Sindir pemerintah, aktivis muslim dan HAM buka puasa di Menara Trump
Warga muslim dan aktivis hak asasi di New York menganggap pemerintahan Trump diskriminatif terhadap orang yang berbeda ras dan keyakinan.
Sekitar 450 pegiat muslim dan aktivis hak asasi di Kota New York, Amerika Serikat, menggelar unjuk rasa di depan Menara Trump. Namun, mereka tidak melakukan demonstrasi dengan orasi atau membentangkan poster dan spanduk, tetapi memilih menggelar buka puasa bersama.
Dilansir dari laman Reuters, Jumat (2/6), protes itu digagas oleh organisasi Islam, MPower Change, bersama dengan Yayasan Aksi Imigrasi Negara Bagian New York dengan menggelar buka puasa bareng di depan Menara Trump di Manhattan. Mereka duduk-duduk di jalanan sejak pukul 19.30 waktu setempat hingga tiba waktu berbuka pukul 20.22.
Menurut Direktur kampanye MPower Change, Muhammad Khan, buka puasa di Menara Trump dilakukan sebagai bentuk reaksi karena pemerintahan Negeri Abang Sam penuh dengan pernyataan dan kebijakan tidak mencerminkan keberagaman. Salah satu contohnya seperti larangan warga dari sejumlah negara mayoritas Islam memasuki negara itu.
"Melalui pernyataan dan kebijakan, pemerintahan Trump berusaha menghapus orang Islam dan warga kulit berwarna dari masyarakat," kata Khan.
Aksi buka bersama di depan Menara Trump menurut Khan adalah sebagai simbol supaya Trump melihat kalau warganya dari berbagai latar belakang, etnis, ras, dan agama bisa rukun dan bersatu.
Buka puasa bersama di depan Menara Trump adalah aksi pertama MPower Change dalam rangkaian kampanye bertajuk 'Buka puasa bersama di jalan' digelar selama Ramadan tahun ini. Hal itu juga buat menggugah komunitas muslim di AS supaya memanfaatkan Ramadan memperkuat silaturahim dan mencari jalan keluar permasalahan di sekitar mereka.
Aksi lanjutan bakal digelar lembaga nirlaba itu adalah buka puasa bersama di Los Angeles. Mereka menyatakan hal itu buat mendukung Rancangan Undang-Undang Suaka Negara Bagian California dan Undang-Undang Nilai California.
RUU Suaka diharapkan memberi mencegah aparat keamanan di seluruh California melakukan mendeteksi, menangkap, menginterogasi, menyelidiki, dan menahan seseorang karena alasan keimigrasian. Sedangkan Undang-Undang Nilai California melarang pemerintah negara bagian melakukan deportasi massal.
Sebelumnya, Trump sempat menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa saat Ramadan, tetapi selalu menyinggung soal terorisme dan keamanan nasional. Sedangkan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, menyatakan negara tidak bakal menggelar acara apapun terkait Ramadan tahun ini.
Baca juga:
China larang nama Islami bagi umat muslim Uighur
Mahasiswi Indonesia dipaksa lepas jilbab di Italia
Pengadilan Hungaria cabut larangan pembangunan masjid dan burka
Masjid ditutup, ratusan muslim Prancis salat Jumat di jalan raya
Orang tua murid di Inggris larang anaknya belajar agama Islam