Sesulit Itukah Trump Menerima Kekalahan?
Naiknya Trump ke tampuk kekuasaan dengan sifatnya yang cenderung otoriter membuat dia hampir tidak mungkin menerima kekalahan secara elok dari pesaingnya, Joe Biden.
Dengan kekalahannya dalam pemilu Amerika Serikat tahun ini Donald Trump menjadi sosok yang selama ini kerap dia sematkan kepada para pesaingnya: pecundang.
Kubu Partai Republik kini tengah mengajukan gugatan hukum di sejumlah negara bagian yang persaingannya ketat, meski hingga kini para pengacara mereka masih belum memberikan bukti substansial tentang terjadinya kecurangan dan para pengamat menilai pengadilan bisa dengan mudah menolak gugatan mereka.
Di sisi lain sejumlah ahli kejiwaan dan akademisi memandang, naiknya Trump ke tampuk kekuasaan dengan sifatnya yang cenderung otoriter membuat dia hampir tidak mungkin menerima kekalahan secara elok dari pesaingnya, Joe Biden.
Situasi ini, menurut para ahli bisa membuat keadaan negeri selepas pemilu sebelum pelantikan Biden Januari nanti menjadi penuh kecemasan.
Dilansir dari AFP, Selasa (10/11), Ruth Ben-Ghiat, profesor sejarah dari Universitas New York mengatakan kepada AFP, Trump ingin menciptakan model kepemimpinan otoritarian dalam menjalankan kursi kepresidenan berdasarkan "arogansi, brutalitas, dan ide bahwa dia harus selalu dibela dari musuh-musuhnya."
"Sangat mudah untuk mengklaim pemilu ini seluruh prosesnya adalah kecurangan dibanding menerima kenyataan bahwa kebijakan dia membuat orang justru menentangnya dan itu sudah cukup untuk membuat dia kalah," ujar Ben-Ghiat yang akan meluncurkan buku barunya: "Strongmen: Mussolini to the Present."
Ditinggalkan pendukung
"Kita harus sangat waspada untuk mengantisipasi apa yang akan dia lakukan dengan semangat mendendam dalam beberapa bulan ke depan."
Kesimpulan semacam itu disampaikan John Gartner, psikolog asal Baltimore yang bersama para ahli kejiwaan lain sudah memperingatkan bahwa Trump adalah sosok "narsis yang jahat".
Orang dengan karakter macam ini, kata Erich Fromm, kerap memperlihatkan narsisnya, antisosial, gangguan kepribadian, paranoid, dan sadisme.
Gartner mengatakan dia khawatir Trump tetap berusaha mengejar keinginannya dengan segala macam cara untuk mengatasi kekalahannya.
Namun dia juga menilai sang presiden kini sudah kian ditinggalkan oleh para pendukungnya.
Bagi Mary Trump, keponakannya yang kerap cukup vokal mengkritik dia, keputusan Trump yang menyatakan dirinya sebagai pemenang pemilu dan menuduh lawannya berbuat curang adalah bentuk keputusasaan dan dia tidak terbiasa dengan situasi itu.
"Donald belum pernah dalam kondisi di mana dia tidak ada yang membelanya, tidak ada yang mau menyelamatkannya," kata Mary yang juga seorang psikolog klinis dan pernah menulis sebuah memoar tentang Trump.
Produk ayahnya
Dalam bukunya dia menyebut Trump adalah produk dari ayahnya, Fred Trump, "sosiopat" yang menciptakan suasana kehidupan rumah tangga yang traumatis dan penuh kekerasan.
Trump membangun citranya sebagai sosok pemenang di dunia real estate New York dan kemudian di acara The Apprentice yang memperlihatkan dia sebagai sosok pengusaha bernaluri tajam meski sejumlah perusahaannya juga mengalami kebangkrutan.
Pada 2015 dia terkenal dengan perkataannya yang menjuluki senator John McCain "pecundang" dan berkomentar soal veteran Vietnam dan mantan tahanan perang dengan kata-kata "Saya lebih suka tentara yang tidak tertangkap."
Beberapa pekan sebelum pemilu, Trump mengatakan kepada para pendukungnya di Georgia, Biden adalah "kandidat terburuk dalam sejarah politik kepresidenan."
"Bisa Anda bayangkan kalau saya kalah dari dia?" umbar Trump seraya menambahkan, "Mungkin saya harus meninggalkan negeri ini?"
(mdk/pan)