejam dan bengisnya Kim Jong-un, negara yang tertutup dan membahayakan rakyatnya atau kondisi negara yang morat-marit ekonominya serta rakyatnya kelaparan. Namun segelintir pengamat punya pandangan berbeda. Dr Loretta Napoleoni adalah salah satunya.
Napoleoni adalah pakar terorisme khususnya isu Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sekaligus jurnalis asal Italia dan pengamat politik berusia 63 tahun. Dia kini mencermati isu Korea Utara dan pengamatannya menyimpulkan ada perbedaan besar antara apa yang diberitakan media-media arus utama dengan realita sebenarnya tentang Korea Utara.
Dia punya pendapat bertolak belakang dengan media Barat. Napoleoni melihat Korea Utara adalah sebuah negara berkembang pesat yang ingin menjalin hubungan dengan dunia luar, bukan hanya terlibat dalam perekonomian global tapi juga mempunyai kekuatan di kawasan atau dunia internasional.
"Liputan media tentang pembangunan di Korea Utara sangat buruk. Jurnalis tampaknya tidak mengetahui sejarah Korea atau dinamika politiknya saat ini. Para politisi Barat juga banyak tidak tahu. Kim Jon-un menguasai permainan hingga dia dalam posisi di atas angin saat ini baik secara domestik maupun internasional. Pyongyang punya posisi jauh lebih kuat dari sebelumnya," kata Napoleoni kepada kantor berita Sputnik.
Loretta Napoleoni ©KonyvesBlog
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un selama ini dikenal sebagai sosok yang gemar mengekang dan menyiksa rakyat. Bahkan, sejumlah media Barat menyebut Jong-un sering mengeksekusi orang yang tidak dia senangi.
Cara pengeksekusian yang diberitakan media Barat bahkan terbilang cukup ekstrem. Mulai dari eksekusi yang dilakukan oleh regu tembak, dijadikan mangsa untuk anjing kelaparan, sampai dipanggang dengan cara dilemparkan ke bara api.
Namun segala pemberitaan itu sampai saat ini belum terbukti kebenarannya. Bahkan beberapa sosok yang dikatakan sudah dieksekusi malah ternyata masih hidup.
Faktor penting Kim Jong-un
Korut memulai tahun ini dengan berbagai sanksi internasional serta perang mulut dengan Washington, London, dan negara Barat lainnya. Namun Napoleoni meyakini tahun ini akan menjadi momen penting bagi Korut dan menjadi fase kunci pergeseran geopolitik jangka panjang di dunia yang menuju multi-kekuatan.
Faktor penting di balik pembangunan Korut ini tidak lain tidak bukan adalah Kim Jong-un, kata Napoleoni. Media Barat sempat meragukan kemampuannya ketika dia menjadi pemimpin Korut pada 2011. Napoleoni meyakini Kim adalah sosok politikus yang mumpuni dan memperlihatkan kemampuannya selama ini.
"Dia orang pragmatis dan punya visi berbeda tentang dunia, sangat berbeda dengan para pendahulunya. Tidak seperti Kim Il-sung yang berperang melawan kolonialisme atau Kim Jong-il yang besar di tengah Perang Dingin, Kim Jong-un adalah angkatan milenial. Dia paham globalisasi dan kian menyadari dikotomi antara Perang Dingin Timur/Barat kini sudah tidak berlaku lagi. Untuk bertahan, Korut harus tumbuh secara ekonomi dan ini sudah menjadi pesan Kim sejak awal," jelas Napoleoni.
Kim Jong Un di acara Kongres Serikat Anak Korea ©2017 REUTERS/KCNA
Menurut data Bank Sentral Korea Selatan, pada 2016 PDB Korut meningkat sebanyak 3,9 persen, didorong terutama oleh sektor tambang dan energi dengan pertumbuhan paling tinggi selama 17 tahun terakhir.
"Sejarah memperlihatkan sistem China, tidak seperti Soviet terdahulu, cukup memadai untuk direformasi. Pertanyaannya, apakah Pyongyang akan mengikuti jejak Beijing atau Moskow? Saya cukup yakin Korut akan mengambil langkah China, setidaknya mereka sudah memperlihatkan kemampuan luar biasa ketika beradaptasi dengan kondisi baru di masa lalu," kata Napoleoni.
Lebih dari itu, Kim juga menempatkan perempuan di garis depan pemerintahannya dengan menampilkan istrinya, Ri Sol Ju, dan adiknya, Kim Yo Jong, untuk menyampaikan pesan jelas kemampuan Korut mengambil langkah independen, berseberangan dengan harapan sekutu terbesarnya, China. Korut di bawah kepemimpinan Kim, bertahan mengejar kepentingannya sendiri tanpa terpengaruh kekuatan mana pun.
Napoleoni berpendapat, makin hangatnya hubungan Korut-Korsel belakangan ini memperlihatkan penerimaan Korsel terhadap tampilnya Korut di tataran dunia yang lebih luas. Setidaknya Korut tidak akan menyerahkan senjata nuklirnya selama Barat masih berambisi dengan pergantian rezim di Pyongyang.
"Presiden Rusia Vladimir Putin paling memahami orang Korut. Pada September 2017 ketika bertemu Presiden Xi Jinping di Xiamen, China, dia menegaskan sanksi terhadap Korut akan percuma dan tidak efektif. Rakyat Korut lebih memilih makan rumput ketimbang meninggalkan program nuklir mereka. Kalau dunia internasional secara tulus ingin Korut membaur di komunitas internasional maka pembangunan ekonomi mereka harus didukung," papar Napoleoni.
Baca juga:
Tentara wanita Korea Utara ungkap kekerasan seksual di barak
Bujuk Korut akhiri program nuklir, Korsel segera kirim utusan untuk diskusi
Kim Jong Un dan ayahnya gunakan Paspor Brasil untuk kunjungi negara-negara Barat
Penyidik PBB sebut Korut kirim pasokan senjata kimia ke Suriah
Pembelot sebut pemandu sorak Korut di olimpiade budak seks Kim Jong-un