LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Sinagoge Musmeah, sisa komunitas Yahudi Myanmar

Setelah junta militer berkuasa, hanya satu keluarga Yahudi masih tersisa.

2012-03-14 16:08:02
Myanmar
Advertisement

Sebuah kawasan pertokoan di Ibu Kota Yangon, Myanmar, menyimpan sejarah panjang toleransi antarumat beragama. Tepat di sudut Jalan 26th nomor 85, berdiri sinagoge, rumah ibadah Yahudi, satu-satunya di negara junta militer itu. Namanya Musmeah Yeshua.

Di dalam sinagoge, Moses Samuels sedang membersihkan altar dan kursi-kursi. Cuma dia dan keluarganya, bersama segelintir warga ekspatriat di Myanmar yang masih beribadah di tempat itu. Jumlah mereka tidak sampai 20 orang.

Menurut laporan majalah the Economist, Selasa (13/3), saat penjajah Inggris berkuasa di Myanmar, komunitas Yahudi sempat berkembang pesat. Pada awal abad ke-20, jumlah Yahudi mencapai 3.000 orang. Seorang Yahudi bahkan pernah menjadi wali kota Yangon.

Uniknya, komunitas Yahudi terbentuk bukan karena pendatang asal Inggris, melainkan oleh pedagang dari Irak. Mereka hadir di Myanmar awal abad ke-19. Perintis Yahudi itu baru membangun sinagoge Musmeah pada 1890.

Lingkungan di sekitar sinagoge amat beragam dari segi agama. Di sebelah timur berdiri madrasah Sunni. masjid jami' Yangon ada di ujung jalan. Kuil Hindu dan Budha berada di balik kawasan pertokoan. Tidak kurang, gereja Anglikan dibangun di distrik yang sama.

Warga Yahudi dikabarkan akur dengan penduduk muslim yang rata-rata imigram asal Gujarat, India. Peruntungan mereka buyar ketika tentara Jepang menduduki negara itu di Perang Dunia II.
 
Orang-orang Yahudi dianggap antek Inggris. Mereka dibunuh atau diusir dari negara itu. Tinggal tersisa 500 keluarga Yahudi yang nekat bertahan. Kakek Moses termasuk beruntung karena lolos dari sergapan tentara Jepang.

Nasib mereka buyar sepenuhnya saat para jenderal mengambil alih kekuasaan pada 1962. Seluruh warga asing diusir. Toleransi agama hilang karena mayoritas penganut Budha menindas umat-umat lain. Kelompok Kristen-Kachin di utara Myanmar atau suku muslim Rohingyas sama-sama ditindas oleh Junta Myanmar, seperti kelompok Yahudi.

Keluarga Moses bisa bertahan di Myanmar karena berdagang perabotan yang kebetulan disukai para jenderal. Kini, Moses berupaya menjaga kelangsungan sinagoge itu.

Saat Topan Nargis melanda Yangon sembilan tahun lalu, umat antaragama berkumpul dan berdoa bersama di Musmeah Yeshua. Kini, Moses dan umat agama minoritas di Myanmar menanti janji pemerintah yang akan menjamin kebebasan beragama.

Setahun terakhir, Myanmar sedang mengubah citra negaranya yang selama ini dikenal otoriter. Junta menggelar pemilihan umum dan melepaskan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi dari tahanan rumah.(mdk/fas)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.